JAKARTA, HETANEWS.com - Harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) termasuk Pertamax memperhitungkan pengadaan impor minyak mentah yang dibeli PT Pertamina (Persero) dengan harga pasar sehingga biaya produksi akan meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah global.

"Sejak 2008 kita resmi keluar dari keanggotaan OPEC karena sudah menjadi net importir. Produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan sehingga harus impor. Harga BBM saat ini mahal karena harga minyak mentahnya sedang tinggi," kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro dalam diskusi dengan media secara virtual di Jakarta, Selasa (19/4/2022).

Sebelumnya muncul perbincangan di media sosial terkait tudingan bahwa harga jual Pertamax terlalu tinggi. Harga BBM dengan kadar oktan (RON) 92 itu tanpa pajak seharusnya Rp 3.772 per liter, jauh di bawah harga saat ini Rp 12.209 per liter.

Komaidi menilai, tudingan tersebut salah kaprah. Hal ini mengacu pada klaim pihak yang yang menyebutkan bahwa produksi minyak mentah hanya Rp 1.772 per liter. Padahal harga internasional per Maret 2022 mencapai Rp 10.209 per liter.

"Asumsi harga minyak mentah US$ 19,5 per barel itu cost production dari salah satu lapangan, bukan harga jual minyak mentah. Acuannya sudah jelas, domestik itu ICP (harga minyak mentah Indonesia). Harga ICP Maret US$ 113 per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2022 yang US$ 63 per barel," ujarnya.

Menurut Komaidi, konsumsi BBM saat ini 1,6 juta barel per hari (bph). Namun, produksi minyak mentah yang diolah jadi BBM kurang 750.000-an bph.

"Dari total produksi itu, kita hanya dapat sekitar 480.000-an bph karena sebagian digunakan sebagai cost recovery, dikembalikan ke kontraktor sebagai bagi hasil," ungkap dia.

Komaidi menilai untuk mengetahui keekonomian harga BBM yang lebih adil (fair), perhitungan perlu menyeluruh mencakup harga minyak internasional dan domestik. Biaya produksi hanya bagian dari harga jual.

Ada komponen biaya lain yang sama seperti negara lain. Salah satunya adalah harga minyak global, biaya pengolahan/pengilangan, biaya distribusi serta transportasi, termasuk penyimpanan dan lain-lain.

"Selain itu, ada pajak dan margin badan usaha," ujarnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti itu menyebutkan komponen harga minyak mentah relatif sama karena harga internasional. Namun, komponen lainnya bisa berbeda tiap wilayah, bahkan ada yang di satu negara berbeda-beda.

Ia mencontohkan biaya pengilangan di Balongan dan Cilacap beda, konsekuensinya biaya juga beda. Pajak juga beda. Belum ditambah perbedaan pada biaya transportasi distribusi.

"Kalau mau fair kita hitung menyeluruh sekian persen acuan harga internasional dan domestik. Namun bedanya tidak jauh. Misalnya domestik ICP. Itu kalau dibandingkan WTI, ICP lebih mahal karena kualitasnya di atas Brent," katanya.

Komaidi mengungkapkan jika harga BBM sebesar Rp 14.300 per liter, untuk pengadaan minyak mentahnya saja bisa Rp 10.244 per liter. Dalam kalkulasi Komaidi, 1 barel minyak terdiri atas 159 liter, tetapi tak seluruh minyak mentah jadi BBM.

“Artinya, dari 1 liter minyak mentah, yang jadi BBM hanya 0,85 liter. Sisanya residu, seperti aspal dan lain-lain. 1 barel minyak mentah riilnya jadi BBM 135 liter, bukan 159 liter,” katanya.

Sumber: beritasatu.com