HETANEWS.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran tatap muka (PTM) yang telah berlangsung di wilayah PPKM Level 1-3 sejak sebulan lalu.

Saat ini kasus COVID-19 secara nasional memang telah melandai. Akan tetapi pembukaan kembali sekolah tentu bisa menimbulkan risiko terjadinya penularan kasus.

Untuk itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan strategi baru yang akan diambil sebagai langkah pemantauan.

Menurut Budi, strategi ini dinamakan active case finding yaitu pemerintah yang akan secara aktif menjaring kasus-kasus corona. Hal ini diambil sebab kini kasus telah melandai dan ini juga telah diterapkan di China.

"Yang tadinya surveilansnya passive case finding menjadi active case finding karena sudah sedikit kita yang keluar mengejar bola kita yang aktif mencari. Bukan kita yang menunggu kalau ada yang panas, bergejala," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (27/9).

Kemenkes akan melakukan pengetesan dengan sistem sampling sebesar 10 persen di sekolah-sekolah pada tingkat kabupaten/kota yang menjalani PTM. Tingkat kabupaten dipilih lantaran penyebaran virus terjadi pada level terkecil.

"Jadi wilayah epidemiologi per kecamatan harus dimonitor dengan ketat dari sisi surveilans ambil 30 siswa dan 3 pengajar per sekolah itu semua di swab PCR dengan metode pool testing," ungkapnya.

Presiden Jokowi tinjau vaksinasi pelajar di Lampung. Foto: Agus Suparto/Presidential Palace

Dari data yang dipaparkan, pengetesan ini akan diselenggarakan oleh Kemendikbudristek dan juga Kemenag secara pooled maupun individual. Total terdapat 520.753 sekolah, 68.593.640 peserta didik, dan 5.237.537 pendidik dan tenaga kependidikan.

Biaya yang dikeluarkan untuk tes individual sebesar 515,5 miliar dan 154,6 miliar untuk pooled per bulan. Biaya tes individual sebesar Rp 300 ribu dan biaya untuk pooled-test sebesar 30% dari biaya tes individual.

"Ini biaya sudah kita hitung. 520 ribu sekolah ada 68 juta peserta didik, 73 juta orang kita lakukan testing 1,7 juta per bulan atau sekitar 30 ribu per hari. Make sense. Biayanya juga make sense," jelas Budi.

Suasana pembelajaran tatap muka (PTM) di SMK PGRI 3 Denpasar, Bali, Selasa (21/9). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Hasil tes kemudian akan menjadi bahan evaluasi. Jika positivity rate di bawah 1%, maka hanya kontak erat saja yang akan diisolasi dan kegiatan PTM tetap berlangsung. Kemudian jika mencapai 1-5%, maka semua rombongan belajar akan dites.

"Kalau di atas 5% kita tes seluruh sekolah karena ada kemungkinan menyebar. Sekolahnya online dulu 14 hari sambil kita bersihkan, protokol kesehatan di-review, kemudian 14 hari kita masukkan lagi," jelasnya.

Dengan begitu, maka walaupun terdapat kasus yang ditemukan, namun sekolah dapat terus berjalan mengikuti dengan posivitity rate yang didapat.

"Kalau outbreak di sana, ya, kita kunci satu sekolah. Enggak usah semua sekolah ditutup. Sekolah yang protokol kesehatan bagus enggak ditutup," pungkas Budi.

Sumber: kumparan.com