HETANEWS.com - Masalah hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi momok bagi sebagian orang. Mengingat saat ini orang dengan kondisi darah tinggi juga perlu dipantau kesehatannya untuk menerima vaksin COVID-19.

Pemicu hipertensi banyak ragamnya. Mulai dari keturunan, kurang berolahraga, obesitas, hingga merokok. Jika tak ditangani secara serius, hipertensi berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbahaya, seperti jantung, kanker, stroke, dan gangguan pada organ vital.

Untuk menekan risiko tersebut, masyarakat harus diberikan informasi akurat mengenai berbagai solusi yang ada.

Isu ini menjadi pembahasan dalam diskusi online Ngobrol Pintar dan Inspiratif Soal Hipertensi Bareng Dokter yang diselenggarakan Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) bersama Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Inash) dan Omron Healthcare Indonesia.

Dokter Spesialis Syaraf, Yuda Turana, yang hadir dalam diskusi ini menjelaskan hipertensi menyebabkan potensi risiko stroke lebih besar dibandingkan penyakit lainnya.

“Kalau bicara hipertensi bukan bicara tensinya berapa dan mengandalkan pemeriksaan, tapi variasinya. Jangan berpikir karena hipertensi jadi tes berulang-ulang agar tahu tekanan tensinya setinggi apa,” ujar Yuda dalam diskusi tersebut.

Merujuk pada data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Dua penyakit tersebut menjadi penyebab kematian bagi orang Amerika. Hipertensi biasanya tidak memiliki gejala, jadi salah satunya cara untuk mengetahuinya dengan melakukan pemeriksaan medis.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad), Ardini Raksanagara, menambahkan agar terhindar dari hipertensi, masyarakat harus menerapkan pola hidup sehat.

Ilustrasi hipertensi. Foto: rawpixel via Pixabay

Jika memiliki riwayat seperti perokok berat, maka harus mulai berhenti merokok dan menghindari perilaku berisiko lainnya seperti konsumsi makanan tinggi garam.

“Kalau mau terhindar dari hipertensi maka harus hindari rokok, mulai makan makanan sehat, dan berolahraga. Aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Sependapat dengan Ardini, Ketua Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG), Arde Toga Nugraha, juga menyarankan perokok dewasa untuk mulai berhenti merokok demi meminimalisasi risiko terkena penyakit hipertensi. Namun berhenti merokok secara langsung tidaklah mudah.

“Di sini peran tenaga kesehatan untuk menyampaikan bahwa ada risiko kalau terus dilanjutkan dan bagaimana cara mengatasi maupun mencegah adanya risiko tersebut. Mereka harus diberikan pemahaman,” ujarnya.

Perokok juga perlu diberikan informasi tentang berbagai solusi yang ada untuk membantu mereka berhenti merokok atau setidaknya beralih dari rokok, salah satunya memberikan informasi terkait potensi produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun rokok elektrik.

Arde mengatakan, Inggris dan Jepang telah memaksimalkan penggunaan produk tembakau alternatif sebagai subtitusi bagi perokok agar dapat beralih.

Sayangnya, sampai saat ini masih banyak anggapan yang keliru mengenai produk tersebut. Banyak orang mengira risiko yang dimiliki produk tembakau alternatif itu sama dengan rokok.

Walaupun produk ini tidak bebas risiko namun berdasarkan hasil kajian ilmiah yang ada, produk ini tidak melalui pembakaran sehingga berguna bagi perokok dewasa yang tidak bisa berhenti dikarenakan emisi zat berbahaya yang jauh lebih rendah daripada rokok.

“Kita harus membuktikan hal tersebut sehingga dapat mengedukasi masyarakat agar lebih baik,” tegas Arde

Sumber: kumparan.com