LABUHAN BAJO, HETANEWS.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas serta kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata yang berada di Desa Rangko, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ada empat hal yang menjadi catatan Menparekraf Sandiaga berkaitan dengan pengembangan destinasi dan infrastruktur di desa tersebut. Pertama, perlu membuat jalan setapak untuk memudahkan masyarakat ataupun wisatawan dalam melakukan aktivitas.

Kedua, perbaikan infrastruktur jembatan menuju ke dermaga, yang saat ini jembatan tersebut sudah tidak layak pakai dan tidak aman.

Ketiga, perlunya program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM, bagi ibu-ibu desa, agar produk ekonomi kreatif yang dihasilkan memiliki nilai tambah, sehingga mampu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat.

Serta keempat, memperluas jaringan atau koneksi internet, karena di Desa Rangko jaringan internetnya masih terbilang sulit.

Untuk mengatasi hal tersebut, Menparekraf Sandiaga mengatakan Kemenparekraf melalui Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) akan berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna mempercepat proses pengembangan Desa Rangko dengan program yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu sehingga mendukung dalam percepatan kebangkitan ekonomi.

“Ada tiga masalah utama yang menjadi fokus kami. Pertama adalah dermaga yang sudah tidak layak, akan coba dibantu oleh Pak Denny (Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah III Prov NTT, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR. Dan Mbak Shana (Direktur Utama BOPLBF), perlu menghadirkan pelatihan UMKM untuk ibu-ibu di sini karena tadi ada permintaan,” kata Menparekraf, usai meninjau Desa Rangko, Jumat (28/1/2022).

“Kedua adalah jalan setapak, saya berikan tugas kepada Pak Kades untuk membangun jalan setapak. Sementara, saya tugasnya untuk jaringan, saya akan berhubungan langsung dengan Pak Johnny G. Plate (Menkominfo) bersama Pak Vinsen (Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf),” lanjutnya.

Menparekraf Sandiaga juga mengusulkan untuk mendirikan satu atau dua homestay di Desa Rangko, agar wisatawan yang datang bisa bermalam di desa. Setelah ada peningkatan, baru akan diperbanyak dan jika memungkinkan bisa masuk ke dalam program sarhunta KemenPUPR.

“Jadi mudah-mudahan Pak Denny bisa meyakinkan teman-teman untuk berkolaborasi. Pokoknya kita carikan solusinya, karena yang membangun bisa siapa saja, tapi lead-nya ada di PUPR, karena kita sudah melihat begitu banyak fasilitas penunjang pariwisata yang dihadirkan oleh PUPR,” kata Sandiaga.

Salah satu yang menjadi daya tarik wisata di Desa Rangko adalah Gua Rangko. Gua ini sering disebut sebagai Goa Buaya, meskipun tidak ada buaya ditemukan di sekitarnya.

Arsitektur karya alam pada gua ini bisa menjadi pemandangan yang tentunya menyejukkan mata. Wisatawan yang datang bisa berenang di dalam Gua Rangko. Air yang berada di gua ini adalah air asin yang diduga berasal dari air laut, yang masuk di antara celah gua yang membuat air laut terhubung dengan kolam.

“Karena G20 ini sudah menghitung bulan, Juni adalah side event pertama di sini. Jadi saya ingin Gua Rangko ini menjadi tujuan utama dari side event G20 yang akan dilakukan dan untuk ASEAN Summit 2023 Gua Rangko ini juga menjadi destinasi andalan,” harap Sandiaga.

Dalam kesempatan itu, Menparekraf Sandiaga juga melihat pembangunan proyek sistem kabel laut pendeteksi dini tsunami yang sudah 80 persen rampung. Menurutnya destinasi pariwisata perlu tanggap terhadap bencana. Dan tsunami ini merupakan potensi yang perlu kita mitigasi.

“Saya sangat mengapresiasi dan mudah-mudahan ini menjadi pendeteksi dari segala ancaman bencana tsunami. Dan pelatihan-pelatihan harus terus dilakukan dalam kesiapan dan ketanggapan bencana dari para anggota masyarakat di sini,” katanya.

Kepala Desa Tanjung Boleng, Hamsah Daud berpesan agar masyarakat di Desa Rangko dapat menjaga kebersihan dan keamanan, agar wisatawan yang hadir tetap merasa aman dan nyaman.

“Kebersihan adalah hal utama, tanpa kebersihan jelas tamu-tamu tidak akan datang,” katanya.

Turut mendampingi Menparekraf Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf Vinsensius Jemadu; Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah III Prov NTT, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Denny Surya Martha; Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatina; Kadispar Manggarai Barat, Pius Baut; dan Ketua Pokdarwis, Rasdie.