BAGIAN II - Sudjito pada saat itu memerintahkan saya untuk membantu Almarhum Praka Awaludin mengetahui keberadaan Almarhum Mara Salem Harahap. 

Dan Sudjito berkata urusan tentang Almarhum Mara Salem Harahap sudah diserahkan kepada Almarhum Praka Awaludin. 

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Sudjito mengirimkan slip transfer sebesar Rp 15 Juta dari rekening BCA an Sudjito ke rekening BRI an Awaludin Siagian, yang terakhir saya ketahui untuk membeli Senjata Api dari pemberitaan Almarhum  Praka Awaludin.

Hingga dua atau tiga hari sebelum peristiwa itu, Almarhum Praka Awaludin mengajak saya bertemu dan bercerita, bahwa dia tidak berani membunuh Almarhum Mara Salem Harahap dan hanya berani memberikan shock therapy Almarhum Mara Salem Harahap, dengan menggunakan senjata api karena senjata tersebut sudah terlanjur dibeli.

Hingga pada siang itu, 18 Juni 2021 Almarhum Praka Awaludin  menjemput saya dan mengajak saya untuk membantunya membawa sepeda motor karena Almarhum Praka Awaludin takut kehilangan kendali saat mendatangi rumah Almarhum Mara Salem Harahap. 

Sepanjang hari itu Almarhum Praka Awaludin menyakinkan saya kalau tujuannya bukan menghabisi Almarhum Mara Salem Harahap. 

Tulisan tangan Yudi Pangaribuan. Pengacara Yud, Marihot F Sinaga mengizinkan Hetanews mengutip surat tersebut.

Dan pada saat itu Almarhum Praka Awaludin mengajak saya minum tuak di Alvina Hotel. Hingga pada saat kami tengah mabuk, Praka Awaludin sempat meninggalkan saya dengan teman temannya di Alvina Hotel dan kembali dengan membawa senjata.

Setelah mabuk, Almarhum Praka Awaludin mengajak saya untuk meminjam sepeda motor setelah sempat singgah di Ferrari KTV dan sempat menguji senjata yang dibawanya.

Setelah meminjam sepeda motor, Almarhum Praka Awaludin memerintahkan saya untuk menuju ke rumah Almarhum Mara Salem Harahap untuk melakukan teror di rumah Almarhum Mara Salem Harahap.

Namun setibanya di sana, Almarhum Praka Awaludin mengajak kembali karena yakin Almarhum Mara Salem Harahap tidak ada di rumah. 

Namun di perjalanan kami berpapasan dengan korban Almarhum Mara Salem Harahap. 

Almarhum Praka Awaludin memerintahkan saya mengejar dan mendahului mobil Almarhum Mara Salem Harahap.

Dan saat berpapasan kembali di jalan rusak yang menjadi lokasi peristiwa tersebut, senjata  Almarhum Praka Awaludin meledak dan Almarhum Praka Awaludin memerintahkan saya menambah laju sepeda motor.

Dan berupaya menenangkan saya dan berkata bahwa Almarhum Mara Salem Harahap tidak akan kenapa- napa karena Almarhum Praka Awaludin menembak ke arah bawah. 

"Gas bang, nggak apa apa itu. Ke bawah kalinya ku tembak." 

Saya yang merasa terkejut sekaligus takut hanya mengikuti arahan Almarhum Praka Awaludin hingga kami menukar kembali sepeda motor dan kembali ke Ferrari KTV. 

Hingga kabar meninggalnya Almarhum Mara Salem Harahap membuat saya dan Almarhum Praka Awaludin ketakutan. Karena apa yang kami takutkan malah terjadi. 

Di Ferrari KTV Almarhum Praka Awaludin sempat ingin bunuh diri dengan mengarahkan senjata ke dagunya dari bawah karena saya mengajaknya menyerahkan diri.

Almarhum Praka Awaludin menolak dan membujuk saya untuk menyimpan senjata api  tersebut dan menyuruh saya untuk menghubungi Sudjito dan bertanya apa yang harus dilakukan. (bersambung)

Baca juga: [Bagian ISurat Yudi dari Balik Jeruji: Maafkan Saya Bang Marsal