SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Terdakwa kasus pembunuhan Marsal, Sudjito alias Gito tidak bermaksud untuk menghilangkan nyawa Marsal.

Pengakuan itu disampaikan Gito melalui nota pembelaan atau pledoi yang dibacakan oleh pengacara Agus Siswoyo saat sidang lanjutan di PN Simalungun, Kamis (13/1/2022).

Dalam pledoi, Agus turut mengungkapkan fakta-fakta hukum dalam persidangan dan menggaris bawahi beberapa hal dalam alat bukti surat dan keterangan saksi dalam perkara meninggalnya Mara Salem Harahap alias Marsal.

Ia menjelaskan, sejumlah hal yang tidak saling membuktikan perbuatan pidana yang telah didakwakan kepada terdakwa Sudjito, yakni bahwa terdakwa Sudjito telah meminta kepada  Yudi F Pangaribuan dan  Awaluddin untuk berbicara kepada Marsal agar korban tidak lagi memberitakan hal-hal yang negatif tentang KTV Ferrari milik Gito.

Dalam hal ini, Yudi telah melakukan dialog dengan korban dan mendapat jawaban dari korban agar KTV Ferrari membayar sebesar Rp 12 Juta kepada korban dengan perhitungan 2 buah pil ekstasi setiap malam yang jika diuangkan dalam sebulan akan menjadi Rp 12 Juta.

Hanya shock therapy

Hanya saja, menurut keterangan terdakwa, saksi dalam hal ini KTV Ferrari tidak sanggup membayar sebesar itu dikarenakan usaha tersebut hanya menyewakan fasilitas karaoke dan menjual minuman.

Saksi Yudi F Pangaribuan dan Saksi Awaluddin (BAP dibawah sumpah yang dibacakan di persidangan), terdakwa Sudjito meminta agar korban diberi peringatan dengan shock therapy dan dengan bahasa canda, "Ini anak mau diapakan, dari dulu udah keluar masuk penjara. Kalau nggak di shock therapy atau dibedil, nggak sanggup ini".

Bahwa keterangan Awaluddin dan Yudi, keduanya merencanakan malam tanggal 18 Juni 2021 untuk mencari keberadaan Marsal, mencoba pistol baru yang diterima di samping KTV Ferrari, menukar kendaraan mobil Kijang Innova dengan sepeda motor Honda Vario, hingga bertemu korban di jalan lintas Sumatera menuju Nagori Karang Anyar, dan akhirnya berpapasan dengan posisi tepat di sebelah korban. 

Lalu Awaluddin yang dibonceng sepeda motor oleh Yudi menembak paha kiri korban sebanyak satu kali.

Analisa Yuridis

Agus Siswoyo mengatakan, dalam analisa Yuridis dan berdasarkan alat bukti berupa keterangan saksi dan bukti surat-surat yang diperiksa di hadapan persidangan, percaya bahwa tidak ada alasan untuk menyatakan terdakwa Sudjito telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 340 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHPidana sebagaimana yang telah dituntut penuntut umum di dalam surat tuntutannya.

Bahwa oleh karena pasal yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum yakni pasal 340 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP, Pasal 338 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP, Pasal 353 ayat 3 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP 

atau 340 Jo 56 ke 2 dari KUHP, pasal 338 jo 56 ke 2 dari KUHP, Pasal 353 ayat 3 Jo 56 ke 2 dari KUHP mengandung unsur " dengan sengaja" menjadi unsur perbuatan pidana sehingga Penuntut umum berkewajiban untuk membuktikannya.

Dalam hal ini, unsur ‘dengan sengaja’ juga harus meliputi unsur -unsur perbuatan pidana lainnya yang ada di belakang unsur ‘dengan sengaja’. 

“Begitu juga dengan unsur-unsur lainnya, sehingga pembuktian kita nyata dan terang," kata pengacara dari Law Office Budi Dharma, SH & Partners ini.

Ia menjelaskan unsur-unsur pasal yang didakwakan terhadap terdakwa Sudjito, yakni mengenai unsur ‘Barang Siapa’ bahwa JPU dalam tuntutannya mengungkapkan yang dimaksud dengan Barang Siapa atau Setiap Orang, 

sebagaimana pengertian dalam KUHPidana adalah siapa saja orang yang dapat melakukan tindak pidana dan kepadanya perbuatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. 

"Kami setuju jikalau yang dimaksud barang siapa atau setiap orang dalam dakwaan penuntut umum adalah terdakwa Sudjito, orang yang dapat melakukan tindak pidana dan kepadanya perbuatan itu dapat dipertanggungjawabkan. 

Dan kami tidak membantah tentang tidak adanya penghapus pidana Terdakwa. Namun kita harus membuktikan terlebih dahulu tiap-tiap unsur yang ada sebelum mengambil kesimpulan tersebut" terangnya.

Lanjut Agus, mengenai unsur ‘dengan suatu perencanaan’ bahwa benar terdakwa Sudjito ada menyuruh melakukan kepada Awaluddin dan Yudi dan sampai waktu kejadian penembakan terhadap korban, adalah tempo yang cukup panjang untuk dapat dikategorikan memenuhi unsur ‘dengan suatu perencanaan’.

Unsur sengaja

Ditambahkannya, mengenai unsur ‘Dengan Sengaja’, bahwa fakta dalam persidangan telah terbukti dari keterangan para Yudi yang saling bertalian dan meyakinkan dengan keterangan Awaluddin bahwa korban telah mencoba untuk memeras KTV Ferrari milik terdakwa tempat dimana saksi bekerja.

Bahwa terdakwa sebagai pemilik KTV merasa dirugikan dengan tindakan korban lalu meminta saksi untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, namun karena merasa diperas terdakwa dalam suatu pertemuan mengatakan: 

Ini anak mau diapakan, dari dulu, udah keluar masuk penjara, kalau nggak di shock therapy atau dibedil, nggak sanggup ini, ungkapan mana disampaikan kepada saksi Yudi dan beberapa orang yang ada di tempat tersebut dengan bahasa canda atau seloroh. 

Kemudian saksi Awaluddin berinisiatif untuk mencari senjata pistol dan bersama saksi Yudi mencari korban hingga menembaknya. 

Dari keterangan yang didapat dalam persidangan tersebut dapat dibuktikan bahwa terdakwa Sudjito tidak memiliki maksud untuk menghilangkan nyawa orang lain

Sambung Agus, dalam persidangan terungkap dari keterangan saksi Awaluddin, saksi Yudi dan keterangan terdakwa Sudjito bahwa niat untuk menghilangkan nyawa orang lain tidaklah ada.

Hal ini terbukti dari keterangan yang mengatakan "Diberi peringatan atau shock therapy dan dibedil saja" lalu tindakan Awaluddin yang menembak paha kaki kiri korban.

Penghilangan nyawa tak dapat dibuktikan

Bahwa kemudian hilangnya nyawa korban adalah diakibatkan mati lemas karena pendarahan akibat luka tembak yang mengenai pembuluh nadi besar. 

Sangat logika apabila Awaluddin mempunyai niat dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, tentu dengan mudah Ia mencari target tembakan kepada kepala atau dada tepat di area jantung.

"Dengan demikian unsur menghilangkan nyawa orang lain dalam perkara ini tidak dapat dibuktikan" sebut Agus.

Diterangkannya, hilangnya nyawa orang lain sebagaimana dimaksud pasal 353 ayat 3 KUHPidana adalah bahwa matinya seseorang harus hanya merupakan akibat yang tidak dimaksud si pembuat. 

"Jadi jelas berbeda dengan yang dimaksud dalam pasal 338 KUHP, dimana kematian seseorang memang dimaksudkan oleh si pelaku" ujarnya.

Dari keterangan terdakwa Sudjito, keterangan Awaluddin dan Yudi tidak terlihat adanya niat untuk menghilangkan nyawa orang lain.

Sudjito hanya menyuruh untuk memberikan peringatan, shock terapi kepada korban.

"Kemudian dari keterangan kedua saksi, mereka juga berniat untuk memberikan peringatan,shock therapy," ungkapnya.