JAKARTA, HETANEWS.com - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur akan kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana terorisme atas terdakwa Munarman, Rabu (26/1/2022) besok.

Adapun untuk agenda sidang besok, kata Humas PN Jakarta Timur, Alex Adam Faisal, masih mendengarkan keterangan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU).

"Masih (pemeriksaan) saksi dari JPU," kata Alex saat dikonfirmasi, Selasa (25/1/2022) malam.

Alex mengatakan, dalam sidang yang akan digelar pukul 09.00 WIB itu, jaksa rencananya akan menghadirkan sebanyak 4 orang saksi.

Kendati demikian, Alex tidak membeberkan keseluruhan identitas saksi tersebut, mengingat adanya peraturan khusus dalam persidangan tindak pidana terorisme.

"Rencananya 4 orang saksi (yang dihadirkan)," tukas Alex.

Jika merujuk pada persidangan sebelumnya, Senin (24/1/2022), keempat saksi tersebut merupakan para saksi yang sejatinya sudah disiapkan oleh jaksa pada sidang saat itu.

Hanya saja, karena keterbatasan waktu, akhirnya dari 5 saksi yang dihadirkan dalam sidang tersebut, baru saksi berinisial AM yang dimintai keterangannya. Sedangkan sisa saksi lainnya akan diperdengarkan keterangannya pada sidang esok hari.

Keterangan Saksi AM

Dalam kesaksiannya, AM menyatakan, kehadiran Munarman sebagai pemateri dalam agenda baiat berkedok seminar di Makassar pada 24-25 Januari 2015 silam itu menimbulkan kesan tersendiri bagi anggota FPI Makassar.

Bahkan kata AM, karena kehadiran eks Sekretaris Umum FPI itu, membuat para anggota FPI Makassar, memiliki keyakinan berlebih dalam berbaiat.

"Jadi betul sudah kami katakan demikian, dengan hadirnya beliau di dua acara tersebut itu membuat kami lebih mempunyai keyakinan ya kan," kata saksi AM dalam persidangan, Senin (24/1/2022).

Hal itu didasari karena kata dia, Munarman merupakan sosok yang dielu-elukan oleh para anggota FPI termasuk di Makassar, Sulawesi Selatan.

Nama Munarman yang menduduki posisi pimpinan di DPP FPI serta kerap kali muncul di media massa, membuat Eks Sekum FPI itu memiliki daya tarik tersendiri saat hadir di sebuah acara FPI.

Bahkan kata AM, setelah adanya baiat berkedok seminar kepada ISIS di Makassar itu beberapa anggota FPI sampai melanjutkan apa yang disebut dengan jihad.

"Akhirnya apa yang terjadi kami lanjutkan yang mulia, kami lanjutkan yang mulia acara kajian tersebut, dimana kajian tersebut setelah itu ya kan kita angkatlah semua masalah semua tentang jihad yang mulia seperti itu yang mulia," tutur dia.

Bahkan kata dia, atas adanya agenda untuk menyampaikan sumpah setia kepada pimpinan ISIS Syeh Abu Bakr al-Baghdadi di Makassar itu ada beberapa rekan hingga keluarganya yang turut terlibat dalam aksi pengeboman.

Sebab kata dia, setelah adanya ucapan ikrar sumpah setia atau baiat itu, keseluruhannya merasa lebih syar'i dan berani melangkah lebih jauh.

"Sampai temen-temen banyak yang melangkah lebih jauh, karena ini menganggap sudah syar'i yang benar, kalau ustaz mau tau ustaz, kalau saya Alhamdulillah masih ditangkap, nah kalau yang lain-lain, adik saya sudah melakukan bom bunuh diri (di Gereja Filipina)," beber AM.

Dalam perkara ini, Munarman didakwa menggerakkan orang lain untuk melakukan tindakan terorisme di sejumlah tempat dan dilakukan secara sengaja.

Jaksa menyebut eks Sekretaris Umum FPI itu melakukan beragam upaya untuk menebar ancaman kekerasan yang diduga bertujuan menimbulkan teror secara luas.

Munarman disebut telah terlibat dalam tindakan terorisme lantaran menghadiri sejumlah agenda pembaiatan anggota ISIS di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada 24-25 Januari dan 5 April 2015.

Atas perbuatannya, Munarman didakwa melanggar Pasal 14 Juncto Pasal 7, Pasal 15 juncto Pasal 7 serta atas Pasal 13 huruf c Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU juncto UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan atas UU 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Sumber: tribunnews.com