TEBING TINGGI, hetanews.com - Penjemuran ampas ubi bercampur dengan bongkol ubi dikawasan kampung Karo kota TebingTinggi tepatnya jalan Perjuangan, lingkungan 6, kelurahan Tebingtinggi, kecamatan Padang Hilir, kota TebingTinggi menuai protes dari masyarakat, selain memiliki bau yang kurang sedap, Dewan Pimpinan Nasional Lingkungan Konservasi Lingkungan Hidup (DPN LKLH) menduga pengusaha tidak memiliki izin dokumen lingkungan, seperti yang tertera pada UU no 32 tahun 2009 yang mengatur tentang setiap usaha memiliki izin lingkungan.

Menurut Dewan Pimpinan Nasional Lingkungan Konservasi Lingkungan Hidup (DPN LKLH), M.Anwar selaku koordinator wilayah Sumut pada kru hetanews mengatakan, Jumat (29/10/2021) perlunya pengusaha memiliki izin lingkungan untuk mengantisipasi pencemaran lingkungan.Dimana pencemaran itu melalui udara, seperti bau busuk yang ditimbulkan ampas ubi.

"Dengan mencium aroma busuk yang bersumber dari ampas ubi tersebut dapat mengakibatkan udara sekitar lingkungan warga tidak segar", papar Anwar.

Lanjutnya, penjemuran ampas ubi dapat dilakukan jika jauh dari pemukiman warga. Melihat lokasi penjemuran, dimana keberadaannya tidak lebih 200 meter dari pemukiman warga, maka hal ini tidak layak.

"Dalam hal ini pihak dinas terkait di wilayah kota TebingTinggi segera menertibkan pengusaha demi kenyamanan warga menikmati udara segar", imbuh Anwar.

"Selaku lembaga konservasi lingkungan hidup, pihaknya akan menyurati instansi yang berwenang, yakni dinas lingkungan hidup untuk segera menertibkan para pengusaha yang diduga hanya untuk mencari keuntungan semata. Artinya tanpa memikirkan pada ke segaran udara kelak ke masa yang akan datang", tegas Anwar.

Bahan baku yang menimbulkan aroma bau, akan membawa dampak negatif. Yakni semakin banyaknya lalat berkerumun di sekitar penjemuran ampas ubi.

"Akibat banyaknya lalat, akan membawa penyakit berupa bakteri yang berada di sekujur tubuh lalat. Akibatnya dapat membawa sumber penyakit di pemukiman warga", jelas Anwar.

Ditambahkan Anwar, guna dari penjemuran ampas ubi untuk pakan ternak. Sistim kerjanya, ampas ubi beserta bongkol kayu dijemur hingga kering betul. Setelah dianggap kering, kemudian dilakukan penggilingan.

"Untuk menghasilkan pakan ternak yang berkwalitas, bahan baku harus dikeringkan sedemikian rupa. Setelah dianggap kering, kemudian dilakukan penggilingan",jelas Anwar.

Hetanews mencoba komfirmasi terkait hal tersebut, namun yang menjawab hetanews adalah pekerja dari pengusaha saja, ketika ditanya siapa pengusahanya, pekerjanya mengaku tidak mengetahui siapa pengusahanya.