HETANEWS.com - Belum juga ada petunjuk soal kapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang akan terungkap hingga memasuki bulan ke-6, membuat publik bingung serta pesimis.

Belum juga terungkap seolah menjadikan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang itu bagaikan misteri. Sebab, sketsa yang dirilis Polda Jabar masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO.

Selama DPO belum tertangkap maka pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang dengan korban Tuti Suhartini dan Amel, akan jalan di tempat. Selama DPO belum tertangkap kasus akan terbongkar atau menguap begitu saja.

Publik dan pengamat yang selama ini rajin mengawal kasus pembunuh ibu dan anak di Subang juga jadi kebingungan. Apa yang harus mereka bahas lagi, karena tidak ada hal yang baru atau update yang disampaikan oleh tim penyidik Polda Jabar.

Kebingungan itu juga yang diakui Anjas melalui kanal Youtube Anjas di Thailand yang tayang pada Rabu 26 Januari 2022. Anjas seperti menghadapi dilema apa terus membahas kasus ini atau berhenti, karena tidak ada data terbaru yang disampaikan tim penyidik.

“Aku juga jadi dilemma lanjut atau berhenti. Soalnya banyak netizen yang mempertanyakan kok Anjas yang dibahas di situ-situ saja. Ya memang gak ada data terbaru yang disampaikan tim penyidik,” ujarnya.

Anjas mengakui dalam beberaoa hari terakhir tidak membahas kasus Subang karena ada pergolakan dalam hatinya. Soalnya apa yang harus lagi dibahas mengingat tidak ada data baru oal kasus pembunuh ibu dan anak di Subang yang keluar dari tim penyidik Polda Jabar.

Menurut Anjas, memasuki bulan ke-6 itu fokus kasus pembunuh ibu dan anak di Subang bukan lagi pada keterangan-keterangan saksi, karena mereka sudah memiliki akses ke media massa.

“Jujur secara pribadi kita gak fokus ke saksi-saksi seperti mereka yang punya akses ke media massa, tapi lebih ke gimana tim penyidiknya. Tapi, kita tidak mendengar ada update dari tim penyidik,” ujar Anjas.

Anjas memaparkan bahwa menurut undand undang untuk menentukan tersangka minimal ada 2 alat bukti.

“Namun di kasus Subang ini masa sih sulit padahal kita di media massa sudah jelas dan melihat ada beberapa petunjuk yang bisa dijadikan alat bukti, tapi masa sih malah merilis sketsa,” papar Anjas.

“Saya gak ngerti apakah itu sebuah tanda bahwa dengan merilis sketsa untuk segera menangkap pelaku atau tanda akhir dari kasus Subang,” papar Anjas.

Alasannya menurut Anjas, ada kasus yang kemudian berakhir setelah penyidik mengeluarkan sketsa karena DPO. Ditambahkan, ada dua sisi dengan rilis sketsa terduga kasus Subang yang dirilis polda pada 29 Desember 2021.

Sisi pertama adalah bahwa itu kabar baik atau sebuah pertanda bahwa tersangka kasus Subang akan segera terungkap. Namun pada sisi lain, apakah sketsa DPO ini sebagai tanda akhir dari kasus Subang.

Sebab, selama DPO belum bisa ditangkap maka kasus Subang seperti jalan di tempat atau kasus Subang menguap begitu saja.

“Tapi yang sedang dipertaruhkan tim penyidik bukan hanya Polda Jabar tapi intitusi kepolisian,” katanya.

Sketsa terpaksa dirilis Polda Jabar karena mereka mengakui kesulitan menemukan alat bukti yang bisa mengarah ke terduga kasus Subang tersebut.

Anjas menambahkan, dalam pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang sudah ada 7 saksi ahli, ratusan BAP dari total 69 saksi yang telah diperiksa, serta banyak warga dan sukarelawan yang membantu untuk mengungkap kasus ini. Kemudian ada hasil upaya berbasis ilmiah seperti sidik jari, DNA, jejak, 2 kali otopsi.

“Apakah dari semua itu tak ada sedikitpun yang mengarah ke terduga,” ujar Anjas.

“Apakah sehebat itu pelakunya? Kalaupun pelaku tidak sehebat itu, mungkin ada orang penting di balik kasus ini,” paparnya.

Orang penting yang dimaksud, menurut Anjas, apakah ada keterlibatan petugas di kasus Subang ini, ada ada orang yang punya posisi penting di daerah, atau peajbat penting terkait di yayasan Bina Prestasi Nasional dimana kedua korban menjabat sebagai pengurus.

Baca juga: Terkini Kasus Subang, Polisi Terus Dalami Pembunuh Ibu dan Anak, Humas Polda Jabar: Tersangka Masih Lidik

Sumber: deskjabar.pikiran-rakyat.com