SIMALUNGUN, Hetanews.com - Pengadilan Negeri Simalungun mulai menggelar persidangan kasus pembunuhan wartwan Mara Salem Harahap als Marshal yang dilakukan oleh Sudjito (57) pemilik usaha KTV Ferrari dan Yudi Fernando Pangaribuan (31), Kamis (28/10). Sidang perdana dipimpin hakim Vera Yetti Magdalena dengan hakim anggota Aries K Ginting dan Mince Setyawati Ginting.

Dakwaan JPU, Firmansyah menyebutkan jika Sudjito als Gito, merasa kesal dengan pemberitaan negatif di Media milik Marsal Lassernewstoday.com. Akibat sering diberitakan negatif tersebut mengganggu aktifitasnya mencari nafkah dan membuat usahanya tidak beroperasi lagi. 

Meski Marsal sudah diberi jatah Rp 1 juta/bulan namun tetap diberitakan negatif. Terdakwa melalui Yudi sudah memberi tawaran kepada Marsal menjadi Rp 2.500.000/bulan tapi gagal karena Marsal meminta jatah Rp 12 juta setiap bulan dengan rincian setiap harinya menerima Rp 2 butir pil yang dirupiahkan Rp.200 ribu/butirnya.

Terdakwa Gito semakin kesal dan memerintahkan agar Marsal "dibunuh atau dibedil". Yudi menjelaskan jika tidak ada yang mau membunuh Marsal, dan Gito memerintahkan Yudi untuk menghubungi Awaluddin yang merupakan bagian keamanan di KTV Ferrari dengan imbalan Rp 30 juta.

Awaluddin yang disebut sebagai anggota TNI (tersangka dan telah meninggal dunia sesuai Surat Keterangan Kematian No 171/SKK/IX/2021 tanggal 13 September dari Rumah Sakit Tingkat II 01.05.01 Putri Hijau Medan) membeli senjata dari Dani Effendi (anggota TNI yang disidangkan sebagai terdakwa di Pengadilan Militer) seharga 15 juta. Uang pembelian senjata diberikan terdakwa Sugito melalui transfer rekening BCA. 

Terdakwa bersama Yudi dan awal merencanakan pembunuhan Marsal disebutkan dalam dakwaan JPU alinea ke-7 ..."pada hari Minggu tanggal 06 Juni 2021, terdakwa Sudjito als Gito mengundang Yudi Fernando Pangaribuan dan Awaluddin bertemu di rumahnya di Jalan Seram Bawah No. 42 Kelurahan Banten Kecamatan Siantar Barat Kota Pematangsiantar untuk merencanakan membunuh Marasalem Harahap als Marsal...dst".

Hingga akhirnya Marsal berhasil ditembak oleh Awal pada Sabtu, 19 Juni 2021 dinihari di Nagori Karang Anyer sekitar 300 meter dari rumahnya. Korban ditemukan luka tembak pada paha kiri atas dan tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Mendapatkan informasi dari Yudi dan Awal jika Marsal sudah mati, Terdakwa merasa takut lalu memberikan sejumlah uang kepada Yudi dan Awal untuk menenangkan diri di Medan. Senjata api jenis Colt Pabrikan United State Properti Mode M1911 A1 US Army Nomor: N222501621295 disimpan di lokasi pemakaman ayahnya Yudi di Jalan Rakutta Sembiring Gang Tenang Kelurahan Nagapita Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematang.

Sejumlah handphone milik Sudjito dan Yudi dibuang untuk menghilangkan barang bukti. Gito dan Yudi disidangkan dalam berkas terpisah. Untuk Sudjito als Gito Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHPidana, Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHPidana, Pasal 353 ayat (3) jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHPidana. Juga melanggar pasal 340 jo Pasal 56 ke-2 KUHPidana, Pasal 338 jo Pasal 56 ke-2 KUHPidana dan Pasal 353 ayat (3) jo Pasal 56 ke-2 KUHPidana

Untuk Yudi Fernando Pangaribuan melanggar Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, Pasal 353 ayat (3) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Juga pasal 340 jo Pasal 56 ke-1 KUHPidana, Pasal 338 jo Pasal 56 ke-1 KUHPidana dan Pasal 353 ayat (3) jo Pasal 56 ke-1 KUHPidana.

Atas dakwaan jaksa, pengacara Sugito tidak mengajukan eksepsi, sedangkan Yudi melalui pengacaranya Marihot F Sinaga SH akan mengajukan eksepsi (keberatan atas surat dakwaan). 

Untuk perkara Yudi akan kembali dibuka pada 4 Nopember mendatang. Sedangkan dalam perkara Gito akan dibuka kembali pada Rabu (24/11) mendatang. Menunggu pembacaan putusan Sela perkara Yudi, sehingga pembuktian untuk mendengarkan keterangan saksi-saksi akan dilakukan bersama sama, baik dalam perkara Yudi maupun Sudjito, jelas Vera Yetti sambil menutup sidang.