JAKARTA, HETANEWS.com - Perbankan semakin gencar meluncurkan produk digital lending. Namun, bunga yang ditawarkan relatif lebih tinggi dibandingkan produk pinjaman konvensional.

Padahal, selama ini digitalisasi digadang-gadang bisa memberikan efisiensi. PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) menggandeng Indosat Ooredoo Hutchinson dalam menghadirkan layanan pinjaman online yang diberi nama UCan.

Adapun suku bunga kredit yang ditawarkan bank ini akan selalu di-review dan untuk saat ini ditawarkan bunga sampai 2,9% per bulan.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai tingginya bunga kredit ini terjadi karena biaya dana dari digital lending juga tergolong tinggi.

“Sehingga bunga kredit harus menyesuaikan. Yang efisien itu dari sisi operasional. Sedangkan meraup dana karena masih kecil, harus menarik dari sisi bunga dana pihak ketiganya,” ujar Trioksa kepada Kontan.co.id pada Kamis (20/1).

Lanjut ia, bunga kredit ini bisa turun, bila semakin banyak masyarakat mengalihkan dananya ke bank-bank digital. Sehingga, kelompok bank ini mampu menghimpun dana murah yang pada akhirnya akan mendorong penurunan bunga kreditnya.

“Bagi startup itulah tantangannya bagaimana mendapat kepercayaan dari masyarakat. Untuk itu, perlu dilakukan promosi atau bakar uang di awal-awal operasionalnya,” paparnya.

Memang DPK menjadi nyawa bagi perbankan dalam menyalurkan kredit. Bank yang kaya akan dana murah bisa memberikan bunga pinjaman yang lebih rendah.

Bank BRI bersama anak usahanya BRI Agro (Bank Raya) memiliki produk digital lending Pinang dengan bunga pinjaman 1,24% per bulan.

Hingga akhir September 2021, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp. 1.135,31 triliun, dimana 59,60% diantaranya merupakan dana murah. Pencapaian ini lebih baik dibandingkan CASA periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 59,02%.

Sumber: kontan.co.id