HETANEWS.com - Kasus pembunuh ibu dan anak di Subang semakin membikin penasaran. Kapolda Jabar Irjen Pol Suntana pun menjadi buruan awak media saat berada di Cirebon, yang ditanyakan adalah siapa algojo dari Amalia Mustika Ratu (Amel) dan Tuti Suhartini.

Hingga saat ini memang belum ditentukan oleh penyidik kepolisian tentang tersangka pembunuh ibu dan anak di Subang.

Banyak berbagai analisa yang berkembang dari kasus ini, bahkan tidak tertutup kemungkinan ini adalah motifnya duit besar yang ada di Yayasan yang dikelola para saksi kunci.

Namun Jenderel Bintang Dua ini tidak mau memberikan pernyataan disini soal hal tersebut sebelum penyidik menentukan siapa tersangkanya.

Bahkan Kapolda memberikan jawaban menohok soal istilah saksi kunci dalam kasus pembunuh ibu dan anak di Subang.

Seperti diketahui saksi kunci tersebut disematkan kepada Yosef Hidayah, Yoris Raja Amarullah dan Muhammad Ramdanu alias Danu.

Publik menyebutnya istilah saksi kunci karena mereka bertiga yang paling sering dipanggil menjadi saksi kasus pembunuh ibu dan anak di Subang.

Namun menurut Suntana, pihak kepolisian tidak menyebutkan ada saksi kunci, menurutnya semua saksi sama keterangannya diperlukan untuk bahan penyelidikan.

"Kami tidak menyebutkan adanya saksi kunci (dalam kasus pembunuh ibu dan anak di Subang), semuanya diperlakukan sama diperiksa dengan kapasitas sebagai saksi," kata Kapolda Suntana kepada wartawan di Cirebon.

Suntana pun menyebut bahwa penyelidikan terus berjalan, dan yang menjadi kabar gembira tentang dilakukan penyelidikan pembunuh ibu dan anak di Subang  semakin diintensifkan.

"Penyidik Polda Jabar telah mem-backup pengungkapan kasus ini, kita mengulang pemeriksaan beberapa saksi. Mohon doa restunya agar kasus ini bisa segera terungkap," katanya.

Baca juga: Ada Strategi Polisi Hingga Belum Umumkan Tersangka Pembunuh Ibu dan Anak di Subang

Duit Besar dibalik Kasus Subang

Seperti diketahui, korban dan saksi dalam kasus pembunuh ibu dan anak di Subang ini adalah sebagian besar pengurus Yayasan Bina Prestasi Nasional.

Yayasan tersebut adalah didirikan oleh Yosef, diangkat sebagai ketua yayasan adalah Yoris sedangkan sekertaris dan bendahara di pegang korban Tuti Suhartini dan Amel.

Dan Danu yang merupakan keponakan Yosef adalah sebagai pegawai di Yayasan tersebut. Yayasan tersebut mengelola dua lembaga pendidikan yakni SMP dan SMK.

Kedua lembaga itu melalui yayasan kerapkali mendapat bantuan dari pemerintah salah satunya dana operasional sekolah (BOS).

Dalam analisa Anjas Asmara melalui Kanal YouTube Anjas di Thailand menilai keterkaitan korban dengan Yayasan Bina Prestasi Nasional seperti terlupakan.

Bisa saja ada motif pembunuh ibu dan anak di Subang tersebut, terkait dengan dana besar yang ada di yayasan.

Seperti diketahui, pemerintah menyalurkan dana BOS yakni bantuan untuk sekolah-sekolah yang besarannya mencapai sekitar Rp 6 triliun, jumlah dana yang sangat besar sekali.

Namun, menurut Anjas, dari berbagai pemberitaan di media massa, banyak sekali pemberitaan soal terjadinya korusi dana BOS, yang terjadi di berbagai daerah.

Salah satu contoh kasus terjadi di sekolah di Jakarta. Ada temuan dimana dana BOS sebesar Rp 200 juta dibagikan kepada para guru baik itu guru PNS ataupun guru honorer.

Banyak di antara guru yang mendapat bagian tersebut mengakui bahwa mereka tidak tahu kalau sumber uang yang dibagukan itu berasal dari dana BOS, mengingat bukan peruntukkannya.

Apakah kasus-kasus seperti ini juga ada hubungannya dengan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang. Bisa jadi, menurut Anjas, ada oknum di yayasan yang merasa terancam dengan keberadaan Tuti dan Amel.

Menurut Anjas, bisa saja dengan masuknya Tuti sebagai mendahara yayasan dan Amel sebagai sekretaris yayasan, selain sebagai pendiri, yayasan mengalami kemajuan pesat.

Itu terbukti dari gaji yang diperoleh pengurus cukup besar untuk tingkat penghasilan di daerah. Demikian juga dengan kepemilikan mobil yang dipnai Tuti dan Amel, itu menunjukkan yayasan mengalami kemajuan pesat.

Dengan kehadiran Tuti dan Amel, keadministrasian yayasan jadi tertib, termasuk masalah dana BOS dan dana bantuan-bantuan lain.

Melihat banyak kasus korupsi dana BOS yang terjadi di Indonesia, Anjas menduga, bisa saja ada oknum yang merasa terganggu dengan ketertiban administrasi yang diterapkan almarhum Tuti dan Amel.

Siapa kira-kira yang merasa dirugikan karena tertibnya administrasi yang dijalankan korban. Siapa sih kira-kira yang merasa dirugikan korban?.

Mudah-mudahan saja tim penyidik juga sudah punya data tersebut dalam rangka pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang.

Seperti diketahui pembunuh ibu dan anak di Subang yang meminta korban jiwa Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23) itu cukup menggegerkan karena tergolong sadis.

Jasad Tuti (ibu) dan Amalia (anak) ditemukan sudah tak bernyawa penuh darah di dalam bagasi mobil Toyota Alphard milik korban yang diparkir di halaman rumahnya di Kampung Ciseuti, Kecamatan Jalan Cagak. Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Yosef, yang pertama kali mengetahui dan menemukannya pada Rabu 18 Agustus 2021. Saat itu, Yosef Subang baru datang  ke rumah itu sehabis menginap di rumah istri mudanya.

Kronologisnya, saat hendak masuk rumah, ternyata sudah berantakan dan penghuni rumah Tuti dan Amalia tidak ditemukan. Lalu Yosef Subang bergegas menuju kantor polisi untuk melapor.

Tak lama kemudian, Yosef Subang bersama polisi akhirnya mayat kedua korban ditemukan di dalam bagasi mobil Alphard dengan keadaan bertumpuk.

Beberapa hari kemudian, polisi memastikan jika korban Tuti dan Amalia meninggal dunia karena ada yang membunuh.

Hingga hari ini, Kamis 3 Desember 2021 atau sudah memasuki 4 bulan sejak kejadian, kasus pembunuhan Subang atau pembunuh ibu dan anak di Subang belum terungkap juga.

Baca juga: Tersangka Pembunuh Ibu dan Anak di Subang Terungkap, Analisa Anjas: Eksekutor Bukan Orang Dekat

Sumber: deskjabar.pikiran-rakyat.com