HETANEWS.com - Sejak kejadian pada 18 Agustus 2021 lalu, kasus pembunuh ibu dan anak di Subang Jawa Barat, hingga hari ini Minggu 14 November 2021 belum juga terungkap.

Polisi belum ada tanda-tanda akan mengerucutkan sebuah nama yang diduga kuat sebagai pelaku utamanya. Penyidik masih bekerja keras berupaya mengkroscek dan mengumpulkan bukti-bukti.

Kondisi itu telah mengundang keprihatinan sejumlah pakar untuk ikut menanggapi, memberikan masukan dan mengkritisi kinerja penyidik dalam kasus pembunuh ibu dan anak di Subang.

Mantan Kapolda Jawa Barat (Jabar) dan Kadiv Humas Mabes Polri,  Irjen. Pol. (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, MPKN misalnya mengatakan, karena kasus pembunuh ibu dan anak di Subang bukan lagi isu Jabar tapi sudah nasional, maka harus segera dituntaskan.

“Jangan sampai (jika tidak terungkap) nanti dianggap Polri tidak mampu atau dianggap Polri menutupi kasus atau dianggap Polri tidak berani,” kata Anton Charliyan dalam wawancara khusus dengan DeskJabar Pikiran Rakyat.com, pekan lalu.

Anton Charliyan, yang pernah sukses menangani dua kasus pembunuhan besar yang menjadi isu nasional bahan internasional yaitu aktivis buruh Marsinah di Jawa Timur dan aktivis HAM, Munir menyarankan, polisi harus terus berupaya keras mengungkap kasus pembunuh ibu dan anak di Subang dengan segala kemampuan yang dimiliki.

“Tidak ada satu permasalahan yang rumit sekalipun yang tidak bisa diungkap. Kuncinya adalah penyidik harus ulet, serius dan harus berdasarkan scientific crime investigation”, ujarnya.

Bila perlu, kata Anton, dibentuk satu tim khsusus semacam tim independen. Tim independen ini menampung isu-isu dari luar.

“Kumpulkan para ahli-ahli  penyidikan yang ada di sekitar Jabar. Banyak ahli penyidik itu baik yang masih berdinas maupun yang sudah pensiun”, ujar Anton Charliyan.

Sementara itu, pakar telematika dan informatika Roy Suryo memaklumi soal kendala yang dihadapi kepolisian sehingga mengakibatkan berlarurnya kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, yakni tidak adanya saksi langsung dan rekaman CCTV yang  bisa dapat membantu penyidikan.

Namun begitu, agar kasus pembunuh ibu dan anak di Subang cepat terungkap, mantan Menpora di era Presiden SBY menyarankan agar  lebih memaksimalkan lagi  teknologi yang ada.

“Misalnya pembacaan CDRI (Call Data Record Information) dari nama-nama yang saya sebut di atas. Pra, saat dan pasca kejadian, dengan tentang waktu seminggu bahkan sebulan sebelum dan sesudahnya”, saran Roy Suryo kepada DeskJabar Pikiran Rakyat.com awal November lalu

Soal alat tes kebohongan atau ‘Lie Detector’ yang digunakan kepolisian dalam mengungkap kasus pembunuh ibu dan anak di Subang,  Roy Suryo mengungkapkan hal itu sudah benar.

Hanya, kata Roy Suryo, perlu dilakukan lagi pada subyek-subyek yang terkait dengan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang lainnya, disertai sampel pertanyaan yang lebih bisa ‘menjebak’ jawaban.

Pasalnya menurut Roy Suryo, berdasar pengalamannya selama ini, beberapa orang yang memang pandai dan terbiasa berakting,  mereka bisa ‘mengelabui’ Lie Detector ini. Mereka menguasai seni peran dan emosi saat dipindai dengan sensor-sensor Lie Detector.

“Harus LD (Lie Detector) yang canggih, bukan yang hanya mengandalkan sensor nadi saja”, kata Roy Suryo.

Sebab itu, ujar Roy Suryo, belum terungkapnya kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, itu mungkin pelaku sudah sangat profesional dan  mengerti tahapan-tahapan penyidikan.

Dan bukan tidak mungkin dia (pelaku), jelas Roy Suryo berasal dari oknum  disersi aparat  tertentu. Dia mengerti tentang Ilmu Dactiloscopy (Sidik jari) termasuk cara-cara menghilangkannya di TKP, sehingga semua potensi  jejak bisa dia hapuskan.

Sedangkan Prof. Adrianus Meliala pada acara live ‘Forensic Talk’ dengan tema ‘Kasus Subang’ yang diselenggarakan  Pusat Forensik Terintegrasi Universitas Indonesia (UI)  awal  November 2021 lalu mengkhawatirkan, lambatnya pengungkapan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang karena (misalnya) ada niat buruk menghilangkan barang bukti.

“Atau ada skenario, yang ujung-ujungnya orang yang tidak bersalah dipersalahkan dan orang yang salah justru bisa bebas”, ujar pakar kriminologi dan kepolisian itu

Namun kekhawatiran Adrianus Meliala, dengan tegas dijawab oleh pakar forensik Polri dr. Sumy Hastry Purwanti  yang hadir sebagai nara sumber pada acara tersebut.

Dr. Hastry --demikian panggilannya--  berani menjamin para penyidik yang terlibat dalam kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang punya keinginan kuat untuk mengungkap kasus dengan sebenar-benarnya.

“Tidak akan terjadi, mereka (penyidik) bekerja pakai hati. Benar-benar ingin mengungkap sampai tuntas. Saya yakin 100 persen (kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang) akan terungkap”, kata Hastry.

Baca juga: Bisa Jadi, Ini Alasan Polisi Keukeuh Tidak Periksa Banpol di Kasus Pembunuh Ibu dan Anak di Subang

Heri Gunawan: Terlalu fokus ke orang dekat

Pakar dan praktisi hukum dari Bandung, DR Heri Gunawan mempunyai pandangan lain tentang lambatnya pengungkapan pembunuh ibu dan anak di Subang ini.

Menurut dia, sulitnya pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang itu karena memang sejak awal penyidikan, penyidik sudah berstatemen bahwa pelakunya orang dekat. Maka, penyidikan pun berkutat pada orang-orang itu saja.

“Tidak ada pengembangan lain. Informasi-informasi di luar yang (seharusnya) bisa diambil penyidik (dibiarkan) karena mereka berstatemen menyatakan bahwa ini pelakunya orang dekat”, kata Heri Gunawan.

Padahal seharusnya, tegas Heri Gunawan, terlepas pelaku pembunuh ibu dan anak di Subang orang dekat atau bukan, informasi apapun apalagi terkait dengan perkara ini harusnya diperiksa baik itu orang dekat ataupun orang jauh.

“Jadi ini jadi kusut, ruwet berkutat di situ-situ juga karena berpikirnya orang dekat orang dekat. Maka begtu muncul Banpol saja, ini jadi semacam tanda kutip (penyidik) seolah-olah tidak menerima gitu lho. Keterangan ini gitu lho”, ujar Heri Gunawan.

Baca juga: Update Kasus Subang, Yosef Bantah Tuduhan Yoris: Hanya Pergi Selamatkan Kucing di TKP

Kronologis kejadian

Sekedar mengingatkan, kasus pembunuhan Subang atau pembunuh ibu dan anak di Subang yang meminta korban jiwa Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23) ini cukup tergolong sadis.

Jasad Tuti (ibu) dan Amalia (anak) ditemukan sudah tak bernyawa penuh darah di dalam bagasi mobil Toyota Alphard milik korban yang diparkir di halaman rumahnya di Kampung Ciseuti, Kecamatan Jalan Cagak. Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Adalah Yosef --belakangan disebut netizen sebagai Yosef Subang-- suami Tuti sekaligus ayah Amalia, yang pertama kali mengetahui dan menemukannya pada Rabu 18 Agustus 2021. Saat itu, Yosef Subang baru datang  ke rumah itu sehabis menginap di rumah istri mudanya.

Kronologisnya, saat hendak masuk rumah, ternyata sudah berantakan dan penghuni rumah Tuti dan Amalia tidak ditemukan. Lalu Yosef Subang bergegas menuju kantor polisi untuk melapor.

Tak lama kemudian, Yosef Subang  bersama polisi akhirnya mayat kedua korban ditemukan di dalam bagasi mobil Alphard dengan keadaan bertumpuk.

Beberapa hari kemudian, polisi memastikan jika korban Tuti dan Amalia meninggal dunia karena ada yang membunuh.

Hingga hari ini, Minggu 14 November 2021 atau sudah mau menjelang 3 bulan sejak kejadian, kasus pembunuhan Subang atau pembunuh ibu dan anak di Subang belum terungkap juga.

Polisi masih terus berupaya keras mengumpulkan, mencocokan dan menganalisa bukti-bukti yang didapat di lapangan.

Baca juga: Fakta Terbaru Kasus Pembunuh Ibu dan Anak di Subang, Selain Danu, Yosef dan Mulyana juga Masuk TKP

Sumber: pikiran-rakyat.com