SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Dua ibu rumah tangga (IRT) asal Tano Tinggir Kecamatan Purba Simalungun terdakwa pembunuhan masing masing dituntut hukuman 8 tahun penjara. 

Tuntutan terdakwa Anaria Sipayung (29) dan Nurhalimah Telaumbanua (25) dibacakan oleh jaksa di sidang Pengadilan Negeri Simalungun secara virtual, Senin (11/10/2021).

Jaksa Julita Nababan menyatakan kedua IRT itu bersalah melanggar pasal 365 ayat (3) Jo pasal 55 (1) ke-1 KUH Pidana. Pertimbangan jaksa, terdakwa dan keluarga korban sudah melakukan perdamaian.

Menurut fakta persidangan, jika peristiwa pembunuhan terhadap korban Porta br Tumanggor terjadi pada Kamis, 27 Mei 2021 di perladangan kopi dan cabai milik Turnip di Nagori Tano Tinggir Kecamatan Purba. 

Korban ditemukan meninggal dunia oleh saksi Yesi Marlina Turnip pada malam hari sekira pukul 11.47 WIB, dengan posisi leher terikat kain sarung dan tali tas tergantung di pohon kopi. 

Kondisi korban terduduk dan bagian kaki dan tangan menggunakan jaket putih dalam kondisi terikat.

Kedua pelaku ditangkap, 2 hari kemudian di salah satu penginapan di kota Medan tepatnya pada 29 Mei 2021. Setelah tertangkap, terungkaplah motif pembunuhan yang dilakukan ke-2 IRT tersebut.

Baca juga: Pelaku Pembunuhan Sempat Beli HP dari Uang Korbannya

Awalnya, kedua pelaku dengan membawa anak anaknya berjalan hendak meninggalkan kampung ke arah Seribu Dolok. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat di salah gubuk dalam perladangan Sama Raja Purba.

Saat beristirahat melihat korban sedang memanen cabe dan timbul niat kedua terdakwa mengambil uang korban, dengan cara meminta air minum korban.

Terdakwa mengambil sarung yang ada dekat korban sembari menutup bagian wajah korban lalu menarik tas korban.

Korban berteriak, kedua pelaku ketakutan dan meminta maaf karena korban kadung mengenali wajah kedua pelaku. 

Karena korban mengancam akan memberitahukan kepada warga, maka pelaku kembali menutup wajah korban dan membekap mulut dan hidung korban.

Lalu kain sarung dililitkan ke leher sembari menarik ujung kain dari kanan dan kiri yang menyebabkan korban mati lemas. Setelah korban tewas, terdakwa mendudukkan jasad di bawah pohon kopi dan tali tas dililitkan ke pohon.

Persidangan dipimpin hakim Roziyanti, Yudi Dharma dan Anggreana ER Sormin ditunda hingga Rabu (13/10) untuk mendengarkan nota pembelaan (Pledoi) dari terdakwa melalui pengacaranya, Dollar Sibarani SH. 

Baca juga: 2 Ibu Asal Tano Tinggir Terungkap Membunuh Demi Mendapatkan Uang