JAKARTA, HETANEWS.com - WHO mengungkap sedang mengumpulkan bukti agar bisa dilakukan penyelidikan atas dugaan kejahatan perang oleh Rusia terhadap serangan ke fasilitas kesehatan di Ukraina. WHO mengklaim telah mengantongi sejumlah data.

Direktur bidang kedaruratan WHO Mike Ryan dan Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pihak yang bertikai selayaknya bertanggung jawab dan menghindari serangan ke fasilitas kesehatan. Saat ini, WHO telah mendokumentasikan 200 serangan terhadap rumah sakit dan klinik di Ukraina.

"Serangan yang disengaja terhadap fasilitas kesehatan adalah pelanggaran hukum humaniter internasional. Dengan demikian, berdasarkan penyelidikan dan atribusi serangan, ini merupakan kejahatan perang dalam situasi apa pun," kata Ryan dalam jumpa pers saat lawatan ke Kyiv pada Sabtu, 7 Mei 2022, dikutip Reuters.

Sebuah truk pemadam kebakaran terlihat di lokasi setelah pengeboman di sebuah rumah sakit, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Lyman, wilayah Donetsk, Ukraina 22 April 2022. Pavlo Kyrylenko/via REUTERS

Ryan menyatakan, WHO terus mendokumentasikan dan siap menjadi saksi atas serangan-serangan tersebut. Dia menambahkan, sistem PBB, Pengadilan Kriminal Internasional, dan institusi terkait lainnya, akan melakukan investigasi yang diperlukan untuk menilai maksud kriminal di balik serangan ini.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan oleh Ukraina dan negara-negara Barat tentang dugaan kejahatan perang. Moskow juga sebelumnya kerap membantah menargetkan warga sipil dalam perang.

Ryan mengatakan 200 kasus yang disebutkan itu tidak mewakili totalitas serangan terhadap fasilitas medis Ukraina, namun hanya yang telah diverifikasi oleh WHO. Kyiv mengatakan ada sekitar 400 serangan semacam itu sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Presiden Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada Kamis, 5 Mei 2022, pasukan Rusia telah menghancurkan atau merusak hampir 400 institusi kesehatan di Ukraina. Sedangkan Tedros mengatakan WHO mendukung Ukraina sepenuhnya.

"Kami terus menyerukan kepada Federasi Rusia untuk menghentikan perang ini," katanya.

Sebuah dokumen yang diperoleh Reuters menunjukkan pada Kamis lalu, bahwa negara-negara anggota WHO pada Selasa, 10 Mei 2022 akan mempertimbangkan resolusi terhadap Rusia yang mencakup kemungkinan penutupan kantor regional utama di Moskow.

Tiga sumber diplomatik dan politik menyebut, rancangan resolusi itu sendiri tidak dapat memberikan sanksi yang lebih keras seperti penangguhan Rusia dari dewan badan kesehatan global PBB, serta pembekuan sementara hak suaranya.

Rancangan tersebut, sebagian besar disiapkan oleh diplomat Uni Eropa dan diserahkan ke kantor regional WHO minggu ini. Langkah itu mengikuti permintaan Ukraina yang ditandatangani oleh setidaknya 38 anggota lainnya termasuk Turki, Prancis, dan Jerman.

Moskow menyebut tindakannya sejak 24 Februari sebagai "operasi militer khusus" untuk melucuti senjata Ukraina dan menyingkirkan nasionalisme anti-Rusia rezim Kyiv. Negara-negara Barat bereaksi keras dengan memberlakukan sanksi dan isolasi di forum internasional.

Sumber: tempo.co