SIANTAR, Hetanews.com - Pengadilan Negeri (PN) Pematangsiantar kembali melanjutkan persidangan kasus pembakaran rumah Bapak Lubis (mertua Bamby), Senin (4/10). Persidangan dipimpin hakim Irwansyah P.Sitorus SH didampingi dua hakim anggota Rahmat Hasibuan SH dan Renni Pitua Ambarita SH, dengan agenda mendengarkan saksi verbalisan (penyidik) sekaligus keterangan para terdakwa.

Dalam persidangan siang itu, UH mengakui jika dirinya kesal sering diberitakan Bemby melalui media online. Pemberitaan yang menuding dirinya (UH) sebagai bandar narkoba.

Menjawab pertanyaan hakim Renni Ambarita, UH mengakui dulunya pernah melakukan bisnis narkoba tetapi sudah berhenti sejak setahun lalu. Waktu diberitakan itu, dirinya mengaku tak lagi menjalankan bisnis narkoba.

"Itupun kecil kecil an Bu, tidak seperti yang diberitakan," katanya di depan hakim. 

"Dulunya itu yang mulia, sekitar tahun 2020," katanya lagi.

"Artinya Bemby mengetahui bisnis saudara," kata hakim lagi.

Awalnya UH hanya mengaku memiliki bisnis ayam dan warung kopi. Umar juga curhat kepada RPS dan LAH karena sering diberitakan Bemby.

Hakim menjelaskan kepada UH, jika tidak benar apa yang diberitakan harusnya saudara memberikan hak jawab. Sesuai dengan UU pers bukan main hakim sendiri, tegas hakim Ambarita.

"UH menyuruh RPS memberikan uang 5 juta kepada orang untuk memukuli Bemby dan perkataannya itu didengar LAH (BAP dibacakan hakim)".

UH juga merasa terganggu karena pemberitaan Bemby, sehingga dirinya sering diperiksa polisi dengan menyebut "bapak bapak itu, buat pening," kata UH.

Siapa bapak bapak itu?, tanya hakim. "Pak Polisi yang mulia," jelas UH lagi.

UH mengakui, hingga kini dirinya masih diperiksa oleh Poldasu meski hanya sebatas wawancara.