SIMALUNGUN, Hetanews.com - Terbukti Membunuh korban Porta br Tumanggor, 2 Dua ibu rumah tangga (IRT) asal Tano Tinggir Kecamatan Purba Simalungun, masing masing divonis 8 tahun penjara potong tahanan sementara yang telah dijalani.

Dua terdakwa, Anaria Sipayung (29) dan Nurhalimah Telaumbanua (25) terbukti membunuh korban dan dinyatakan bersalah melanggar pasal 365 ayat (3) Jo pasal 55 (1) ke-1 KUH Pidana. 

Putusan tersebut dibacakan ketua majelis hakim Roziyanti SH didampingi dua hakim anggota Anggreana ER Sormin SH dan Yudi Dharma SH, dalam persidangan terbuka untuk umum, Senin (28/10) di Pengadilan Negeri Simalungun. Vonis hakim konform (sama) dengan tuntutan pidana JPU Julita Nababan SH.

Sesuai fakta persidangan menurut hakim, peristiwa pembunuhan terhadap korban Porta br Tumanggor terjadi pada Kamis, 27 Mei 2021 di perladangan kopi dan cabai milik Turnip di Nagori Tano Tinggir Kecamatan Purba. Korban ditemukan tidak bernyawa lagi oleh saksi Yesi Marlina Turnip pada malam hari sekira pukul 11.47 wib.   

Dengan posisi leher terikat kain sarung dan tali tas tergantung di pohon kopi. Korban terduduk juga terikat bagian kaki dan tangan menggunakan jaket putih.     

Kedua pelaku ditangkap, 2 hari kemudian di salah satu penginapan di kota Medan tepatnya pada 29 Mei 2021. Setelah tertangkap, terungkaplah motif pembunuhan yang dilakukan ke-2 IRT tersebut.       

Awalnya, kedua pelaku dengan membawa anak anaknya berjalan hendak meninggalkan kampung ke arah Seribu Dolok karena sering bertengkar dengan suaminya. Di tengah perjalanan, mereka berisitirahat di salah gubuk dalam perladangan Samaraja Purba.    

Saat berisitirahat melihat korban sedang memanen cabe dan timbul niat kedua terdakwa mengambil uang korban, karena mereka tidak punya uang. Lalu meminta air minum korban dan mengambil sarung yang ada dekat korban sembari menutup bagian wajah korban dan menarik tas korban.       

Korban berteriak, kedua pelaku ketakutan dan meminta maaf karena korban akhirnya mengenali kedua pelaku. Karena korban mengancam akan memberitahukan kepada warga, maka pelaku kembali menutup wajah korban dan membekap mulut dan hidung korban. Lalu kain sarung dililitkan ke leher sembari menarik ujung kain dari kanan dan kiri yang menyebabkan korban mati lemas. Setelah korban tewas, didudukkan di bawah pohon kopi dan tali tas dililitkan ke pohon (kondisi korban sesuai hasil temuan saksi Yesi).       

Persidangan dipimpin hakim Roziyanti, Yudi Dharma dan Anggreana ER Sormin ditunda hingga Rabu (13/10) untuk mendengarkan nota pembelaan (Pledoi) dari terdakwa melalui pengacaranya, Dollar Sibarani SH.