JAKARTA, HETANEWS.com - Para pemimpin Australia dan Jepang menandatangani perjanjian pertahanan bersejarah yang menurut Perdana Menteri Australia Scott Morrison akan berkontribusi pada Indo-Pasifik yang aman dan stabil ketika China memperluas kekuatan militer dan ekonominya di kawasan itu.

Perjanjian itu ditandatangani pada pertemuan puncak virtual antara Morrison dan mitranya dari Australia, Fumio Kishida pada hari ini.

Perjanjian Akses Timbal Balik (RAA) itu merupakan yang kesepakatan yang kedua Jepang. Pakta militer lainnya adalah dengan Amerika Serikat yang dimulai pada tahun 1960.

Morrison menyebut penandatanganan RAA sebagai momen penting bagi Australia dan Jepang yang akan menjadi bagian penting dari tanggapan kedua negara terhadap ketidakpastian yang sekarang dihadapi kedua negara.

Perjanjian itu juga akan mendukung keterlibatan yang lebih besar dan lebih kompleks dalam pengoperasian antara Angkatan Pertahanan Australia dan Pasukan Bela Diri Jepang,” katanya seperti dikutip Aljazeera.com, Kamis (6/1/2022).

Penandatanganan RAA dilakukan setelah pembicaraan lebih dari satu tahun, dan kantor berita Jepang Kyodo menyatakan pakta tersebut akan memfasilitasi latihan bersama, pengerahan personel militer Jepang dan Australia yang lebih cepat serta mengurangi pembatasan pengangkutan senjata dan pasokan untuk pelatihan bersama serta operasi penanggulangan bencana.

Kishida memuji perjanjian itu sebagai "instrumen penting yang akan meningkatkan kerja sama keamanan antar negara ke tingkat yang lebih tinggi".

Kyodo menyatakan Jepang juga akan berusaha untuk menandatangani pakta seperti itu dengan Inggris serta Prancis karena kedua negara Eropa "telah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Tokyo sebagai tanggapan atas China yang semakin keras".

Analis mengatakan perjanjian itu mengakui pentingnya membangun kemitraan pertahanan yang kuat untuk menghalangi Beijing.

“Jepang melepaskan diri dari batasan konstitusional pascaperang dalam penggunaan kekuatan militer karena Tokyo mengakui tantangan yang dihadapinya dari China,” kata Malcom Davis, seorang analis senior di Institut Kebijakan Strategis Australia.

“Ada perselisihan teritorial antara China dan Jepang,” katanya.

Hal lebih signifikan adalah kekhawatiran yang berkembang bahwa China akan mengambil alih Taiwan dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: bisnis.com