SIANTAR, hetanews.com - Horas Sianturi yang merupakan salah seorang pengacara kembali dilaporkan dengan dugaan penggelapan surat berharga, dimana pelapornya yakni Mariana ke Polres Siantar dan Polres Simalungun.

Adapun pelapor Mariana melalui pengacaranya Romi Tampubolon SH menyampaikan kasus ini berawal dari konflik keluarga antara Mariana dan kakaknya Marwati Salim. Saat konflik terjadi, Marwati sempat memakai jasa Horas Sianturi untuk menyimpan surat-surat berharga untuk dijual.

“Marwati Salim memakai jasa Horas Sianturi. Horas diberi kuasa untuk dijual. Namun terjadi perdamaian antara Marwati Salim dan Mariana. Saat itu ada 5 sertifikat yang dipegang beliau (Horas). Namun tinggal dua yang belum dipulangkan,” kata Romy Tampubolon, Kamis (10/2/2022).

Romy menuturkan, setelah kakak beradik itu berdamai, mereka meminta surat-surat tersebut kepada Horas Sianturi secara baik-baik. Namun belum ada itikad baik dari pegiat kolom kosong di Pilkada Siantar tahun 2020 itu.

“Ada dua sertifikat yang belum dikembalikan Horas. Karena surat sertifikat tersebut atas nama Mariana,” kata Romi.

Romi menjelaskan kedua surat tersebut yaitu Sertifikat Hak Milik (SHM) Ruko di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar dan penggelapan rangka besi padat di sebuah gudang yang berada di Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun.

“Pasal 372 yaitu penggelapan terhadap surat, yang mana surat dari klien kita ini ada dua lembar dipegang oleh Horas Sianturi. Pertama, SHGB Nomor 4 di Kelurahan Sinaksak, yaitu penjualan rangka besi padat dan kedua, SHM Nomor 520 di Jalan Cokroaminoto Kota Pematangsiantar,” ujar Romy.

Romy menuturkan selama surat kuasa jual beli disimpankan kepada Horas, Horas banyak melakukan perubahan secara semena-mena pada aset tersebut. Di Ruko Jalan Cokroaminoto misalnya, Horas membenahi fisik bangunan tersebut tanpa sepengetahuan kliennya.

“Dia tidak memberitahukan berapa rangka besi yang dijual. Makanya kita laporkan dia secara resmi. Klien saya mengalami kerugian Ro 200 juta sementara penggelapan terhadap sertifikat ruko tersebut klien kita merugi Rp 8 miliar,” kata Romy

Terakhir, Romy menyampaikan, hak retensi terhadap Horas Sianturi telah dibayarkan sebesar Rp 135 juta dan kuasanya telah dicabut sesuai prosedur yang benar.

Sementara itu, Horas Sianturi yang dimintai tanggapannya terkait laporan yang diarahkan kepada dirinya mengatakan pihaknya hanya menjalankan proses

“Artinya waktu mereka di kantor, apa yang menjadi hak mereka dan apa yang menjadi hak kita diselesaikan dulu. Kita kan ada akta notarisnya. Ini masih dalam koridor-koridor kita sebagai lawyer,” ujar Horas yang juga dikenal sebagai advokat ini via sambungan WhatsApp.

Horas menuturkan, ada biaya yang harus memang ditanggung klien Marwati Salim kepada teman-teman lawyer yang sempat dipakai jasanya. Perbuatannya menahan surat lantaran belum ada hak lawyear yang dipenuhi.

“Kita menghormati setiap prosedur hukum. Ini masih tugas tugas kita sebagai kuasa hukum. Kalau apa yang menjadi hak mereka dan menjadi hak kita di-Clear kan nggak ada masalah. Kita akan tempuh jalur hukum tapi kita lihat lah dulu,” tutupnya.