Hetanews.com - Pelucutan senjata nuklir dunia merupakan pembahasan yang terus ditekankan oleh para pemimpin dunia, termasuk oleh Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi.

Dalam Rapat Paripurna Tingkat Tinggi pada Hari Penghapusan Senjata Nuklir Internasional, Senin (27/9), Menlu Retno menegaskan meskipun dunia tengah berjibaku dengan pandemi, bukan berarti dunia bisa lupa dengan isu-isu nuklir.

“Upaya untuk mendorong isu nuclear disarmament ini bahkan sebenarnya sudah dilakukan sejak sebelum COVID-19. Dan kita berpandangan bahwa COVID-19 tidak boleh membiarkan masyarakat internasional kehilangan fokus pada isu yang amat penting ini,” papar Menlu Retno dalam konferensi pers virtual, Rabu (29/8).

Pertemuan tingkat tinggi ini diselenggarakan di New York. Penyelenggaraan rapat tahunan ini dimandatkan oleh Majelis Umum PBB.

Dalam pertemuan tersebut, Menlu Retno menyampaikan serangkaian hal mengenai ancaman nuklir dunia. Saat ini, masih ada 13.000 senjata nuklir yang mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Baginya, dunia tidak akan merasa aman hingga seluruh senjata nuklir tersebut dimusnahkan.

“Di dalam pertemuan, saya menekankan dua pesan utama, yaitu pertama, Traktat Non-proliferasi harus senantiasa ditegakkan. Seluruh negara harus menjalankan komitmennya terhadap traktat ini,” tegas Menlu Retno.

Traktat Non-proliferasi atau Non-proliferation Treaty (NPT) adalah perjanjian internasional yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir serta teknologinya.

Hal ini demi mendorong kerja sama dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai, hingga mencapai pelucutan senjata nuklir secara total.

Menlu Retno menegaskan, perlombaan senjata nuklir serta proyeksi kekuatan harus dihentikan, sehingga integritas dan kredibilitas NPT tidak tergores.

Selain itu, potensi senjata ini jatuh kepada pihak-pihak non-state actors (NSA) dilihat sebagai landasan untuk mempercepat proses pelucutan senjata nuklir. Jika senjata nuklir jatuh ke tangan NSA atau individu non-negara, maka konsekuensinya akan buruk.

“Hal kedua yang saya sampaikan adalah mengenai pentingnya memperkuat arsitektur pelucutan senjata nuklir. Pemberlakuan Treaty for the Prohibition of Nuclear Weapons (Traktat Pelarangan Senjata Nuklir) tahun ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Menlu Retno turut menegaskan bahwa tidak akan ada manfaat dari keberadaan senjata nuklir di dunia.

“Pemusnahan senjata nuklir adalah satu-satunya cara untuk melindungi penghuni dan masa depan bumi ini,” pungkasnya.

sumber: kumparan.com