HETANEWS.com - Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan meminta Mabes Polri turun tangan menyelesaikan kasus laporan pengaduan pelecehan seksual 3 anak yang dihentikan penyelidikannya oleh Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Hinca, yang mengikuti viralnya kasus tersebut di media sosial, mempertanyakan alasan Polres Luwu Timur menghentikan penyelidikan kasus tersebut dengan alasan tidak ditemukan barang bukti yang kuat.

Hinca yang juga menghubungi Edwin Partogi dari LPSK mendapat informasi bahwa, sejak awal LPSK hadir untuk memenuhi hak prosedural dan melakukan rehabilitasi psikologi kepada para korban. 

“Edwin juga sampaikan bahwa terdapat second opinion dari psikolog lain bahwa para korban mengalami trauma, hanya saja hasil forensik dari penyidik berbeda,” kata Hinca melalui keterangan tertulis, Kamis (8/10/2021).

Kejanggalan-kejanggalan seperti itu, kata Hinca, seharusnya diawasi bersama dan saat ini para korban didampingi oleh LBH Makassar. “Saya berharap agar Mabes Polri dapat turun tangan untuk membuka kembali kasus ini,” jelasnya.

Polres cantumkan nama pelapor

Hinca Panjaitan turut menyoroti Polres Luwu Timur yang kemarin mengatakan bahwa pemberitaan dari media Project Multatuli sebagai kabar bohong atau hoax. 

Pernyataan itu dimuat oleh Humas Polres Timur lewat post story instagram hingga mencantumkan nama ibu korban (pelapor) secara jelas. 

“Ini praktik yang buruk dan jauh dari etika. Saya berharap agar Kapolres Luwu Timur Silvester Simamora dapat menertibkan dan mengedukasi jajarannya untuk tidak secara sembarang memberi label "hoax" pada produk jurnalistik dan juga menjaga etika hukum dengan tidak mengumbar nama pelapor yang juga merupakan ibu dari korban pemerkosaan,” katanya.

“Saya kenal dekat dengan sosok Kapolres Luwu Timur Silvester Simamora. Menurut saya, dengan berbekal modal kemampuannya dalam bidang siber, ia dapat memberi didikan dan arahan yang lebih kepada jajarannya untuk bijak dan beretika di sosial media,” jelas Hinca.

Menurut Hinca, sikap profesional oleh Polri khususnya Polres Luwu Timur dibutuhkan saat ini. 
“Saya berharap agar Kapolres AKBP Silvester Simamora dapat menjalin komunikasi yang baik dengan Polda Sulsel dan Mabes Polri dalam penyelesaian kasus ini,” katanya.

Laporan Project Multatuli

Kasus ini mencuat di media sosial setelah Project Multatuli menerbitkan laporan mengenai kasus ini. 

Situs mereka mengalami serangan siber berulang kali, pasca penerbitan tulisan laporan kasus tersebut. 

Namun laporan Project Multatuli dimuat ulang di beberapa media sebagai upaya mendesak kepolisian untuk menyelesaikan kasus tersebut.

“Saya ingin berterimakasih kepada teman-teman jurnalis Project Multatuli yang sudah menyajikan temuan peristiwa baik berupa data atau fakta terkait kasus di Luwu Timur, Sulawesi Selatan,” kata Hinca.

Kasus ini bermula saat seorang ibu melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dialami 3 orang anaknya ke Polres Luwu Timur. Laporan project Multatuli menyebut kasus pelecehan seksual diduga melibatkan ayah dari 3 korban. 

Kasus tersebut terjadi pada tahun 2019 dan Polres Luwu Timur menyatakan pemberhentian penyelidikan terhadap laporan pengaduan tersebut.