Depok, hetanews.com - Batubara sebagai sumber daya alam dari fosil merupakan sumber energi yang penting bagi Indonesia.  Dalam pemaparannya pada sidang promosi doktor yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa sore (28/12), Dr. Sidik Pramono mengajukan sebuah model pengembangan dinamis (proxy model) tata kelola kelembagaan dalam mengelola batu bara di Indonesia.

Dalam model tersebut, terdapat tiga faktor subsistem utama yang mempengaruhi tata kelola sistem batubara Indonesia, yaitu ketersediaan sumber daya, rantai pasok, dan juga dinamika pasar. Ketiga hal tersebut saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam mempengaruhi tata kelola batu bara Indonesia, baik secara lokal maupun global.

“Interaksi dan dinamika yang terjadi adalah antara pemerintah (government), pihak swasta (private sector), dan masyarakat (community). Kondisi ini menyebabkan terciptanya kondisi yang kolaboratif atau hybrid, yang memungkinkan para pihak mengambil peran untuk mempengaruhi setiap faktor/variabel dalam model tata kelola,” ujarnya.

Didik menambahkan, faktor-faktor yang mempengaruhi tata kelola batubara Indonesia tersebut bergerak secara dinamis, bergantung pada tipe tata kelola yang dipakai dan juga perilaku para pemangku kepentingan pada masing-masing subsistem. Pola yang dinamis ini menyebabkan diperlukannya intervensi pemerintah agar tidak terjadi kesenjangan pasar.

“Pola hubungan antar faktor yang diteliti dalam penelitian ini memperlihatkan kecenderungan akan terjadinya kesenjangan pasokan dan kebutuhan di dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan diperlukannya intervensi pemerintah sebagai wakil negara dengan formulasi arah dan kebijakan yang menekankan dominasi hierarchy governance dalam hal perancangan dan implementasi kebijakan,” ujar Sidik menjelaskan.

Dari skenario alternatif yang disimulasikan, Sidik menjelaskan bahwa bentuk intervensi pemerintah ini tidak bisa hanya dilakukan pada satu sisi atau faktor tertentu saja, tanpa mempertimbangkan kondisi para aktor yang terdampak. “Dalam skenario tersebut, kapasitas produksi batubara Indonesia harus dikontrol.  Batubara yang diproduksi harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik yang selama ini menyerap alokasi terbanyak produksi batu bara Indonesia,” ujarnya.

Kondisi ini sekaligus untuk memberikan waktu transisi yang cukup untuk melakukan peralihan kepada sumber energi baru dan terbarukan. Alokasi batubara untuk ekspor pun harus dibatasi, sehingga kesempatan untuk meningkatkan kapasitas ekspor akan terbuka ketika target pemenuhan dalam negeri sudah tercapai dan kapasitas pasar dalam negeri sudah mencapai titik positif. Menurutnya, semua upaya untuk mengoptimalkan batubara Indonesia tersebut membutuhkan pendekatan yang melibatkan peran berbagai pihak.

Disertasi yang berjudul “Dinamika dan Skenario Tata Kelola Batubara Indonesia” tersebut disusun dengan bimbingan Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M.Si. selaku promotor dan Dr. Andreo Wahyudi Atmoko selaku kopromotor dan sidang tersebut dipimpin oleh Dekan FIA UI Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Si., M.M.

Kepala Biro Humas dan KIP UI