Jakarta, hetanews.com - Jubir vaksinasi corona Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menegaskan gelombang ketiga corona pasti terjadi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan sifat SARS-CoV-2 yang tertera pada jurnal ilmiah yang dikeluarkan para ahli.

"Kita tahu bahwa dari jurnal ilmiah menyatakan bahwa COVID menimbulkan gelombang epidemiologi berkali kali. Tidak cukup ia mencapai satu puncak gelombang kemudian turun seperti yang saat ini kita alami," kata Nadia dalam diskusi daring yang dihelat Viva.co.id, dikutip kumparan, Jumat (22/10).

"Dia akan menimbulkan serangan beberapa kali baru mungkin nanti dengan vaksinasi lebih luas bukan hanya masyarakat Indonesia tapi global baru akan terjadi penurunan kasus," imbuhnya.

Indonesia sudah mengalami dua gelombang puncak corona. Pertama pada Januari 2021, yang kedua Juni-Juli 2021.

Nadia menjelaskan, gelombang ketiga itu pasti terjadi. Kemungkinan besar di akhir tahun 2021 atau awal 2022. Contohnya sudah terjadi di sejumlah negara. Seperti di Inggris hingga Amerika Serikat.

"Gelombang ketiga adalah sesuatu yang niscaya atau pasti terjadi. Karena apa? Negara yang sudah mengalami gelombang ketiga memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi, memiliki tingkat prokes yang sudah baik seperti di Inggris, AS, prokesnya lebih relaksasi," jelas dia.

"Mereka sudah enggak pakai masker di tempat terbuka, jaga jarak sudah tak ada. Sementara cakupan vaksinasi 70 persen tapi begitu ada varian Delta mereka struggling meski kematian rendah," imbuhnya.

Apalagi peningkatan mobilitas diprediksi bakal terjadi di libur Natal dan Tahun Baru. Di saat yang sama selalu ada potensi peningkatan kasus.

Oleh karena biasanya relaksasi aktivitas sosial termasuk ibadah dan ekonomi akan berdampak ke kesadaran masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.

"Kita tahu akhir tahun ini ada beberapa hal yang berpotensi memicu kenaikan kasus. Maulid Nabi, cukup banyak pergerakan terjadi Perayaan Natal dan Tahun Baru," jelas dia.

Seberapa genting situasi gelombang ketiga nanti?

"Kalau kita bandingkan dengan gelombang pertama pasti lebih tinggi karena jenis virusnya berbeda. Bahkan kita mengalami kasus yang lebih tinggi pada Juli kemarin sampai 54 ribuan kasus," tutur Nadia.

Angka kasus pada gelombang ketiga bisa ditekan apabila vaksinasi semakin luas. Kesadaran masyarakat tentunya juga harus dijaga.

"Seberapa besar yang terjadi di Desember 2021 atau Januari 2022. Beberapa ahli membuat modelling ya, ada yang menyebut kondisinya bisa sama di 2020/2021, bisa sedikit meningkat, atau bahkan lebih tinggi dari Juni. Itu tidak inginkan, situasi yang mencekam sekali," ungkapnya.

"Apa yang kita bisa lakukan? Balancing vaksinasi, testing yang cepat untuk dapat kasus positif dipisahkan dari kasus negatif, lalu dengan cara prokes. Artinya kita harus tahu tidak penting melakukan aktivitas kita tidak perlu supaya pergerakan masyarakat hanya yang esensial," tutup Nadia.

sumber: kumparan.com