HETANEWS.com - Polisi dari Polres Siantar mengamankan sedikitnya 3 orang warga sipil yang protes saat pemasangan plang dan batas wilayah oleh pihak PTPN III Kebun Bangun di Kelurahan Gurilla, Siantar Sitalasari, Kamis (31/3/2022).

Protes dari warga setempat berlangsung secara spontanitas dimulai sejak pukul 10.00 WIB.

Saat itu ratusan personil polisi dan TNI diturunkan untuk mengawal pemasangan patok batas wilayah dan pemasangan sebuah plang oleh pihak kebun.

Puncaknya sekitar pukul 15.10 WIB, warga yang didominasi Ibu ibu itu mencoba menghalau lalu menduduki plang berbahan besi dan bercat kuning itu.

Pantauan di lokasi, warga tetap ngotot menolak pemasangan plang, sementara pihak kebun memaksa memasang plang itu didirikan, hingga nyaris terjadi saling dorong.

Keributan mulai mereda setelah 2 Ibu ibu dan 1 pria dewasa diamankan saat protes. Ketiganya dibawa menggunakan mobil polisi meninggalkan lokasi.

Perlawanan warga setempat dengan pihak kebun bukan kali pertama. Sedikitnya peristiwa serupa sudah pernah terjadi beberapa waktu lalu.

Namun kali ini pihak kebun meminta pengawalan yang begitu ketat, sementara warga sipil yang dihadapi mayoritas Ibu ibu yang berlatar petani dan buruh tani.

Tak ada mediasi

Dari aksi penolakan yang dilakukan puluhan warga ini, terlihat emosi warga setempat terpancar dari ucapan dan tindakan.

Bahkan diantaranya siap mati dan dipenjara, demi mempertahankan pemukiman yang sudah dihuni sejak belasan tahun lalu.

“Kalau sekarang mati mati pun jadilah. Ini semua demi masa depan anak anak kami. Kemana lagi kami tinggal,” kata seorang pria mengenakan topi yang bertempat tinggal di lokasi pemasangan plang.

Begitupun tak ada upaya mediasi yang dilakukan untuk mencari jalan keluar selama adanya perlawanan dari warga.

Ketua Forum Petani Sejahtera Indonesia [Futasi] enggan memberi penjelasan secara mendetail saat dikonfirmasi mengenai adanya warga yang menduduki lahan pihak kebun.

Menurutnya, pemberitaan media acap kali menyebar isu miring seolah olah menyalahkan warga dan membela pihak kebun.

“Banyak media yang beritanya miring. Mereka kadang disuruh pihak kebun,” ucapnya.

Saat disinggung mengenai apa yang menjadi permintaan dari warga saat aksi penolakan itu, pria yang baru menjabat sebagai Ketua Futasi ini dilarang berbicara ke wartawan oleh seorang wanita yang berlatar pengurus Futasi dan Pengacara.

“Kau nggak usah ngomong kek gitu ke media,” ucap wanita itu seraya menghentikan wawancara wartawan dengan ketua Futasi.

Menduduki lahan kebun

Informasi dihimpun dari lokasi, kurang lebih sekitar 150 rumah penduduk menduduki lahan PTPN III Kebun Bangun Afdeling IV di Kelurahan Gurilla, Siantar Sitalasari, Kota Siantar.

Mayoritas penduduk yang tinggal bekerja sebagai petani, buruh tani dan mengelola lahan dengan bercocok tanam.

Pendudukan lahan oleh warga dikatakan hampir belasan tahun lalu. Ada warga yang mengaku sudah bertempat tinggal sejak 18 tahun silam.

Begitupun tidak diketahui bagaimana asal usul warga yang mulai menduduki lahan tersebut hingga saat ini.

Dilain sisi, rumah rumah yang didirikan oleh warga beragam bentuknya. Mulai permanen dan semi permanen. Sejak ada upaya penggusuran ini tidak sedikit warga yang menjual rumah dan pindah dari lahan tersebut.