SIANTAR, HETANEWS.com - Perundingan bipartit antara bekas karyawan PT STTC, Hisar Hutabarat (31) dengan pihak perusahaan menemui jalan buntu. 

Kasus pemecatan ini dipastikan melangkah ke tahap tripartit, sebagaimana diatur dalam Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial atau UU PPHI.

Tripartit merupakan proses perundingan antara kedua belah pihak yang melibatkan pihak ketiga, dalam hal ini pemerintah yaitu Dinas Tenaga Kerja [Disnaker] Kota Siantar.

Hisar Hutabarat, melalui pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum [LBH] Pematangsiantar, Parluhutan Banjarnahor, memastikan telah melayangkan surat ke Disnaker.

“Surat sudah kita layangkan hari ini  ke kantor Disnaker. Kita berharap perundingan kasus pemutusan hubungan kerja ini segera digelar pekan depan,” kata Banjarnahor kepada Hetanews, Jumat (10/12/2021).

Pasca pertemuan bipartit yang digelar di perkantoran PT STTC di Jalan Pdt Justin Sihombing, Rabu 8 Desember 2021, pihaknya kembali melayangkan surat keberatan ke perusahaan.

“Kita juga melayangkan surat ke perusahaan yang pada intinya menyatakan keberatan dari hasil pertemuan tersebut,” ungkapnya.

Sejauh ini pihak perusahaan belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus pemutusan hubungan kerja yang dialami Hisar Hutabarat.

Namun diketahui bekas karyawan PT STTC itu menuntut haknya, sebagaimana bunyi PP 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.

Kasus pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan terhadap karyawan seperti yang dialami Hisar Hutabarat rentan terjadi.

Hisar Hutabarat menerima surat pemecatan pada tanggal 16 November 2021 dengan alasan tidak hadir kerja selama 6 hari, terhitung tanggal 10-16 November 2021.

Padahal, kata pria yang tinggal di Jalan Asahan ini, dirinya telah memberitahukan ketidakhadirannya kepada mandor melalui aplikasi pesan WhatsApp.

Dalam surat PHK yang dikeluarkan tanpa kepala surat, pihak perusahaan turut menerbitkan surat panggilan kerja I dan II masing masing pada tanggal 12-13 November 2021. 

Setelah dipecat dengan alasan tidak masuk kerja, Hisar mengaku sempat dibujuk untuk menyetujui pemecatan sepihak itu dengan uang pisah sebesar Rp 2,6 Juta.

Uang pisah itu bukan pesangon. Nilai yang ditawarkan pun lebih rendah dibanding upah yang ia terima sebesar Rp 2.750.000 tiap bulannya, selama 12 tahun bekerja sebagai karyawan di gudang PT STTC. 

Baca juga: Karyawan STTC Dipecat, Dibujuk Uang Pisah Rp 2,6 Juta