BEIJING, HETANEWS.com - China dilaporkan sedang mengembangkan senjata “pengontrol otak” yang digunakan untuk melumpuhkan dan mengendalikan musuh atau rakyatnya sendiri.

Melansir New York Post, 31 Desember 2021, AS menjatuhkan sanksi kepada Akademi Ilmu Kedokteran Militer Beijing dan 11 perusahaan riset lainnya karena menggunakan “bioteknologi”.

Salah satu senjata yang dilaporkan sedang dikembangkan adalah persenjataan “pengontrol otak” menurut laporan The Washington Times.

AS tidak merinci tentang senjata terbaru China itu. Namun, The Washington Times berhasil melihat sejumlah dokumen militer 2019.

Dalam dokumen tersebut, China ingin melumpuhkan dan mengendalikan lawan dengan “menyerang keinginan musuh untuk melawan”. Senjata itu tidak dimaksudkan untuk membunuh atau “menghancurkan tubuh".

Sementara itu, seorang sumber mengatakan kepada Financial Times bahwa Partai Komunis China sedang mencoba mengembangkan teknologi di berbagai bidang seperti pengeditan gen, peningkatan kinerja manusia, dan brain machine interfaces.

Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo mengatakan, ada kekhawatiran bahwa Beijing menggunakan persenjataan semacam itu untuk mengendalikan warganya, termasuk etnis Uighur.

“Sayangnya, Republik Rakyat China memilih menggunakan teknologi ini untuk mengejar kendali atas rakyatnya dan penindasannya terhadap anggota kelompok etnis dan agama minoritas,” tutur Raimondo.

Oleh karenanya, lanjut Raimondo, AS tidak akan membiarkan ilmu kedokteran dan inovasi bioteknologi dijadikan ancaman keamanan nasional. Selama 30 tahun terakhir, China dengan cepat memodernisasi militernya.

Pesatnya kemampuan China dikhawatirkan banyak pihak akan melampaui AS. Awal tahun ini, negara adidaya Asia itu diduga meluncurkan rudal nuklir hipersonik yang terbang mengorbit bumi.

Ethan Paul, seorang ahli di Quincy Institute for Responsible Statecraft, mengatakan kepada The Sun bahwa persaingan AS dan China tidak akan berujung.

“AS dan China akan terus mengambil langkah untuk mencoba dan mengeksploitasi kerentanan satu sama lain. Ini akan membuat seluruh kawasan Asia-Pasifik terhubung dengan sistem senjata paling kuat, canggih, dan mematikan yang pernah ada,” tutur Paul.

Saat ini, Beijing memiliki sekitar 100 rudal balistik antar-benua yang berpotensi mampu menyerang AS. Namun, hanya sedikit yang diketahui tentang program pengembangan rudal hipersonik yang dilakukan “Negeri Panda”.

Sumber: kompas.com