SIMALUNGUN, Hetanews.com - Kejaksaan Negeri Simalungun kembali berhasil menyelesaikan 2 perkara pidana melalui Restorative justice (RJ).Penyelesaian perkara melalui mediasi antara pelaku dan korban tanpa proses persidangan.

Restorative Justice merupakan program Kejaksaan Agung sesuai Perja No.15 tahun 2020 tentang penghentian penuntut berdasarkan keadilan restoratif. Demikian dikatakan Kajari Simalungun Bobbi Sandri melalui Kasi Pidum Irvan Maulana SH MH kepada wartawan, Jumat (3/12) di kantornya.

"Dengan berhasilnya 2 perkara ini, maka total jumlah perkara yang berhasil diselesaikan Kejari Simalungun melalui RJ ada 9 perkara," sebut Irvan.

Adapun ke-9 perkara tersebut atas nama Fajar Irawan (30) warga Batu Bara, Pariana Sinaga (38), Musiem (41), keduanya warga Huta I Sei Torop. Lalu atas nama Miswanto (45) warga Dusun IV Desa Petatal, Hendrik Suhada (18) warga Huta I Nagori Sei Merbo Kecamatan Ujung Padang.

Perkara atas nama Tahmid Edi Siswanto (33) warga Huta II Nagori Pulopita Marihat Kecamatan Ujung Padang. Ilham Saragih als Brujul (20) warga Huta IV Kampung Setumpuk Nagori Bandar Silau Kecamatan Bandar Masilam. Indra Utama (23) warga Huta VI Nagori Tinjowan Kecamatan Ujung Padang dan Suriaji (28) Warga Dusun VIII Desa Sei Bejangkar Sei Bale Kabupaten Batu Bara.

Ke-9 perkara tersebut merupakan pelaku yang disangkakan dengan UU No 39/2014 tentang perkebunan. Pelaku yang sempat ditahan segera dikeluarkan dari Lapas Kelas IIA Pematangsiantar.

Irvan juga menjelaskan perkara yang dapat diselesaikan melalui RJ antara lain ancaman hukuman maksimal 5 tahun, belum pernah dipidana dan kerugian tidak lebih dari Rp 2,5 juta. Adanya perdamaian antara pelaku dengan korban.          

Sebagai bentuk kepedulian Kejari Simalungun kepada pelaku yang benar benar layak dibantu dengan kehidupan yang sangat memperihatinkan diberikan sembako berupa beras, mie instan dan telur.

Seperti yang dialami 2 IRT, Pariana dan Musiem juga Fajar Irawan karena nekat mencuri brondolan demi untuk makan. Karena pandemi, kesulitan perekonomian bahkan harus di PHK. 

Meski demikian, pihak kejaksaan menegaskan kepada pelaku, jika tertangkap lagi akan dipidana lebih berat lagi. "Jika nanti mengulangi atau tertangkap lagi, maka hukumannya akan diperberat," jelas Irvan. (Ay)