Simalungun, Hetanews.com - Dua pengacara kasus pembunuhan terdakwa meminta agar hakim melihat fakta persidangan. Meminta agar terdakwa Sudjito als Gito (56) dan Yudi Fernando Pangaribuan (32) dibebaskan dari dakwan ke-1 Primer yaitu pasal 350 Jo pasal 55 (1) ke-2 KUH Pidana.

Tapi ke pasal 353 (3) Jo pasal 1 ke-2 KUHP tentang perencanaan melakukan penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Kedua pelaku tersebut melalui pengacaranya Marihot Sinaga dan Budi Dharma meminta agar pelaku dihukum yang seadil-adilnya, sesuai fakta persidangan.

Hal itu disampaikan kedua pengacara melalui pledoi (nota pembelaan) tertulis yang dibacakan dalam persidangan, Kamis (14/1/2022) di Pengadilan Negeri Simalungun.

Sebelumnya, kedua pelaku telah diancam seumur hidup karena dipersalahkan jaksa melanggar pasal 340 Jo pasal 55 (1) ke-2 KUH Pidana tentang perencanaan pembunuhan.

Karena menurut kuasa hukum terdakwa, jika berencana membunuh pasti yang ditembak (dibedil) pada bagian vital korban seperti dada atau kepala. Dari fakta persidangan,jelas keterangan saksi hanya untuk memberikan pelajaran kepada korban Marsal Harahap.

"Karena Marsal sudah 2 kali dipenjara tapi tidak kapok, jadi harus "dibedil". Apalagi melalui medianya,korban mencoba melakukan pemerasan dengan meminta jatah Rp.12 juta/bulan," kata Budi.

Gito selaku pemilik Ferrari dan Yudi sebagai humas merasa bisnisnya terganggu akibat pemberitaan Marsal. Akibat pemberitaan tersebut, usahanya terancam ditutup.

Menanggapi pledoi tersebut, JPU Firmansyah menanggapi nya hanya secara lisan saja "tatap pada tuntutan," katanya ringkas.

Oleh karena itu, pemeriksaan dalam perkara tersebut telah selesai dan untuk pembacaan vonis, persidangan akan dilanjutkan pada Kamis (27/1/2022) mendatang. 

"Untuk pembacaan vonis, sidang ditunda hingga Kamis, 27 Januari 2022," kata ketua majelis hakim Vera Yetti Magdalena SH MH didampingi hakim anggota Mince Ginting SH dan Aries Ginting SH.(Ay)