HETANEWS.com - Penyidikan kasus Subang sebentar lagi memasuki bulan kelima penyidikan. Namun hingga saat ini penyidik Polda Jabar belum juga mengumumkan tersangka pembunuhan tersebut.

Kasus Subang yang menewaskan Tuti Suhartini (55) dan anaknya, Amalia Mustika Ratu atau yang akrab disapa Amel (23) itu terjadi 18 Agustus 2021.

Untuk menemukan tersangka pembunuh Kasus Subang ini, penyidik kepolisian telah melakukan serangkaian proses penyidikan, mulai dari mememeriksa 69 saksi, tes DNA, autopsi jenazah dan menyebarkan sketsa tersangka ke masyarakat.

Kendati demikian, penyidik Polda Jabar hingga berita ini diturunkan, belum juga mengumumkan siapa tersangka kasus Subang tersebut.

Dan saat ini, segala macam opini masyarakat mulai berkembang terkait kasus Subang ini. Bahkan masyarakat terbelah menjadi pendukung dari para saksi yang “berseteru” di dunia maya, yakni Yosef, Yoris, dan Danu.

Pengamat kriminal, Anjas dalam kanal Youtube-nya Anjas di Thailand yang berjudul ““PENY1DIK & OPINI PUBLIK KEJADIAN SUBANG”, 16  Januari 2022 berharap penyidik segera mengumumkan nama tersangka dan tidak terpengaruh opini publik.

“Netizen kita gampang sekali tersetir sebagian, untuk terbawa background  cerita-cerita hidup yang mellow kemudian dijadikan topik dan itu membuat orang tersebut (saksi) yang walaupun diduga dia ada yang terlibat atau tidak , kita sudah sudah suka ya suka aja,” ungkap Anjas di kanal Youtube-nya, Minggu 16 Januari 2022.

Ia berharap masyarakat lebih bijak menilai kasus Subang ini dan jangan terjebak oleh pembentukan opini publik dari saksi-saksi di kasus ini. Ke depankan fakta hukum di atas opini publik.

“Kita boleh suka  dengan siapapun,  tapi pada saat kita bicara soal hukum, please hilangkan rasa suka atau tidak suka kita itu, dan fokus kepada fakta-fakta apa yang sedang diperdebatkan,” ucap Anjas.

Menurutnya, opini liar netizen karena upaya pembentukan opini publik dari masing-masing saksi akan sangat berbahaya.

“Ini yang bahaya, dan ini juga yang menurut aku menjadi salah satu indikasi atau yang menjadi kendala penyidik Polda Jabar ‘tidak pede’ atau ‘tidak berani’ mengumumkan sebenarnya sudah ada beberapa orang yang sudah diketahui ada indikasi ke sana ke sini, tapi tidak mau diungkapkan sekarang,” kata Anjas lagi.

Ia menegaskan, kemungkinan penyidik Polda Jabar belum mengumukan nama tersangka kasus Subang hingga saat ini karena ada ketakutan dari opini publik.

“Yah aku yakin sekali kalau penyidik ditanya apakah opini publik akan mempengaruhi fakta hukum atau manakah yang lebih penting fakta hukum atau opini publik, pasti akan dijawabnya fakta hukum adalah segalanya,” ujar Anjas.

Sebelumnya pakar Hukum DR Heri Gunawan menduga strategi yang disiapkan Polda Jabar dalam pengungkapan kasus Subang, mirip dengan pengungkapan kasus Medan. Yakni tangkap dulu eksekutornya baru otaknya yang merupakan orang terdekat korban.

Menurut dia, sketsa wajah yang disebar oleh Polda Jabar terkait Kasus Subang adalah eksekutornya. Orang terdekat atau siapapun yang jadi otak pembunuhan tidak akan ditangkap kalau eksekutornya belum ditangkap.

Sementara itu, Anjas juga mengajak masyarakat yang mengawal kasus ini untuk mendukung fakta hukum apapun yang diungkapkan atau diumumkan penyidik Polda Jabar.

“Apakah mereka (Polda Jabar) akan sanggup untuk mengungkap siapakah tersangkanya  walaupun mereka sudah  menyebar DPO atau daftar pencarian orang dengan sketsa dari samping serta  dari belakang orang yang diduga sangat kuat terlibat dalam kasus ini, kita nantikan seperti apa,” tuturnya.

Baca juga: Drama Kasus Subang, Inilah Kontradiksi dan Kontroversi Yosef, Yoris, dan Danu

Sumber: deskjabar.pikiran-rakyat.com