Siantar, hetanews.com – Deru suara baling baling helikopter menggelegar di angkasa SMU RK Budi Mulia, jalan Melanton Siregar, Pematangsiantar, menghentak pergerakan dari warga yang sedang melakukan pendaftaran vaksinasi massal yang diselenggarakan oleh alumni, dan membalikan badan untuk memperhatikan arah turunnya kendaraan angkasa tersebut.

Tepat di tengah lapangan sepakbola yang ada di depan SMU RK Budi Mulia, helikopter mendarat dan menurunkan penumpangnya. Dengan langkah gagah dan mendapat perhatikan dari semua warga, ketiga jenderal polisi berbintang dua memberikan sambutan hangat, dan tidak lupa senyum termanis mereka menjadi jawaban atas perhatian warga sekitar dan peserta vaksinasi.

Saat melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang sekolah SMU RK Budi Mulia, Irjen Polisi Daniel Tahi Monang Silitonga, teringat akan kenangan indah yang tak terlupakan selama 34 tahun, dimana tahun 1987, dia melangkah kakinya keluar dari sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya AKABRI (kalau sekarang Akpol) di Malang, Jawa Tengah.

Dia menyadari masa belajar di SMU RK Budi Mulia tahun 1984 hingga 1987 menjadi titik awal baginya untuk bisa menggapai impian menjadi jenderal diinstansi kepolisian. Apa yang diraihnya sekarang ini merupakan sebuah anugerah dari Tuhan, karena anak yang berasal dari keluarga miskin di Tapanuli Selatan bisa melangkah sejauh ini.

Salah satu tempat yang tak bisa terlupakannya adalah SMU RK Budi Mulia. Bersama teman satu angkatannya, Irjen Polisi Panca Putra Simanjuntak (Kapolda Sumut) dan Irjen Polisi Eddy Hartono, dia melangkah untuk mengurai kembali beragam kenangan selama berpakaian putih abu abu. Ada rasa haru dan bangga dalam diri karna masih dikasih waktu untuk berbuat bagi sekolah yang telah mendidiknya menjadi seorang jenderal.

Teringat ketika pertama kali tiba di kota Siantar tahun 1984, dimana dia sudah meninggal kampung halaman di Tapanuli Selatan untuk menggais pengetahuan. Orang tuanya menyadari anaknya tidak akan bisa berkembang pabila tetap bersekolah di kampung halaman, apalagi sejak SD dan SMP, Daniel merupakan anak yang pintar dan selalu mendapat juara umum.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam ada rasa kuatir ketika pertama kali memulai pendidikan di SMU RK Budi Mulia. Dia belum pintar menggunakan bahasa Indonesia. “Saya dulu berbahasa Indonesia itu berbatu batu. Kalau  berkomunikasi dengan orang harus melalui tulisan kalau bicara secara langsung, saya tidak mengerti,” ungkapnya dihadapan para guru dan alumni setelah selesai penyelenggaraan vaksinasi massal, Sabtu (9 /10).

Dia menjelaskan, komunikasi dengan cara tulis menulis bukan dengan berbicara, berlangsung dalam kurun waktu 4 bulan lebih. Setelah itu, dia bisa menggunakan bahasa Indonesia secara mar pasir pasir (terbatah batah) tapi sudah ada kemajuan yakni bisa mengerti apa yang dikatakan teman teman sekolahnya.

Daniel Tahi Monang Silitonga mengakui bahwa SMU RK Budi Mulia merupakan sekolah yang dipenuhi dengan anak anak pintar dari multi etnis yang ada di kota Siantar. Dia menyadari bahwa dirinya dianugerahkan Tuhan kepintaran, tapi tanpa kerja keras dalam belajar tidak mungkin bisa mengikuti dunia pendidikan di sekolah dibawah naungan Gereja Katolik tersebut.

Setelah bisa mengikuti arus pembelajaran di SMU RK Budi Mulia, Daniel harus berhadapan dengan masalah keuangan. Dia harus menjual hasil ladang yang dikirim orang tuanya di kota Siantar. Hal ini lah yang membuat dia harus pintar membagi waktu antara jam sekolah, jam belajar dan waktu untuk berjualan agar memiliki uang untuk bersekolah.

Walaupun harus mengorbankan kebersamaan untuk berkumpul bersama teman teman satu angkatan, karna harus membagi bagi waktu untuk hal hal lain, tidak membuat niat Daniel untuk bisa menggapai impian semakin surut, malahan semakin memicu semangatnya untuk lebih memacu diri agar bisa meraih hal terbaik.

Irjen Polisi Daniel Tahi Monang Silitonga yang mendatangi tempat kos sewaktu belajar di SMU RK Budi Mulia. Dia bertemu dengan Inang br Marpaung yang merupakan adek kandung dari mamanya.

Daniel menceritakan bagaimana awalnya dia mengikuti ujian masuk menjadi akpol. Saat dibukanya pendaftaran, dia sama sekali tidak memiliki uang untuk ongkos ke tempat pendaftaran. Akhirnya dia meminta temannya Patar Sinaga untuk mendaftarkan diri terlebih dahulu karna masih mencari peminjaman uang. Akhirnya dia mendapat pinjaman sebesar 200 rupiah untuk ongkos ke tempat pendaftaran.

Untuk berangkat ke Medan mengikuti test lanjutan, dia kembali harus meminjam uang sebesar 100 ribu rupiah. Setelah melalui proses test panjang, akhirnya dia bisa mendapat peringkat 1 di Sumut. Kemudian untuk tingkat nasional, Daniel Tahi Monang Silitonga mendapat peringkat 3.

Daniel juga tidak melupakan tempat kos selama mengenyam pendidikan di SMU RK Budi Mulia. Dia menyinggahkan untuk bertemu dengan ibu kos yang merupakan adek mama nya kandung. Setelah bertemu, tantenya br Marpaung langsung memeluk dan menangis kebahagiaan karna anaknya bisa menjadi jenderal di kepolisian.

Masih banyak yang ingin dia lakukan untuk SMU RK Budi Mulia. Tapi karena negara ini masih dilanda pandemi, berbagai program tersebut harus ditunda. Dia berharap semua alumni harus mendukung vaksinasi bagi semua warga, karena hal itu yang membuat kita terlepas dari pandemi dan memasuki ranah endemi. Setelah berada di masa endemi, maka semua kegiatan dapat dilakukan. Dia mengajak semua alumni untuk tidak lupa kepada sekolah yang telah mendidik untuk menjadi seperti sekarang ini.

Tak lupa Daniel juga mengucapkan terima kasih kepada semua alumni yang telah mensukseskan acara vaksinasi massal. Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih kepada guru yang telah mendidik semua alumni selama sekolah di tingkat lanjutan atas. Saatnya semua alumni bisa bersatu agar bisa mengangkat nama alumni SMU RK Budi Mulia memiliki peran penting untuk negara. “Sudah waktunya alumni SMU RK Budi Mulia bisa memberikan peran positip untuk pertumbuhan ekonomi di negara ini,” tutupnya.