TEBING TINGGI, hetanews.com - Beberapa hari belakangan ini Hujan lebat mengguyur hampir seluruh daerah di Sumatra Utara (Sumut) khususnya Kota Tebing Tinggi, akibat hal tersebut ribuan rumah terendam banjir, dan mengakibatkan perekonomian di Kota tersebut lumpuh total, parahnya lagi akibat banjir pedagang mengalami dampaknya sebab mengakibatkan mereka tidak bisa berjualan sebagaimana mestinya.

Sungai Bahilang yang berada di jantung kota Tebing Tinggi tidak mampu menampung debit air dari kiriman kabupaten Simalungun  Akhirnya mengakibatkan 5 kecamatan yang terdiri dari kecamatan Padang Hulu, kecamatan Padang Hilir, kecamatan Tebingtinggi Kota, kecamatan Bajenis dan terakhir kecamatan Rambutan terendam air.

Daerah yang terdampak banjir antara lain Purnama Deli, jalan Thamrin, jalan MT Haryono, Kampung Rao, kawasan Pasar Mini dan lainnya. Akibatnya arus lalu lintas macet total dan perekonomian lumpuh total.

Sementara Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tebing Tinggi, Wahid Sitorus saat dikonfirmasi wartawan mengatakan,  bahwasanya banjir yang terjadi karena curah hujan yang melebihi kapasitas. Dimana debit air dari curah hujan yang cukup tinggi di kota Tebing Tinggi dan kiriman dari kabupaten Simalungun, akhirnya mengakibatkan banjir. 

Saat ini 3686 warga masyarakat yang terdampak banjir dari 4 wilayah kecamatan di kota Tebing Tinggi. Dalam hal ini Pemko diwakili Dinas Sosial, Dinas Kebakaran, BPBD dibantu TNI/POLRI sedang lakukan evakuasi semenjak Minggu(21/11/21) sekira pukul 10.00 wib.

"Saat ini pemko fokus memberikan bantuan pasa masyarakat terdampak banjir, seperti beras, telor san indomie", jelas Wahid.

Mengenai banyaknya bronjongan di kawasan sungai merupakan meminalisir debit air yang melimpah dan mengakibatkan banjir. Jadi bukan menghempang atau mentotalkan berhentinya banjir.

"Skala prioritas yang membuat terjadinya banjir adalah mengwnai saluran pembuangan air dari rumah penduduk ke sungai dan gorong gorong. Dimana air yang meluap dari sungai, kembali masuk melalui saluran pembuangan dan naik kepermukaan", terang Wahid.

Saat ini posko pengungsian disediakan sebanyak 15 titik untuk menampung warga yang sewaktu waktu mendapat kiriman dan hujan yang terus menerus.

"Terkait dengan tembok penahan yang berada di wilayah kp Semut, kecamatan Tebing Tinggi Kota belum rampung pembangunannya. Kemungkinan besar tahun depa n akan dirampungkan. Dan selanjutnya pihak BPBD akan membangun tembok penahan", tegas Wahid

Sementara ditempat terpisah, warga masyarakat yang peduli dengan kota Tebing Tinggi, Opung Amoren mengatakan pada wartawan, sangat menyayangkan sikap Pemko melalui BPBD dalam penanganan banjir. Karena banjir besar yang dialami kota Tebing Tinggi yakni tahun 2001dengan banjir besar.

"Pemko seharusnya memiliki pengalaman yang mumpuni terkait banjir hingga tahun 2021. Dimana pihak pemko hanya berlomba lomba membangun bronjongan disepanjang sungai. Sepertinya kota Tebing Tinggi ingin dibangun menjadi kota DESTINASY bronjongan", sengit Amoren.

Ditambahkannya, setiap penghujung tahun terjadi banjir, dalam hal ini diduga pihak Eksekutif yakni dinas terkait membuat perencanaan dengan legislatif untuk memasukkan anggaran di APBD maupun P-APBD untuk menggelontorkan dana untuk pembangunan bronjongan. Betapa naifnya dana yang digelontorkan setiap  tahun tidak mampu meminalisir banjir. Seharusnya pihak pemko mengambil konsultan tehnim untum membuat kanal, mengorek kedalaman sungai maupun memperlebar sungai. Kalaupun ada tanah masyarakat yang harus korban untuk pelebaran sungai diberikan ganti rugi.

"Perlu diketahui dana APBD maupun P-APBD yang digunakan merupakan dana PAD(Pendapatan Asli Daerah) yang artinya merupakan pajak rakyat. Jadi tolonglah lakukan yang terbaik buat rakyat" harap Amoren.