BAGIAN III- Pada saat saya menelepon Sudjito dan menceritakan kejadian tersebut, Sudjito menyarankan kami untuk tenang dulu dan mengirim uang Rp 5 Juta kepada saya dan Rp 10 Juta kepada Almarhum Praka Awaludin.

Dan menyuruh kami keluar dulu dari Kota Pematangsiantar. Sudjito juga memaksa kami untuk membuang handphone dan mengancam tidak mau bertanggung jawab kepada saya bila handphone saya tidak dibuang. 

Sudjito juga mengirim uang Rp 3 Juta untuk mengganti handphone tersebut dua hari di Medan 

Setelah peristiwa tersebut, saya dan Almarhum Praka Awaludin kembali ke Siantar.

Minggu 20 Juni 2021, setelah di Siantar saya mengajak Almarhum Praka Awaludin mengambil senjata api dari kuburan Ayah saya dan menyerahkan diri. 

Tetapi hal itu membuat Almarhum Praka Awaludin marah dan berkata Sudjito dan dirinya tidak akan membiarkan saya melakukannya dan menyuruh saya memikirkan anak istri saya bila melakukan hal itu. 

Senin 21 Juni 2021 saya mendapat telepon dari kepolisian Pematangsiantar dan mengajak saya bertemu dan mengarahkan saya ke Brimob Siantar. 

Hingga Selasa 22 Juni 2021, saya masih merasa takut dengan ancaman Almarhum Praka Awaludin dan Sudjito tentang anak dan istri.

Tetapi karena rasa bersalah dan takut akan dosa yang telah saya perbuat, saya memutuskan menyerahkan diri dan menceritakan perbuatan  tersebut di hadapan penegak hukum. 

Tulisan tangan Yudi Pangaribuan. Pengacara Yud, Marihot F Sinaga mengizinkan Hetanews mengutip surat tersebut.

Bahwa yang dari yang saya sampaikan ini, saya sangat berharap perlindungan dari Bapak Presiden RI, Kepolisian, LPSK dan LPSK dan pihak-pihak yang dapat melindungi anak dan istri dan keluarga saya.

Karena jujur selama masalah ini bergulir, saya selalu mendapat tekanan bukan dari keluarga korban melainkan dari pihak yang tidak saya kenal sebelumnya.

Saya tidak meminta kebebasan. Namun jika pun saya menjalani hukuman, setidaknya hukuman tersebut adalah hukuman yang adil dan dapat saya jalani tanpa tekanan dari pihak manapun.

Saya juga mengharapkan ketulusan pihak penegak hukuman agar membawa fakta dan mengangkat fakta yang sebenarnya tanpa mengurangi bagian-bagiannya di persidangan.

Agar permasalah ini terang benderang dan tidak ada ketimpangan yang terjadi.

Saya sadar. Saya hanya mampu berdoa dengan tulus kepada Tuhan agar mengetuk hati para penegak hukum dalam memberikan keadilan atas saya.

Saya mengucapkan terimakasih yang paling dalam, semoga Tuhan menolong saya. Almarhum Praka Awaludin hanya berniat dan saya hanya berniat menganiaya tapi tidak untuk membunuh.

Almarhum Praka Awaludin disuruh membunuh tapi tidak kami lakukan. Namun takdir berkata lain. Penganiayaan yang turut serta saya lakukan, untuk pertama kali memberikan saya pelajaran hidup dan penyesalan yang mendalam.

Terimakasih dan mohon maaf…

Hormat Saya,
Yudi Fernando Pangaribuan 

Baca juga: Surat Yudi dari Balik Jeruji: Ketakutan Ingin Bunuh Diri

Baca juga: Surat Yudi dari Balik Jeruji: Maafkan Saya Bang Marsal