SIMALUNGUN, hetanews.com – Banyak warga yang berkeluh kesah karena baru saja ditipu oleh seorang penelpon, ada yang mengatas namakan saudara yang ditangkap, barang yang mau dilelang, dan berbagai hal, yang mana warga karena panik atau pun berharap mendapat keuntungan tertarik dan mentransferkan sejumlah uang.

Setelah menyadari bahwa dirinya telah ditipu, yang bersangkutan langsung melaporkan kepada pihak berwajib. Pihak kepolisian tidak mampu menelusuri lebih dalam sindikat ini, karena no hp yang terdaftar dan no rekening bukan atas nama orang yang melakukan penipuan. Pihak kepolisian hanya mampu menelusuri melalui GPS, dan Lapas Siantar menjadi salah satu pusat penipuan tersebut.

Hetanews.com yang melihat keresahan masyarakat ini mulai menelusuri hal tersebut, dan didapat Z dan IWT menjadi bos besar penipuan tersebut kalau di lapas lebih dikenal sebagai ‘parengkol’. Z bertugas untuk mengumpulkan para napi untuk melakukan aksi penipuan sedangan IWT lebih bertugas untuk membuat rekening, kemana uang tersebut untuk ditransfer.

Karena mendapat keuntungan yang besar maka banyak napi yang mau menjalankan tugas untuk menelpon para korban dibawah komando Z, sedangkan hasil penipuan akan dikelola secara baik oleh IWT, salah satu napi karena kasus narkoba jenis sabu sabu sebanyak 8 kg di Tanjung Balai.

Apakah kegiatan tersebut dilakukan secara sembunyi sembunyi tanpa diketahui oleh para oknum pegawai, salah satu nara sumber hetanews yang sekarang menjadi napi di lapas Siantar tersebut menyebutkan bahwa parengkol mendapat back up atau dukungan dari pegawai lapas.

Disebut-sebut salah satu oknum pegawai lapas Siantar yang menonjol untuk mendukung kegiatan penipuan tersebut adalah AS. Tugas dari oknum tersebut adalah menagih iuran perminggu dari para oknum napi yang menggunakan hp. Karena itu para napi bebas menggunakan hp untuk menjalankan aksi penipuan.

Terkait hal tersebut, hetanews mencoba menghubungi Kalapas Rudi F Sianturi menanyakan hal tersebut. Ternyata hingga dengan sekarang aksi yang dilakukan oleh kalapas tersebut diam tanpa menjawab. Apakah dengan diamnya kalapas memberikan arti bahwa informasi tersebut benar benar ada?.

Seharusnya kalapas dan para pegawainya mendidik para napi untuk kembali ke jalan yang benar bukan malah menjadi pelindung bagi para napi untuk melakukan prakter penipuan. Warga berharap para napi yang ada di lokasi tersebut selama dalam tahanan mendapat pendidikan yang benar bukan malah semakin mendapat ilmu dibidang kejahatan.