Jakarta, hetanews.com - Joy Tobing dIkenal sebagai penyanyi berbakat Tanah Air. Perempuan bernama lengkap Joy Destiny Tiurma Tobing itu adalah pemenang Indonesian Idol musim pertama tahun 2004.

Saat itu di babak final, Joy mengalahkan Delon Thamrin. Setelah menjuarai Indonesian Idol, Joy Tobing sempat merilis album debut Idol-nya Terima Kasih dengan single kemenangan "Karena Cinta" yang diciptakan penyanyi Glenn Fredly.

Lagu ini menjadi salah satu hits tersukses di Indonesia pada tahun 2005.

Namanya pun semakin melejit di dunia industri musik Indonesia.

Ia juga pernah berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi top Indonesia yang lainnya seperti Judika, Iwan Fals, Glenn Fredly, Sheila Majid, Christine Panjaitan, Victor Hutabarat dan lain lain.

Joy Tobing juga pernah tampil pada Opening Ceremony Pesta Olahraga Asia Tenggara atau SEA Games tahun 2011 di Palembang, Sumatera Selatan.

Ia membawakan lagu "Together We Can Rise" yang merupakan lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dirilis di album thema SEA Games 2011.

Sebelum menjuarai Indonesian Idol musim pertama, Joy Tobing juga pernah menjuarai Cipta Pesona Bintang RCTI tahun 1994. Ia juga juara Bintang Radio Tingkat Nasional pada tahun 1995.

Tidak puas tingkat nasional, Joy juga mengikuti perlombaan adu vokal di tingkat International. Di antaranya ia menjuarai Laser Pioneer Festival di Jepang dan China tahun 1995 dan 1996.

Kemudian juara pertama di World Grand Prix Vocal Festival di Singapore tahun 2001. Setelah banyak menjuarai festival vokal, ia pun merilis beberapa album pop Batak.

Karier rekamannya di kancah musik Batak dimulai pada tahun 2000. Selain sukses di industri musik pop Batak, ia juga merilis beberapa lagu rohani Kristen.

Karier musik Joy semakin melejit sukses di Indonesia. Perempuan kelahiran Jakarta 20 Maret 1980 ini juga juara Golden Memories Asia pada tahun 2019.

Program Golden Memories Asia, merupakan ajang menyanyi tingkat Asia yang pesertanya dikhususkan membawakan lagu bertema "tembang kenangan" di era musik 1970'an sampai 2000'an.

Saat itu, Joy bersama Lucky Octavian, Shelley Gomes, dan Vanda Gomes mewakili Indonesia dalam ajang menyanyi Golden Memories Asia yang tayang di Indosiar.

Di ajang tersebut, Joy harus bersaing dengan 23 peserta dari negara Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, dan Timor Leste.

Di babak Grand Final, Joy Tobing berhasil menjadi juara pertama. Kemudian disusul Lucky Octavian pada posisi ke dua, dan Eranzz Lambert dari Malaysia pada posisi ketiga.

  • Biodata Joy Tobing:

Nama lengkap: Joy Destiny Tiurma Tobing.

Lahir: Jakarta, 20 Maret 1980 (kini berusia 41 tahun).

Pasangan: Daniel Sinambela (menikah 2010 dan bercerai 2013), Cahyo Permono ( menikah 2021).

Anak: Joshua Miracle Hati Goran Bonagabe Sinambela ( lahir pada 7 Februari 2011).

Adik:  Jelita Tobing dan Jeffry Tobing.

Orangtua: Jamarudut ML Tobing (ayah) dan Roma Sibuea (ibu). 

Kolonel CPN Cahyo Permono
Kolonel CPN Cahyo Permono (Instagram @yoxforchrist)
  • Setelah 8 Tahun Single Parent, Menikah dengan dengan Cahyo Permono

Kini, Joy Tobing resmi melepas status jandanya dan menikah dengan sang kekasih, Cahyo Permono.  Keduanya melakukan pemberkatan pernikahan di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Sabtu (25/9/2021). 

Usai pemberkatan pernikahan, Joy dan suami pun mengucapkan syukur atas pernikahan tersebut.

"Kami berdua mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Kami sudah menjadi pasangan suami istri. Yang tadinya dua sekarang sudah menjadi satu," kata Joy Tobing, Sabtu (25/9/2021).

Ia pun takjub melihat acara pernikahannya dengan sang suami bisa berjalan dengan lancar.

"Takjub juga dengan apa yang direncanakan dalam pernikahan kami. Engga kebayang pernikahan dibuat dengan dekorasi yang sangat indah, make up. Aduh semuanya enggak kebayang Aku seperti kayak Putri," ujar Joy. 

  • Potret Joy dan Cahyo

#1 Joy Tobing bersandar di bahu Cahyo Permono.

Joy Tobing dan Kolonel Cahyo Permono
Joy Tobing dan Cahyo Permono (instagram.com/@yoxforchrist)
Potret Joy dan Cahyo
Joy dan Cahyo (instagram.com/@yoxforchrist)
Joy dan Cahyo Permono
Joy Tobing dan Cahyo Permono (instagram.com/joydestinytobing)
Pernikahan Joy Tobing dan Kolonel Cahyo Permono
Joy Tobing dan Cahyo Permono menunjukkan cincin di jari manisnya. 
  • Kisah Pertemuan

Wanita 41 tahun itu mengakui bertemu pertama kami dengan sang suami pada April 2021.

"Tiga hari kemudian Bang Cahyo mengajak saya untuk berumah tangga. Tapi sebelumnya kami berdua sudah menjalani kehidupan sebagai single parents selama 8 tahun. Kami sama sama berdoa sama Tuhan untuk meminta pasangan hidup yang Tuhan kehendaki," katanya.

Ia mengaku tak pernah membayangkan akan menikah tahun 2021 ini.

"Kami sama-sama meyakini Tuhan yang sudah mengatur dan merencanakan. Jadi tidak perlu lama-lama langsung dapat chemistry-nya karena Tuhan sudah meletakkan dalam hati kami. Itulah yang membuat kami sepakat untuk menikah," pungkas Joy.

Kolonel Cpn Cahyo Permono saat mendampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto 2018 lalu.
Kolonel Cpn Cahyo Permono saat mendampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto 2018 lalu. (Instagram @yoxforchrist)
  • Sosok Cahyo Permono

Cahyo Permono, adalah seorang perwira TNI yang pada saat ini berpangkat Kolonel. Di akun Instagramnnya @yoxforchrist, Kolonel Cpn Cahyo Permono tampak membagikan kebersamaannya dengan Joy Tobing.

Dilansir Tribunnews, pada 2018 lalu, Kolonel Cpn Cahyo Permono saat menjabat Komandan Skadron-11/Serbu dengan pangkat Letnan Kolonel (Letkol), ia menjelaskan secara rinci kecanggihan Helikopter Apache AH-64.

Waktu itu deretan Helikopter Apache AH-64 milik TNI Angkatan Darat (TNI-AD) yang terparkir di hanggar Skadron-11/Serbu, Pusat Pendidikan Penerbangan Angkatan Darat (Pusdik Penerbad), Semarang, Jawa Tengah.

Ada delapan Helikopter Apache AH-64 milik TNI Angkatan Darat (TNI-AD) merupakan heli tercanggih di dunia itu. Untuk mengoperasikan helikopter Apache dibutuhkan dua orang awak pemudi.

Karena kecanggihan alat transportasi udara itu membuat seorang pilot harus menempuh pendidikan yang cukup lama.  TNI AD saat itu mengirim 20 penerbang terbaiknya ke Amerika dan dilatih di US Army Flight School, lalu menjalani masa pendidikan sekitar 8-10 bulan.

Dengan jumlah heli yang dimiliki Indonesia sebanyak delapan unit, maka dibutuhkan 16 pilot untuk mengawaki kendaraan tersebut. Cahyo Permono menjabat Komandan Skadron-11/Serbu pada 2018 hingga 2019.

sumber: tribunnews.com