HETANEWS.com - Libur Natal dan Tahun Baru tanpa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 yang serentak, akan menjadi ujian bagi Indonesia apakah dapat menekan kasus Covid-19 atau tidak menurut pakar epidemiologi.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Iwan Ariawan mengatakan momen ini akan menjadi salah satu penentu kesiapan Indonesia untuk beralih dari fase pandemi menuju endemi, di mana kondisi wabah Covid-19 tidak lagi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat.

Hal itu perlu dibuktikan dengan terkendalinya angka infeksi Covid-19 saat mobilitas masyarakat meningkat sepanjang libur akhir tahun.

"Target kita bukan hanya jangka pandek supaya kasusnya tidak naik pasca Natal dan Tahun Baru. Target kita adalah supaya kasusnya turun terus dan ini bisa segera menjadi endemi," kata Iwan.

Sementara epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan Natal dan Tahun Baru akan menjadi "ujian akhir tahun" yang menentukan arah kebijakan penanganan pandemi di Indonesia pada 2022.

"Apabila tidak ada lonjakan, berarti kita lulus, bisa masuk aktivitas kehidupan normal dengan budaya atau perilaku baru sesuai protokol kesehatan Covid-19. Kalau gagal, berarti kita mengulang kembali yang berisiko diikuti korban lagi," ujar Windhu.

Survei Kementerian Perhubungan menunjukkan sebanyak 19,9 juta orang Indonesia berencana mudik saat libur akhir tahun. Namun, Iwan meyakini kebijakan tersebut tidak akan memicu lonjakan kasus karena "situasi pandemi sudah berbeda dan jauh lebih baik."

"[Situasi] Indonesia sudah lebih baik, sudah beda kondisinya. Kita lihat pada Januari-Februari nanti kalau enggak ada kenaikan kasus atau kenaikannya hanya sedikit artinya kita sudah di jalan yang benar untuk penanganan pandemi ini," kata Epidemiolog Universitas Indonesia, Iwan Ariawan kepada BBC News Indonesia, Selasa (7/12).

"Jadi kita akan lihat libur Nataru ini [dampaknya seperti apa]. Tahun depan akan dibahas untuk peralihan menjadi endemi," lanjut dia.

Keputusan pemerintah membatalkan PPKM level 3 sendiri disambut baik oleh pelaku sektor pariwisata.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya optimistis kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Dewata akan meningkat.

Inilah kali pertama libur panjang di Indonesia berjalan dengan pembatasan aktivitas yang lebih longgar.

"Ini menggairahkan bagi wisatawan domestik khususnya, karena Bali tetap menjadi tempat terfavorit bagi liburan akhir tahun Natal dan Tahun Baru," kata Rai kepada BBC Indonesia, Selasa (7/12).

Sementara itu, pengamat ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif dari lembaga riset CORE, Mohammad Faisal mengingatkan agar pemerintah tetap waspada.

"Kita harus belajar dari pengalaman ke belakang. Antisipasi yang lemah menyebabkan wabahnya berkembang lebih luas dan lebih mengantam ekonomi," ujur Faisal.

Menyambung napas industri pariwisata yang 'masih jauh dari pulih'

Petugas kepolisian menyemprotkan disinfektan di kawasan Legian, Badung, Bali, Jumat (7/5/2021).
ANTARA FOTO

I Gusti Agung Rai Suryawijaya memprediksi sebanyak 15.000 hingga 20.000 wisatawan domestik akan berkunjung ke Bali setiap harinya saat libur akhir tahun, setelah pembatalan PPKM Level 3.

Menurut Rai, hal itu akan menyambung napas industri pariwisata yang terpuruk selama dua tahun terakhir. Okupansi hotel diprediksi akan meningkat 35-40%.

Sekitar 40% pekerja pariwisata, dari total 300.000 orang yang sempat dirumahkan akibat pandemi, kini telah kembali bekerja.

Meski demikian, dia mengatakan pariwisata Bali masih jauh dari pulih. Sektor perhotelan masih menanggung rugi akibat biaya operasional yang dikeluarkan tidak seimbang dengan pendapatan.

"Kami tidak bisa langsung mempekerjakan semua [karyawan], kita akan sesuaikan dengan tingkat hunian atau okupansi hotel itu. Kita masih terus melakukan efisiensi, karena kita belum dapat break-even point, apalagi untuk pemulihan masih jauh," kata Rai melalui sambungan telepon.

Namun, dia meyakini peningkatan mobilitas wisatawan di Bali "sudah jauh lebih aman" dibanding sebelumnya. Hampir 90% dari 4,3 juta penduduk Bali telah divaksin lengkap. Angka penularan juga terus menurun.

"Di Bali, herd immunity sudah terbentuk, disiplin [protokol kesehatan] masyarakat tinggi, sehingga kasus Covid-19 bisa terkendali dengan baik," tutur Rai.

'Kecil kemungkinan gelombang ketiga'

Pedagang kaki lima menanti pembeli saat pergantian Tahun Baru 2021 di kawasan Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/1/2021).
ANTARA FOTO

Dengan kondisi saat ini, pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Iwan mengatakan kecil kemungkinan terjadi gelombang tiga meski PPKM Level 3 dibatalkan. Peningkatan kasus masih berpotensi terjadi, namun tidak seburuk sebelumnya.

Keyakinan itu mengacu pada cakupan vaksinasi lengkap Covid-19 yang telah mencapai 48%. Selain itu, Iwan mengatakan survei serologi yang akan dirilis dalam waktu dekat menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia telah memiliki antibodi Covid-19.

Angka positivity rate - persentase kasus positif dibandingkan jumlah tes - berkisar 0,13%, jauh di bawah standar pengendalian pandemi menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5%.

Meski demikian, Iwan mengatakan situasi pandemi selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan dari mutasi virus SARS-CoV-2 seperti varian Omicron yang masih diteliti lebih lanjut.

"Kalau [varian] Omicron bukan yang menyebabkan keparahan meningkat dan bukan mutasi yang menyebabkan efektivitas vaksin menurun drastis, tahun depan bisa kita mencapai endemi," ujar dia.

Pemerintah tetap perlu mewaspadai penyebaran varian ini, juga mempercepat vaksinasi pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Perketat pengawasan

Pengunjung memindai kode batang pada aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki Taman Burung Perak, Kota Tangerang, Banten, Jumat (5/11/2021).
ANTARA FOTO

Meski PPKM Level 3 dipandang tidak perlu diterapkan secara serentak, Windhu mengatakan aktivitas sosial dan masyarakat selama libur akhir tahun tetap harus berjalan lebih ketat dibandingkan pada masa normal.

Pemerintah, kata dia, harus mengawasi penerapan protokol kesehatan dengan baik di tempat-tempat publik. Proses skrining terhadap orang-orang yang beraktivitas juga harus berjalan ketat.

Artinya, hanya orang-orang yang tidak terinfeksi dan sudah divaksin lengkap yang boleh beraktivitas di ruang publik.

"Kalau itu dijalankan dengan baik, tidak ada lonjakan yang serius kok di akhir tahun ini. Sebagian besar penduduk sudah mempunyai kekebalan dari infeksi alami. Itu yang membuat kita lebih aman dibandingkan negara-negara Eropa," kata Windhu.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pembatasan mobilitas akan tetap dilakukan selama libur Natal dan Tahun Baru, meski PPKM Level 3 telah dibatalkan.

Sumber: bbcindonesia.com