HETANEWS.com - Newcastle United telah resmi diakuisisi oleh konsorsium Arab Saudi lewat Dana Investasi Publik (PIF) pimpinan Pangeran Mohammad bin Salman (MbS), Kamis (7/10).

Namun, nama Pangeran MbS masih lekat dengan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi. Khashoggi adalah jurnalis senior Arab Saudi yang bekerja untuk Washington Post.

Pada Oktober 2018, dia dibunuh saat berada di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Saat itu, ia hendak mengambil dokumen yang diperlukan untuk menikahi tunangannya, Hatice Cengiz.

Menurut laporan The Guardian pada Februari 2021, Pangeran MbS disebut menyetujui aksi pembunuhan tersebut yang dilakukan oleh 15 orang agen dari Arab Saudi.

"Pemerintah AS harus menjatuhkan sanksi terhadap Putra Mahkota (Pangeran MbS), seperti yang telah dilakukan terhadap pelaku lainnya," kata staf ahli PBB, Agnes Callamard, yang memimpin penyelidikan kasus pembunuhan ini.

Sejumlah aktivis membakar lilin untuk memperingati pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, di depan Kedutaan Besar Saudi di Washington, AS, Rabu (2/10/2019). Foto: REUTERS/Sarah Silbiger

Sebelum resmi diakuisisi oleh Pangeran MbS, tunangan Jamal Khashoggi, Cengiz, juga sudah berkali-kali angkat suara dan menolak dengan tegas langkah ini.

Terbaru, ia menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh bos baru Newcastle itu adalah tindakan 'cuci tangan'.

“Mereka seharusnya tidak membiarkan mereka mencuci [darah] dari tangan mereka dengan bisnis ini. Memberikan lampu hijau kepada mereka yang terkait dengan kejahatan ini akan membunuh lebih banyak orang, nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) harus dipikirkan. Mereka harus berdiri bersama saya dan Jamal," kata Cengiz, dikutip dari Daily Mail.

"Semua orang tahu bahwa Pemerintah [Arab Saudi] mengendalikan segalanya. Rezim Saudi saat ini memiliki seorang putra mahkota yang mengelola segala sesuatu. Intinya, bagaimana para pemain, fan, dan direktur Newcastle menerima situasi ini? Saya sangat sedih. Saya kira uang lebih penting dari apa pun dalam hidup ini," imbuhnya.

Namun, upaya Cengiz dan para aktivis HAM tampaknya tak dapat membendung manuver yang dilakukan Pangeran MbS untuk mengakuisisi Newcastle United. Bahkan, para penggemar mereka dibuat pesta pora dengan status baru Newcastle sebagai 'klub sultan'.

Hal itu terlihat dari kumpulan para fan The Magpies di sekitaran Stadion St James Park sebelum PIF resmi diumumkan menjadi pemilik baru klub. Euforia pun pecah pada akhirnya.

Meski begitu, para pendukung tak sepenuhnya bisa disalahkan. Kondisi The Magpies saat ini sudah gerah dengan kepemimpinan Mike Ashley yang minim prestasi untuk klub. Kedatangan Pangeran MbS dan kucuran uangnya menjadi angin segar bagi mereka.

Fans bereaksi di luar stadion setelah Newcastle United mengumumkan pengambilalihan di St James' Park, Newcastle, Inggris, Kamis (7/10). Foto: Lee Smith/Action Images via REUTERS

Legenda hidup Newcastle, Alan Shearer, punya pandangan tersendiri soal Pangeran MbS yang ada di pusaran arus kasus pembunuhan Jamal Khashoggi. Baginya, klub berjersi putih-hitam itu perlu mendidik diri agar cermat terhadap kasus pelanggaran HAM ini.

"Kami berutang kepada diri kami sendiri dan dunia yang lebih luas untuk mendengarkan bukti tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Saudi, untuk mendidik diri kami, dan mengetahui apa yang kami hadapi," tulis Shearer di The Athletic, dikutip dari Mirror.

Namun hingga kini, Pemerintah Arab Saudi masih terus mengelak terhadap beberapa tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Alhasil, Pangeran MbS pun masih bebas melenggang melakukan aktivitasnya.

"Setidaknya penjualan [Newcastle] ke Arab Saudi telah sangat menggarisbawahi untuk semuanya bahwa Liga Inggris hanya peduli tentang uang," tulis jurnalis Inggris, Oliver Holt.

Sumber: kumparan.com