SIANTAR, HETANEWS.com - DPRD Kota Siantar menilai pusat perbelanjaan Ramayana kurang memberi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemko Siantar.

Persoalan ini kembali muncul, setelah terakhir kali disinggung DPRD bersama Pemko melalui pengelolaan kekayaan dan aset daerah BPKAD pada tahun 2019.

Hal serupa kembali dibahas dalam rapat gabungan komisi dalam perencanaan APBD Tahun Anggaran 2022, di Komisi II DPRD Siantar, Rabu (17/11/2021).

Sekedar informasi, adapun nilai kontrak yang diserahkan pihak Ramayana besarannya Rp 56 Juta per tahun.

"Mengingat dari Bangun Guna Serah (kompensasi Ramayana) dinilai sangat kecil, maka surat perjanjian kerjasama antara Pemko Siantar dengan PT Inti Griya Prima Sakti tanggal 27 Januari 2004 agar ditindaklanjuti dengan semestinya," kata Sekretaris Komisi II, Netty Sianturi.

Baca juga: Jelang Tutup Tahun, Ramayana Siantar Diduga Lakukan PHK Sepihak

Netty berharap agar salah satu aset Pemko tersebut dikelola dengan baik demi meningkatkan PAD Kota Siantar.

"Ke depannya aset tersebut agar dikelola Pemerintah kota guna peningkatan PAD," ucap Netty dalam rapat yang dihadiri Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kota Siantar.

Anggota Komisi II, Suwandi Sinaga, menyebut kontribusi yang dihasilkan dari ruko-ruko di Kota Siantar lebih baik dibanding dengan Ramayana.

"Kita harus merevisi MoU itu mengingat hasil pengawasan kita bahwa pendapatan Pemko Pematangsiantar dari Ramayana hanya Rp 56 juta setahun. Sementara sewa rumah toko di Jalan Sutomo hampir ratusan juta setahun," tegasnya.

Baca juga: Warga Mulai Khawatir, Dampak Videotron Beriklan Rokok Kepada Pelajar

Atas rekomendasi dari para anggota dewan tersebut, Masni selaku Kepala BPKD akan meninjau ulang retribusi yang diberikan Ramayana, sehingga di tahun 2022 retribusinya ditingkatkan.

"Kita akan sikapi pada tahun 2022 ini. Kita akan tinjau kembali di mana kompensasi yang diberikan, besarannya Rp 56 juta/tahun. Kita akan diproyeksikan pada tahun 2022 supaya naik dari Rp 56 juta/tahun dan mengikuti harga pasar," ujar Masni.

Baca juga: Klaim Omset Menurun, Perjanjian Kontrak Ramayana Perlu Ditinjau