SIANTAR, Hetanews.com - Restorative Justice (RJ) dalam kasus narkotika dengan cara melakukan rehabilitasi terhadap pelaku, diharapkan jangan menjadi "alat" oleh Aparat Penegak Hukum (APH). Harus benar benar selektif dan jeli melihat kasus yang ada.

Seperti dalam kasus Mangara Sakkot Sihombing, sejak ditangkap langsung dilakukan rehabilitasi oleh Polres Siantar, karena kepemilikan 2 paket narkotika jenis sabu yang hanya 0,13 gram. Ia ditangkap di depan rumahnya jalan Pendidikan Siantar Utara pada Jumat 10 Desember 2021.

Saat akan masuk ke dalam rumahnya disita sepaket sabu dalam kaleng, pipa kaca,tutup botol Aqua yang dilubangi. Sepaket sabu diakui baru saja di Eli dari orang yang disebut LAE di Terminal Perluasan seharga Rp 100 ribu.

Terdakwa diketahui baru saja keluar dari penjara sejak divonis hakim PN Siantar pada Kamis,11 Agustus 2016 lalu selama 5 tahun denda Rp.800 juta subsider 6 bulan penjara dalam kasus yang sama. 

Pada tahun 2016 tersebut, terdakwa juga baru keluar dari penjara atas hukuman sebelumnya di Pengadilan yang sama pada 4 Maret 2015. Ia dituntut 1,6 tahun dan divonis 1 tahun. 

Sesuai catatan wartawan hetanews.com dan juga informasi yang bisa di update dari Sipp PN Siantar, terdakwa sudah keluar masuk penjara, tahun 2014, tahun 2016 dan tahun 2022.

Dalam kasus yang ke-3 kalinya tersebut, JPU Ester Lauren Harianja SH menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan rehabilitasi di Lapas Kelas IIA Siantar dikurangi sepenuhnya dengan masa rehabilitasi yang telah dijalani . 

Tuntutan jaksa tersebut dibacakan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Senin (14/4/2022). Sejak di penyidik dan JPU,m, status terdakwa direhabilitasi di Yayasan Mercusuar Doa dan dibawa ke pengadilan setiap kali akan disidangkan.