HETANEWS.com - Kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang diperkirakan sudah memasuki babak akhir. Penyidik diharapkan dalam waktu dekat segera mengungkapkan tersangka.

Anjas di Thailand dalam segmen analisanya juga menantikan apakah di bulan Desember 2021, tim penyidik sudah percaya diri dan juga yakin akan mengumumkan tersangkanya.

"Siapakah pelakunya, siapakah dalangnya, siapakah yang membantunya, dan apa sih motif kenapa tega menghilangkan dua nyawa manusia di tanggal 18 Agustus 2021?" kata Anjas.

Anjas mengungkapkan harapannya tersebut di video yang berjudul SAKS1 INI LIHAT 3 TAMU DEKAT YG DATANG MALAM ITU ?? yang tayang, Rabu, 1 Desember 2021.

Dalam segmen analisanya, Anjas menyoroti pemberitaan mengenai hasil autopsi yang mengungkapkan adanya perbedaan pembunuh saat mengeksekusi Tuti Suhartini dan anaknya, Amalia Mustika Ratu alias Amel.

"Kalau aku melihat dari keadaan tubuh kedua korban, terutama dari Amel, kayaknya agak sedikit tidak percaya kalau orang-orang yang menjadi eksekutor pelakunya adalah orang-orang yang mengenal secara dekat," tutur Anjas.

Ia memperkirakan, pelaku kemungkinan besar adalah orang yang tidak terlalu dekat dan kemungkinan hanya tahu saja korbannya. Alasannya, sang eksekutor itu bisa melakukan eksekusi yang begitu menyakitkan.

Anjas mengungkapkan bahwa pada tubuh Tuti Suhartini tidak banyak luka selain pada bagian wajahnya yang hancur karena dipukul benda tumpul dan langsung meninggal.

"Linear dengan hasil autopsi pertama bahwa ibu Tuti dieksekusi dalam keadaan tidur. Jadi tidak ada luka-luka (lain)," ucap Anjas.

Menurut Anjas, hal itu bertolak belakang dengan kondisi jenazah Amel yang terlihat seperti mendapatkan siksaan karena kemungkinan melakukan perlawanan.

"Karena ada luka di mata, di sikut, di kuping. Autopsi bukan jatah aku, tetapi aku hanya melihat sebagai orang awam," ucapnya.

Anjas menilai, proses penyiksaan itu tampaknya menyakitkan jika melihat berdasarkan luka-luka di tubuh Amel.

"Tapi sama di hasil autopsi pertama dan kedua tidak dibantah, tidak ada yang di-cross check bahwa penyebab kematian keduanya sama-sama karena benda tumpul. Tapi kenapa gitu, kok luka-lukanya lebih parah di Amel?" tutur Anjas.

Anjas pun melontarkan dugaan bahwa pelaku sepertinya menikmati sekali melihat Amel kesakitan dengan luka-luka seperti yang ia gambarkan.

"Makanya, agak kecil kemungkinan bahwa pelakunya ini adalah orang yang cukup mengenal dia sangat baik," ujarnya.

Mengenai temuan di lokasi kejadian tidak ada kerusakan pintu dan ada tiga saksi yang melihat ada lima sosok pada sekitar jam 12.00 malam tanggal 17 Agustus 2021, Anjas kembali menyatakan bahwa kemungkinan besar tersangkanya ada bagian pelaku eksekutor, orang yang membantu, dan dalang atau otak.

"Orang yang membantu bisa saja membuka akses pintunya pada malam hari, memberi tahu ini itu. Itu adalah porsi dari peran pembantu serta dalang. Bisa saja dalang dan pembantu menjadi sama," kata Anjas.

Ia juga menyebutkan bahwa bisa saja dalang sebagai juga pelaku. Akan tetapi, dengan melihat hasil autopsi Amel, ia berkesimpulan secara psikologi bahwa kemungkinan besar pelaku bukan orang yang terlalu dekat dengan korban, meskipun secara fakta, ia pun masih menantikan hasilnya.

Anjas pun sependapat dengan Kadiv Humas Polda Jawa Barat yang dengan tegas menyatakan, pelaku tidak paham dengan dunia forensik. Itu karena banyak temuan jejak yang bisa dilacak penyidik.

Baca juga: Fakta Kasus Subang, HP Amel Ungkap Kasus Pembunuh Ibu dan Anak di Subang, Begini Cara Kerjanya!

Jejak berupa DNA dan sidik jari

Seperti diberitakan DeskJabar.com, setelah terjadi pembunuhan ibu dan anak di Subang pada 18 Agustus 2021, polisi yang masuk TKP mendapati lantai rumah dalam keadaan basah.

Pelaku diduga berusaha membersihkan sidik jari termasuk di tubuh korban Tuti Suhartini dan Amel sebelum ditumpuk di bagasi mobil Alpard. Pelaku juga diduga membersihkan bodi mobil Alphard untuk menghilangkan jejak sidik jari.

Meskipun mobil sudah dibersihkan, menurut pakar forensik Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti, karena dibersihkan secara terburu-buru sehingga di beberapa bagian mobil masih ditemukan sidik jari.

Sumy Hastry menilai pelaku kejahatan semakin pintar dalam menghilangkan jejak-jejak karena semua orang mudah mengakses forensik di internet, untuk mempelajari cara menghilangkan alat bukti.

Pada kesempatan lain, Sumy Hastry menjelaskan bahwa proses identifikasi kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang butuh waktu lama meskipun penyidik sudah mendapatkan puluhan DNA di TKP.

"Kita sudah dapatkan puluhan DNA yang ada di sekitar lokasi, kita petakan. Matching nggak dengan DNA yang kita dapat di properti atau barang bukti di lokasi itu. Makanya butuh waktu lama," tutur dr Sumy Hastry.

Ia menjelaskan, pemeriksaan darah cepat, yaitu tiga hari selesai. Akan tetapi, untuk memeriksa sidik jari di rokok, atau di kursi, pintu, atau mobil, prosesnya lama.

"Tambah lama lagi karena pemeriksaan berulang dan diambil beberapa kali. Apalagi TKP Subang kacau sudah terkontaminasi karena ada banyak orang yang masuk," ujar Sumy Hastry.

Meski demikian, dr Sumy Hastry yakin kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang bakal terungkap. Alasannya, tes DNA tidak bisa dibohongi dan tidak ada kejahatan yang sempurna.

Baca juga: Pisah Rumah karena Kasus Subang, Yosef dan Istri Muda Kompak Kenakan Baju yang Sama saat Diperiksa

Sumber: deskjabar.pikiran-rakat.com