HETANEWS.com - Pandemi covid-19 masih juga belum berakhir. Meski angka positivity rate terus menunjujan penurunan belakangan ini, potensi terjadinya pandemi gelombang ke-3 masih cukup besar.

Ketua POKJA Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengatakan bahwa upaya untuk menekan kasus penularan di Tanah Air bisa dibilang berhasil.

Pasa Juni, kasus positif bisa mencapai 50-an ribu per hari, tetapi saat ini turun hingga sekitar 2 ribuan.

Menurutnya, penerpan protokol kesehatan yang ketat, kebijakan PPKM hingga akselerasi vaksinasi merupakan faktor keberhasilan Indonesia. Namun, masyarakat tidak boleh lengah meski kasus sudab turun dan aktivitas perlahan mulai normal.

"PPKM berhasil namun kita jangan terlena, jangan lengah karena situasi pandemi belum sepenuhnya teratasi. Apalagi Kemenkes mengatakan ada potensi terjadi gelombang ke-3," ujarnya dalam diskusi virtual dengan tema Wasapada Mutasi Virus dengan Protokol Kesehatan, Kamis (30/9).

Menurut dokter Erlina, prediksi tersebut terjadi lantaran kondisi saat ini yang mulai normal. PPKM sudah makin longgar dan berbagai aktivitas mulai dibuka termasuk sekolah.

"Kenapa diprediksi terjadi karena PPKM sudah makin longgar, nanti ada liburan akhir tahun, sudah mulai sekolah tatap muka, cakupan vaksinasi masih di angka 24% padahal targetnya 70%. Hal-hal itu yang membuat kita harus waspada," kata dia.

Berdasarkan catatan itu, gelombang ke-3 diprediksa akan terjadi mulai akhir tahun atau bertepatan dengan periode liburan. Akan tetapi dokter Erlina optimis bila prokes dipatuhi dengan penuh kedaran, maka gelombang ke-3 pandemi tidak akan terjadi di Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Udayana Bali Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika membenarkan adanya potensi gelombang ke-3. Secara gamblang dia menyebut periode Desember hingga Februari nanti diprediksi akan ada lonjakan kasus.

"Pola patern-nya prediksi kalau letupan kasus itu Desember, Januari, Februari. Tetapi karena kita sudah vaksinasi mestinya tekanan pada RS tidak seperti kemarin, kasus meninggal juga harus bisa berkurang," ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa gelombang pada kasus covid-19 sebenarnya terjadi secara alami. Pada akhirnya manusia akan hidup berdampingan dengan virus itu sendiri seperti infuenza dan lainnya. Sehingga polanya memang musiman.

Seperti sebelumnya terjadi peningkatan kasus pada pertengahan tahun dan akhir/awal tahun, maka pola penulrannya ke depan akan seperti itu.

Yang perlu dilakukan adalah mewaspadai agar gelombang ke-3 tidak seburuk gelombang sebelumnya. Artinya pasien dengan gejala berat dan kasus meninggal bisa dikendalikan.

"Gelombang ke-3 pasti akan terjadi hanya saja pola dunia. Memang letupan kasus terjadi, negara-negara vaksinasi 60% tapi kasus masih terjadi. Ya, mereka sudah bebas tanpa prokes lagi, mereka berkumpul nonton bola, tetapi kemudian jumlah orang yang masuk RS rendah, juga jumlah orang yang meninggal sangat rendah," jelasnya.

Lantas, dokter Mahardika mengaskan bahwa penyebaran kasus di kominitas sulit dihindari. Akan tetapi bila cakupan vaksinasi sudah mencapai 70% atau bahkan hingga 100% maka gelombang ke-3 tidak banyak berdampak pada jumlah pasien di RS dan juga korban jiwa.

Sumber: mediaindonesia.con