SIANTAR, HETANEWS.com - Penyelesaian kasus pemecatatan karyawan PT STTC melalui pertemuan tripartit yang dimediasi Disnaker menemui jalan buntu.

Nilai kompensasi yang diajukan antara kedua belah pihak dalam kasus pemutusan hubungan kerja ini menunjukkan tidak kesepadanan.

Pertemuan tripartit ketiga kali kembali digelar di ruang mediasi kantor Disnaker Kota Siantar di Jalan Dahlia, Jumat (7/1/2021). 

Hadir mewakili PT STTC dan bekas karyawan Hisar Hutabarat (31) didampingi kuasa hukumnya dari LBH Pematangsiantar. 

Pembahasan dimulai mengenai status Hisar yang mangkir selama 5 hari berturut turut. 3 orang yang menjadi saksi turut dihadirkan.

2 saksi menyatakan ketidakhadiran Hisar dan 1 saksi lainya menyebut Hisar masuk kerja pada hari ke-5, dan sempat menyuruh dirinya melangsir mobil.

Tawar menawar

Pihak perusahaan pun bersikukuh menyatakan Hisar mangkir 5 hari berturut saat kerja. Pertemuan berlanjut membahas kompensasi. 

“Setelah itu diminta kedua belah pihak menyampaikan permohonan masing-masing oleh Mediator,” kata Ferry Simarmata dari LBH Pematangsiantar ditemui di kantornya.

Adapun nilai yang sebelumnya yang diajukan oleh Hisar yakni Rp 47.000.000. Menurut perusahaan permintaan tersebut terlalu besar.

Ferry mengatakan, mediasi yang digelar sempat diskors dan Mediator memberi kesempatan kepada kedua belah pihak. 

Kemudian Hisar mengajukan permohonan Rp 21.200.000 atau ganti rugi senilai 8 bulan gaji pokok. Sementara pihak perusahaan mengajukan kompensasi hanya Rp 5.035.000. 

Begitupun nilai kompensasi yang diajukan oleh Hisar akan disampaikan kepada perusahaan. 

“Jadi permohonan kami ini disampaikan ke pimpinan perusahaan atau pemilik. Apapun nanti hasilnya ini sudah final,” kata Ferry.

Hetanews menghubungi salah seorang Mediator Disnaker untuk mengkonfirmasi kelanjutan mediasi . Sayangnya, ia belum dapat memberikan jawaban.

Ferry berpendapat, penyelesaian kasus pemutusan hubungan kerja melalui tripartit yang dimediasi Disnaker telah berakhir.

“Ini pertemuan ketiga, pertemuan terakhir sesuai dengan jadwal mediasi,” katanya.

Ada oknum 

Ditemui terpisah, Hisar Hutabarat kesal dengan nilai yang ia tawarkan sebagai ganti rugi atas kasus pemutusan hubungan kerja tak mampu dipenuhi perusahaan.

Dengan nada suara yang terdengar lemah, Hisar mengingat ingat kembali pengalamannya bekerja di PT STTC selama 12 tahun.

Hisar meyakini pemilik perusahaan STTC mampu memenuhi permintaanya, bahkan setiap karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Namun ada oknum di perusahaan yang sengaja mengambil keuntungan, saat adanya kasus pemutusan hubungan kerja.

“Kasus serupa pernah terjadi dan perusahaan mampu memberikan ganti rugi senilai Rp.60 Juta. Kalau pemilik STTC ini sebenarnya baik, tapi inilah ada orang orang yang mengambil keuntungan,” ucapnya.

Ia mengatakan, semakin rendah kompensasi yang ditawarkan, maka semakin banyak keuntungan yang diambil oleh oknum tersebut dari perusahaan.

Baca artikel sebelumnya di sini