MEDAN, HETANEWS.com - Kasus preman yang memukul pedagang wanita di Pasar Gambir, Kecamatan Percutseituan kembali viral di media sosial.

Bukan karena kasus serupa terulang, namun pedagang wanita yang menjadi korban amukan preman itu ditetapkan sebagai tersangka. Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, Hinca Panjaitan XII mengkritik kinerja polisi.

“Jangan kasih ampun premanisme. Polisi itu wajah negara yg memberikan perlindungan dan pengayoman bahkan melayani. Negara tidak boleh kalah sama premanisme,"ujar Hinca Panjaitan saat dihubungi Tribun Medan, Rabu (13/10/2021).

Sebagaimana, penetapan tersangka tertuang dalam surat panggilan Nomor: S.Pgl/642/IX/2021/Reskrim atas nama Litiwati Iman Gea dan viral di sosial media Facebook yang diunggah pemilik akun Rosalinda Gea.

Gea yang dikonfirmasi wartawan membenarkan bahwa dirinya diminta hadir untuk memberikan keterangan dengan status tersangka.

Saat disinggung terkait penetapan dirinya menjadi tersangka, Gea menjelaskan dirinya tidak dapat berbicara dikarenakan ia tengah mendapat perawatan medis di salah satu rumah sakit swasta di Tembung.

"Saya lagi di rumah sakit yang di Pasar IX. Saya lagi trauma. Kepala ku ini bekas dipukul sakit lagi. Nanti aja bicaranya ya," ucapnya.

Hal senada juga dilayangkannya saat ditanya langkah yang nantinya akan diambilnya.

"Nanti saja ya bang, nanti bicara sama suami saya. Kepala ku ini sakit, mau istirahat dulu," bebernya.

Video yang menunjukkan seorang preman memukuli pedagang wanita di Pajak Gambir, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli, Sumatera Utara (Sumut) menjadi viral di media sosial (Medsos).

Betapa tidak, pelaku dengan semena-mena memukuli wanita penjual sayur yang sedang berdagang hingga tersungkur jatuh di depan khalayak ramai.

Dalam tayangan video amatir yang beredar luas itu, terlihat pelaku memakai baju coklat lengan panjang, memukuli, menendang seorang wanita yang mengenakan baju merah jambu, sembari berkata-kata kasar.

Wanita itu mencoba melawan tak cukup kuat melawan pria tersebut. Korban pun mengerang kesakitan, sedangkan anak korban yang tak tahan melihat penyiksaan ini lalu merekamnya lewat ponsel. Penganiayaan itu terjadi, Minggu (7/9/2021) pagi kemarin.

Saat ltu, Gea yang sedang mencari nafkah didatangi oleh dua orang preman dan melakukan pungli paksa dengan meminta sejumlah uang.

Korban yang menolak dimintai uang, membuat preman ini mengamuk. Salah satu preman dengan beringasnya menghajar wanita malang tersebut, hingga babak belur.

"hanya gara gara preman ini meminta uang sebesar Rp 5 ribu, kepada ibu boru Gea ini, namun tidak diberi uang kepada preman tersebut sembari ibu ini berkata kamu siapa? kenapa kamu meminta sama saya? uang tp saya suda bayar kepada pemuda setempat lahan jualan ku ini!," tulis narasi dalam video tersebut.

Sontak, video yang menunjukkan aksi kekejaman preman di Sumut ini seketika menjadi viral di medsos. Aksi polisi pun dinilai cukup cepat, di mana pascavideo itu viral petugas meringkus pelaku.

"Pelakunya sudah ditangkap," kata Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan AKP M Karo Karo, Selasa (7/9/2021) lalu.

Dalam keterangannya, ia menjelaskan pelaku berinisial BS ini ditangkap pada Senin (6/9/2021) malam di salah satu kafe di kawasan Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan.

"Pelaku saat ini menjalani pemeriksaan dan interogasi di Polsek Percut Sei Tuan, untuk menjalani proses hukum lebih lanjut," sebutnya.

Pascapenangkapan itu, preman bertubuh besar itu juga disebut membuat laporan kembali dengan tuduhan yang sama yakni penganiayaan.

Di mana preman itu disebut juga mendapat sejumlah luka seperti cakaran dan pukulan di dadanya. Hingga kini, keduanya disebut saling melaporkan.

Menyikapi kasus itu, lebih jauh Hinca menekankan agar Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Simanjuntak yang turun langsung mengatasi.

"Saya minta kapolda sumut turun tangan langsung atasi masalah premanisme ini. Berikan jaminan ketertiban dan keamanan bagi masyarakat menjalankan aktivitasnya swhari hari tanpa rasa takut. Itu tugas negara. Itu kewajiban polisi. Saya yakin polisi bisa dan mampu,"ujar Hinca.

Baca juga: Sebut Negara Tak Boleh Kalah dari Preman, Polda Sumut Ambil Alih Kasus Pedagang Dianiaya Malah Jadi Tersangka

Kanit Reskrim Dicopot, Inilah Penggantinya

Kasus penetapan tersangka terhadap pedagang sayur di pasar Gambir, Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan berbuntut panjang. Atas kejadian tersebut, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, Iptu M Karo-karo dicopot dari jabatannya.

Kini jabatan tersebut digantikan oleh Iptu Doni Pance Simatupang, yang sebelumnya menjabat sebagai Panit II, Polsek Percut Sei Tuan.

"Benar kita evaluasi Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan. Jabatan itu digantikan oleh Iptu Doni Pance Simatupang," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi, Rabu (13/10/2021).

Sebelumnya, seorang pedagang sayur di pasar Gambir, Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan dijadikan tersangka oleh Polsek Percut Sei Tuan.Ia ditetapkan tersangka atas laporan Beni Saputra, pria yang diduga merupakan preman yang menganiayanya hingga luka.

Keduanya pun sama-sama ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penganiyaan di hari yang sama.

Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak saat mempertemukan Liti Wari Iman Gea (Kasu Garis-garis) dengan Beni Saputra (kemeka merah), di Polda Sumut, Selasa (12/10/2021).   (TRIBUN MEDAN/FREDY)

Baca juga: Penjelasan Istri Preman soal Suaminya Pukul Pedagang Wanita di Sumut

Alasan Pedagang Sayur Tolak Berdamai

Pedagang sayur Pasar Gambir, Liti Wari Iman Gea dan Beni sudah dipertemukan setelah sebelumnya saling lapor. Keduanya dipertemukan oleh Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak di Polda Sumut.

Namun dari pertemuan tersebut, Liti Wari menolak untuk berdamai dengan Beni. Kuasa Hukum Gea, Yudikar Zega menegaskan pihaknya tidak akan berdamai.

"Tidak, masalah damai masih belum kita bicarakan. Kalau untuk saat ini masih belum masuk ke ranah perdamaian,"kata Yudikar kepada Tribun Medan, Rabu (13/10/2021).

Ia mengungkapkan akan tetap menuntut  agar pelaku lainnya yang menganiaya pedagang sayur segera ditangkap oleh pihak kepolisian.

"Karena kembali dari awal harapan kita yang penting ketiga ini ditangkap dulu, kalau masalah lainnya itu nanti kita bicarakan setelah ini tertangkap," sebutnya.

"Intinya yang salah harus diamankan dulu, baru nanti duduk bersama lagi bagaimana selanjutnya," lanjutnya.

Yudikar menjelaskan, pertemuan kedua belah pihak di Polda Sumut hanya membahas kronologi kejadian dari kedua belah pihak.

"Semalam itu hanya sekedar ditanya-tanya sama klien kita, apa sebenarnya yang terjadi bagaimana kronologisnya, dan kita bantu menjelaskan kepada Kapolda dan jajarannya," tuturnya.

Namun demikian, ia mengaku tetap akan menghargai langkah pihak kepolisian yang akan menyelesaikan kejadian ini.

"Kita menunggu dulu, Kapolda berjanji agar pelaku yang masih berkeliaran itu ditangkap. Kita tunggu dulu bagaimana prosesnya," sebutnya.

Sebelumnya, Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak angkat bicara soal kasus penganiyaan pedagang sayur di pasar Gambir, Kecamatan Percut Sei Tuan yang melaporkan kasus tersebut malah ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam hal ini, Kapolda mempertemukan kedua belah pihak yang saling lapor tersebut di Polda Sumut. Nampak tersangka Beni hadir dan Liti Wari Iman Gea juga hadir didampingi oleh anak, suami dan kuasa hukumnya.

Adapun maksud dan tujuannya agar keduanya sama-sama mendapatkan keadilan atas kasus yang juga menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir dimana pedagang yang mengaku dianiaya malah menjadi tersangka.

Baca juga: Heboh Pedagang Jadi Tersangka Usai Dihajar Preman di Sumut, Mabes Polri Buka Suara

Tiga Preman yang Diduga Aniaya Pedagang Pasar Gambir Masih Berkeliaran, Kapolda Ancam Jemput Paksa

Tiga pria yang diduga terlibat dalam penganiayaan yang dilakukan Beni Saputra dan kawan-kawan terhadap pedagang sayur di pasar Gambir, Liti Wari Iman Gea masih berkeliaran. Sementara pentolannya, yakni Beni Saputra sudah ditangkap dan ditahan.

Merespon hal itu, Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak meminta supaya ketiga preman itu segera menyerahkan diri. Panca menegaskan tak akan segan-segan untuk menjemput paksa mereka jika upaya-upaya tersebut tak segera dilakukan.

"Saya menghimbau dengan segenap hati dan saya yakin dalam waktu yang dekat jika tidak dilakukan kita akan melakukan upaya paksa," kata Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, Selasa (12/10/2021) malam.

Ia menyebutkan bahwa kondisi saat kliennya saat ini masih merasa ketakutan seusai menerima surat penetapan sebagai tersangka oleh pihak polisi.

"Kalau kondisi ibu Gea pada saat ini, dia sedang mengalami trauma, masih takut karena dengan didengarnya dia sebagai tersangka makanya dia trauma merasakan ketakutan," kata Aliyus, Senin (11/10/2021).

Namun, ia mengungkapkan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan telah bertemu dengan korban untuk melakukan pendekatan agar korban tidak merasa trauma lagi.

"Adalah dari Unit PPA mereka memberikan psikis. Setelah usai kasus ini mudah-mudahan kedepannya sembuh, kalau kondisinya saat ini masih trauma," sebutnya.

Aliyus mengatakan, bahwa saat ini pihak Polsek Percut Sei Tuan sudah tidak berhak lagi untuk menangani kasus ini.

"Sudah diambil alih oleh Polda Sumut, sebagai tersangka Polda Sumut yang menangani, sebagai pelapor ditangani oleh Polrestabes Medan," ucapnya.

Lebih lanjut, terkait surat pemanggilan sebagai tersangka, dia menyebutkan bahwa kliennya belum menghadiri panggilan tersebut.

"Kalau mengenai dia sebagai tersangka, itu masih panggilan pertama jadi itu tidak bisa dihadirkan karena sakit, jadi ini sudah diambil alih sama Polda Sumut, pemeriksaan lanjutan sudah kita percayakan oleh pihak Polda Sumut," katanya.

Baca juga: Viral Kasus Pedagang di Pasar Gambir Jadi Tersangka, Ini Kata Mabes Polri

Pedagang Gambir Dikabarkan Minta Uang Damai Sebesar Rp 150 Juta, Suami Gea Beri Bantahan

E Boru Siregar, pedagang cabai di Pasar Gambir, Kecamatan Percutseituan Kabupaten Deliserdang menceritakan kronologis kejadian antara Liliwati Iman Gea vs preman yang sempat viral di media sosial, September lalu.

Ditemui di lapak jualannya, Boru Siregar ini mengatakan bahwa kejadian itu terjadi di hari Minggu pagi di mana situasi arus lalulintas sedang macet.

"Di sini kan kalau jam sibuk memang selalu macet. Apalagi kalau pagi. Jadi kami yang di sini memang tidak melihat langsung apa penyebab sampai keduanya itu terlibat cekcok dan perkelahian," ucapnya saat ditemui Tribun Medan, Minggu (10/10/2021) sore.

Lanjut wanita yang menggunakan baju merah ini, tiba-tiba ramai dari lapak Gea.

"Udah ramai di lapak ibu itu. Saya kira ada apa. Kok tiba-tiba cekcok sampai ibu itu dipukul. Ibu itu pun sampai jatuh saya lihat di aspal itu," katanya.

Tak sampai di situ, cek-cok antara keduanya ternyata viral di media sosial.

"Kalau dari keterangan kawan-kawan yang sesama penjual di sini memang dibilang kalau si Beni subuhnya sudah mendatangi warung ibu Gea yang lokasinya di dalam, bukan yang di sini. Masalah uang bulanan kalau tidak silap, tapi Beni gagal mendapat uang yang dimintanya. Jadi paginya karena situasi macet dan becak orang ibu Gea itu agak kejalan jadi orang sudah lewat," ujarnya.

Tak berselang lama, lanjut Boru Regar, Beni datang sama kawan-kawannya. Cekcok masalah becak yang menghalangi jalan.

"Mungkin ya itu jadi pintu awalnya penyebab cekcok di samping uang kutipan. Jadi itulah cekcok tidak terhindar. Dan saat kejadian, suami Gea itu memindahkan becak ke dalam pajak. Eh tahu-tahunya pas ia balik istrinya udah lebam-lebam," bebernya.

Boru Siregar ini pun mengaku kalau di Pasar Gambir ini kerap banyak pengutipan preman.

"Ampun kalau di sini, banyak kali yang ngutip. Dari organisasi ini lah itu lah. Makin merajalela mereka," ucapnya.

Sementara itu suami Gea yang dihubungi Tribun Medan, Endang Hura menyebutkan bahwa pihaknya turut meminta keadilan atas kasus yang menimpa istrinya.

"Ya semoga kasus yang sudah ditangani Polda Sumut ini dapat memberi keadilan. Karena memang saat ini saya hanya fokus untuk pemulihan istri dan trauma anak-anak," ucapnya.

Sementara itu, istri Beni, Nurhalimah memberikan penjelasan terkait video viral di media sosial.

"Saya istri dari Beni, yang masalahnya sempat viral di Pajak Gambir. Saya mau menjelaskan permasalahan sebenarnya tidak seperti yang viral itu. Awalnya, suami saya minta tolong untuk menggeser becak dari suami bu Gea. Di saat kondisi itu macet. Tapi, respons suami Bu Gea langsung geber-geber dan Bu Gea marah-marah, suami saya sempat menyatakan kenapa marah, Bu Gea langsung meludahi suami saya dan menarik baju dan tas suami saya. Bahkan, anaknya keluar ikut memukul suami saya dengan kayu," katanya.

Terkait video itu, Halima mengaku bahwa video viral itu sepenggal dan hanya menyudutkan suaminya.

"Mohon kebijaksanaan bapak Kapolda dan Kapolrestabes untuk melihat kasus ini lebih jernih. Di sini kami yang jadi korban dengan kasus ini. Ini berimbas pada nafkah dan anak-anak," katanya.

Tak hanya itu, Halimah mengaku keluarga sudah mencoba mengadakan mediasi dengan Bu gea dan timnya.

"Tapi kami diminta uang damai Rp 150 juta. Gimana itu pak, untuk makan aja kami susah. Rumah saja kami ngontrak. Kami sebenarnya jadi korban. Tolong pak kebijaksanaan bapak Kapolda dan Kapolres," ucapnya.

Sementara itu, suami Gea yang kembali dihubungi Tribun Medan menjelaskan soal perdamaian itu dirinya tidak begitu mengetahui.

"Memang ada upaya mediasi dan kami ditawarkan uang Rp 15 juta. Tapi memang kami masih fokus dalam pengobatan dan kesembuhan istri saya," katanya.

Saat disinggung terkait permintaan Rp 150 juta untuk perdamaian, Endang menampik kabar tersebut.

"Gak ada kami cerita uang, apalagi sampai segitu. Karena kami cuma fokus untuk kesembuhan istri saya," pungkasnya.

Baca juga: Kanit Polsek di Medan Dicopot, Gak Becus Urus Kasus Pedagang Wanita yang Dianiaya Preman

Kasus Pedagang Sayur Jadi Tersangka Disorot Kapolri, Polda Sumut Tarik Kasus dari Polsek Percut

Polda Sumut mengambil alih penanganan kasus penganiayaan yang menjadikan pedagang sayur di Pasar Gambir, Medan, Liti Wari Iman Gea, sebagai tersangka.

Liti Wari menuai simpati setelah videonya dianiaya beberapa pria diduga preman di pasar telah beredar di internet.

Seorang pria bernama Benny telah ditetapkan sebagai tersangka. Belakangan, ternyata Polsek Percut Seituan juga menetapkan pedagang sayur itu sebagai tersangka. 

"Kami perlu sampaikan, bahwa pimpinan Polri dan Kapolda Sumut telah mendengar serta merespon cepat serta prihatin atas berita yang viral terkait penganiayaan dan penetapan tersangka kepada Liti. Dimana kejadiannya 5 September 2021 yang lalu," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi pada konferensi pers di Polrestabes Medan, Sabtu (9/10/2021) malam. 

Menurutnya, untuk meredam polemik yang terjadi di tengah masyarakat akibat penanganan perkara ini, maka Kapolda Sumut telah memerintahkan Direskrimum dan Kapolrestabes Medan untuk membentuk tim dan menarik penanganan perkara penganiayaan terhadap korban yang dilakukan oleh Benny. 

Ia menambahkan, proses penyidikan akan dilakukan oleh Satreskrim Polrestabes Medan. Kemudian, tim yang sudah dibentuk akan diperintahkan mengejar dan menangkap dua orang pelaku lainnya, yakni DD dan FR. 

Kepolisan meminta kepada dua pelaku untuk menyerahkan diri ke Satreskrim Polrestabes Medan.  Kombes Hadi Wahyudi juga berharap agar masyarakat mempercayakan penanganan kasus ini kepada kepolisian.

"Dengan telah dilakukannya langkah oleh Kapolda tersebut kami imbau masyarakat untuk mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak polisi," katanya.

Baca juga: PedagangBela Diri Dipukul Preman Jadi Tersangka,Kapolsek Percut Sei Tuan Bakal Dicopot?

Sumber: tribunnews.com