Hetanews.com - Diva Kurnianingtyas menyandang predikat sebagai wisudawan doktor termuda di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dia lulus dari jurusan Teknik Sistem dan Industri.

Diva sebelumnya menempuh S1 Teknik Informatika di Universitas Brawijaya dengan lama studi 3,5 tahun. Setelah tiga bulan bekerja di bidang Data Engineering, ia mengambil beasiswa program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di ITS jurusan Teknik Sistem dan Industri.

“Aku menempuh kuliah S2 selama setahun dan studi S3 selama tiga tahun,” tuturnya, dilansir laman ITS.

Cewek kelahiran Malang 13 Desember 1996 ini mengatakan motivasi terbesarnya untuk melanjutkan kuliah sampai S3 adalah untuk membahagiakan dan membanggakan ibunya.

“Sejujurnya, aku tidak pernah berekspektasi kuliah lanjut di usia muda. Tetapi karena keinginan serta doa beliau, aku bisa mencapai titik ini,” ujarnya.

  • Tantangan sebagai Mahasiswa Doktor Termuda

Menjadi mahasiswa termuda dibandingkan teman-teman kuliahnya, Diva mengaku banyak tantangan yang dirasakan. Pertama, ia harus belajar secara cepat agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Ke-2, studi di usia muda menjadi tantangan tersendiri bagi mentalnya. Khususnya belajar mengontrol emosi serta menerima keadaan yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi.

“Yang terpenting adalah belajar sabar. Studi S3 tidak seperti studi S1 dan S2 yang terus belajar ilmu pengetahuan, melainkan belajar ilmu kehidupan yang tidak pernah diperoleh sebelumnya,” tambah Diva.

Selama jadi mahasiswa, dia banyak mengembangkan diri dalam proyek dan penelitian. Diva juga beberapa kali mempresentasikan penelitiannya dalam konferensi internasional hingga publikasi jurnal terindeks Scopus.

“Sejauh ini, bidang yang aku tekuni adalah Perencanaan dan Manajemen Kesehatan, Pemodelan Simulasi, Data Mining, Pemrograman serta Optimasi,” terangnya.

Dalam disertasinya Diva mengangkat topik mengenai perancangan, pengembangan, dan perencanaan sistem asuransi kesehatan nasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh strategi alternatif mekanisme rujukan kesehatan agar anggaran keuangan stabil, premi terjangkau, dan kualitas program meningkat.

Ke depannya, Diva ingin fokus pada peningkatan pengetahuan dan kemampuannya dalam mengoptimasi sistem sektor kesehatan, sebagai bentuk implementasi keilmuannya yaitu Teknik Informatika serta Teknik Sistem dan Industri.

“Pastinya, aku ingin ilmu yang aku terima bisa bermanfaat bagi diriku dan orang lain,” pungkas Diva.

sumber: kumparan.com