WASHINGTON DC, HETANEWS.com - CEO dan Ketua Pfizer Albert Bourla mengatakan akan ada kehidupan normal kembali dalam setahun, dan menambahkan kemungkinan suntikan vaksinasi Covid-19 tahunan akan diperlukan.

“Dalam setahun, saya pikir kita akan dapat kembali ke kehidupan normal,” kata Bourla dalam sebuah wawancara di “This Week” ABC pada Minggu (26/9/2021).

Adapun untuk bisa kembali ke kehidupan normal dia menyampaikan beberapa peringatan.

“Saya tidak berpikir bahwa ini berarti varian tidak akan terus datang, dan saya tidak berpikir bahwa ini berarti bahwa kita dapat menjalani hidup kita tanpa vaksinasi, ” kata Bourla.

"Tapi itu, sekali lagi, masih harus dilihat (kedepannya)." Prediksi Bourla tentang kapan kehidupan normal akan dilanjutkan sesuai dengan prediksi CEO Moderna Stephane Bancel.

"Mulai hari ini, dalam satu tahun (kedepan), saya berasumsi (hidup normal)," kata Bancel kepada surat kabar Swiss Neue Zuercher Zeitung, menurut Reuters pada Kamis (23/9/2021), ketika ditanya perkiraannya untuk kembali ke kehidupan normal.

Untuk mewujudkan kehidupan normal itu, Bourla dari Pfizer menyarankan kemungkinan suntikan vaksin Covid-19 tahunan akan diperlukan.

“Skenario yang paling mungkin bagi saya adalah, karena virus ini menyebar ke seluruh dunia, dia akan terus melihat varian baru muncul,” kata Bourla.

Ketahanan vaksin dalam tubuh menurutnya akan bertahan setidaknya satu tahun. Jadi skenario yang paling mungkin menurutnya adalah vaksinasi tahunan.

“Tetapi kami tidak tahu persis (vaksin tahunan), kami harus menunggu dan melihat datanya.”

Pada Jumat (24/9/2021), kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Dr Rochelle Walensky mengizinkan distribusi suntikan penguat Covid-19 Pfizer dan BioNTech.

Itu hanya khusus untuk mereka yang berada di lingkungan kerja, dan institusi berisiko tinggi, sesuai dengan saran panel penasihat.

Walensky menyetujui mendistribusikan suntikan booster ke orang Amerika Serikat (AS) yang lebih tua, dan orang dewasa dengan kondisi medis bawaan, setidaknya enam bulan setelah rangkaian suntikan pertama mereka, sesuai dengan panel penasihat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menentang peluncuran suntikan booster secara luas. Sebab negara-negara kaya dinilai harus memberikan dosis berlebih ke negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang minim terlebih dulu.

Bourla mengatakan pada Minggu (26/9/2021) bahwa "tidak tepat untuk memutuskan apakah Anda akan menyetujui atau tidak booster" pada kriteria lain, selain "jika booster diperlukan."

Pada Selasa (21/9/2021), Tom Frieden, mantan kepala CDC, mengkritik Moderna dan Pfizer karena tidak membagikan kekayaan intelektual vaksinasi secara lebih luas, untuk membantu mempercepat tingkat vaksinasi global.

“Sementara berfokus pada penjualan vaksin mahal ke negara-negara kaya, Moderna dan Pfizer hampir tidak melakukan apa pun untuk menutup kesenjangan global dalam pasokan vaksin. Memalukan," kata Frieden di Twitter.

Bourla dari Pfizer mengeklaim pengabaian kekayaan intelektual bukan ide yang baik.

“Kekayaan intelektuallah yang menciptakan sektor ilmu sains berkembang pesat dan siap ketika pandemi melanda,” kata Bourla melansir CNBC.

Tanpa hak kekayaan intelektual menurutnya saat ini dunia tidak akan membahas vaksin untuk Covid-19.

“Juga, kami sangat bangga dengan apa yang telah kami lakukan. Saya tidak tahu mengapa (Frieden) menggunakan kata-kata ini. Kami sangat bangga. Kami telah menyelamatkan jutaan nyawa.”

Menurutnya, Pfizer menjual vaksin dengan harga berbeda ke negara-negara menurut tingkat kekayaan yang berbeda. Negara-negara berkembang membeli vaksin sesuai harga dari Pfizer.

Bourla menyebut fakta bahwa Pfizer menjual satu miliar dosis vaksin kepada pemerintah AS dengan harga normal. Pemerintah AS kemudian menyumbangkan dosis vaksin itu “tanpa biaya, sepenuhnya gratis, ke negara-negara termiskin di dunia,” katanya.

Sumber: kompas.com