LAGU gubahan Eros Djarot yang dilantunkan oleh Almarhum Chrisye menyampaikan pesan inspiratif sekaligus introspektif bahwa tidak selamanya kita terlipat dan tergulung dalam penderitaan dan kisah pilu. Segala sesuatu ada masanya. 

Bukankah Pengkhotbah menuliskan demikian ‘Untuk Segala Sesuatu Ada Waktunya’? Semua yang dapat dicerna oleh panca indra kita selalu terikat pada ‘perubahan’. 

Ya, perubahan adalah hakikat kehidupan. 

Jadi jika demikian, jangan pernah kuatir karena setiap episode kehidupan selalu menampilkan cerita yang beragam–komedi/parodi, ironi dan tragedi membentuk harmoni (lih. Oase Kehidupan: Frans Pantan dkk). 

Pandemi yang mendera kita sangat menguras energi dan emosi bahkan tidak jarang membuat kita dirundung kecemasan yang menderu. 

Menurut Heidegger, kecemasan terbentuk karena benturan-benturan dan pengalaman ironis manusia.

Jadi kecemasan adalah akumulasi dari peristiwa-peristiwa negatif yang menghampiri kita padahal bagi Heidegger penyebab an sich dari kecemasan sebenarnya tidak ada (ketiadaan) tetapi justru karena berpijak dari ketiadaan itulah, kecemasan menjadi sangat berbahaya.

Lebih jauh Heidegger menjelaskan bahwa rasa cemas sebagai suatu yang misterius menjadi struktur dasar manusia atau yang disebut dengan istilah dasein yang pada akhirnya mempertanyakan eksistensi manusia. 

Banyak di antara kita membangun iman atas dasar kecemasan dan bukan kesadaran akibatnya ekspresi iman sebatas dramaturgi. 

Dalam konteks pandemi, tentu kita secara mudah menghubungkan bahwa kecemasan bersumber karena pandemi mengancam hak dasar manusia untuk hidup. 

Doa dan pujian yang terucap dan terlantun di ruang ibadah dan doa bisa jadi tidak sepenuhnya lahir dari ketulusan melainkan suatu cara manusia menggugat Tuhan untuk memberi pertolongan dalam situasi darurat. 

Manusia mengalami ‘defisit iman’ karena tidak menempatkan Tuhan sebagai Aktus Purus.

Kita terjebak dalam paradoks argumentasi keimanan yang rumit, “jika Tuhan ada dari mana asal kejahatan dan penderitaan dan Jika Tuhan tidak ada dari mana asal kebaikan?” Jika saya simpulkan  penderitaan ada dna Tuhan ada, keduanya saling bereksistensi membentuk suatu ‘misteri’. 

Pandemi adalah patologi realitas, dan realitas itu tidak singular melainkan ada macam-macam langgam yang ke semuanya harus kita hadapi secara bijak bahkan harus mampu kita afirmasi. 

Lantas bagaimana sikap kita di hadapan runyamnya hidup? Jawaban sederhana adalah “sadar utuh”.

Kesadaran bukan sekadar peristiwa psikologis melainkan momen filosofis bahkan teologis yang mengantarkan manusia pada kerelaan menerima seluruh pengalaman manusia. 

Bagi orang yang memiliki sikap semacam ini selalu ada dorongan kuat dalam dirinya bahwa segala sesuatu ada masanya. 

Tahun 2022 tinggal beberapa jam lagi akan kita jejaki, coretan hidup yang buram di belakang kita, jangan biarkan semua itu menjadi beban untuk kita melangkah di tahun 2022. 

Jika kita diizinkan menjalani episode hidup yang pilu, jangan mengeluh!

Badai akan berlalu dan badailah yang akan membentuk kita menjadi manusia unggul jika kita selalu memiliki kemampuan untuk memahami negativitas: das andenkende denken (berpikir dengan menginsyafi). 

Selamat Tahun Baru 2022, kita sambut dengan optimis dan kita tulis perjalanan hidup kita mendatang dengan tinta kebaikan dan kebenaran supaya kelak kita tidak mempunyai waktu untuk sebuah penyesalan. 

Oleh: Dr. Frans Pantan, Ketua STT Bethel Indonesia