Siantar, Hetanews.com - Meliani (52), terpidana kasus pemalsuan surat yang menyebabkan kerugian korban 7 Milyar lebih berhasil ditangkap oleh Tim tangkap buronan (Tabur) Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) pada Kamis (20/1/2022) malam di rumah kontrakannya di kawasan Medan Amplas.

Demikian dikatakan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Pematangsiantar Rendra Yoki Pardede SH MH ketika ditemui wartawan, Jumat (21/1/2022) di kantornya. 

"Terpidana berhasil dieksekusi oleh Tim Tabur Kejatisu dari rumah kontrakannya di jalan Panglima Denai Gang Astara Kecamatan Medan Amplas (sesuai relis atau keterangan dari Kasi Penkum)," kata Rendra.

Meliani merupakan Manager SPBU PT Putra Tunas Sejati (PTS) yang berada di Jalan DI Panjaitan Pematangsiantar. Ia divonis bersalah karena telah terbukti melakukan pemalsuan Surat Kuasa dan Bon pembelian minyak oleh Pengadilan Negeri Pematangsiantar dan putusan Pengadilan Tinggi Medan ditingkat banding tahun 2020.

Sebelum penangkapan terhadap wanita ini, tim Tabur Kejatisu telah memantau keberadaan Terpidana lebih kurang 1 Minggu lamanya. Saat ditangkap, Meliani tidak melakukan perlawanan, jelasnya lagi 

Hukuman terpidana menjadi lebih berat lagi setelah mengajukan upaya hukum banding. Sebelumnya terpidana hanya dihukum 3 tahun 6 bulan di pengadilan negeri Pematangsiantar dan naik menjadi 5 tahun setelah banding.

"Berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi Sumatera Utara Nomor 1463/Pid/2019/PT.MDN tanggal 13 Januari 2020 yang mengubah Putusan Pengadilan Negeri Pematangsiantar No. 342 PID/B/2018/PN-PMS tanggal 5 November 2019, menjatuhkan Pidana Penjara 5 Tahun karena terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana "Pemalsuan Surat" sebagaimana diatur dalam Pasal 263 (1) KUHPidana," sebut Rendra.

Dengan menggunakan surat palsu tersebut, Meliana yang dipercayakan oleh saksi korban Aston Sinambela untuk mengelola SPBU miliknya, secara bebas dan leluasa melakukan pemesanan minyak dengan laporan fiktif dan menggunakan uang perusahaan untuk kepentingannya. Akibatnya PT PTS atau saksi korban Aston Sinambela mengalami kerugian hingga Rp. 7.326.660.000.

Dari Medan, terpidana langsung dibawa ke Kejaksaan Negeri Pematangsiantar setelah dilakukan serahterima dari Kejatisu ke Kejari Pematangsiantar diterima langsung oleh Kasi Pidum Edy Syahbudin Tarigan dan Kasi Intel Rendra Yoki Pardede.

Kejari Pematangsiantar langsung membawa terpidana Meliani ke Lapas Klas IIA Pematangsiantar. Dengan standar Prokes covid-19, terpidana lebih dulu menjalani Rapid antigen. 

Sebelumnya, Meliana dalam kasusnya sempat ditahan. Hanya saja saat mengajukan eksepsi dan putusan sela menyatakan jika dakwaan jaksa tidak cukup bukti dan terdakwa dibebaskan. 

Lalu jaksa mengajukan perbaikan dakwaan dan berhasil menyidangkan terdakwa dengan bukti bukti yang cukup. Terdakwa saat itu dituntut selama 5 t tahun penjara oleh jaksa Siti Martiti Manullang SH dengan status tidak ditahan. 

Sehingga setelah putusan incracht (berkekuatan hukum tetap), terdakwa berusaha melarikan diri sehingga ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang). Dan berhasil ditangkap dalam persembunyian di Medan.