SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Jonni Harefa (53), Jater Purba (55), Robensius Sinaga (35), Billem Sinaga (61), Juliaker Saragih (59) dan Doli Marthin Saragih (22), masing masing dihukum 6 bulan penjara potong tahanan sementara yang telah dijalani. Para terdakwa merasa puas karena hukumannya di discount 50 persen dari tuntutan jaksa.

Sebelumnya, jaksa Firmansyah SH dari Kejari Simalungun menuntut pidana penjara selama 12 bulan alis 1 tahun penjara. Putusan hakim dipimpin Nurnaningsih SH dibacakan dalam persidangan terbuka untuk umum di Pengadilan Negeri Simalungun yang digelar secara virtual, Kamis (23/9).

Para terdakwa dinyatakan bersalah melanggar pasal 170 (1) dan (2) ke-1 KUH Pidana. Faktanya, perbuatan itu dilakukan para terdakwa secara bersama-sama di halaman rumah saksi korban Nureini Saragih pada Selasa 29 Desember 2020 pukul 18.30 WIB.           

Saat itu saksi korban sedang melakukan ibadah sholat magrib di lantai dua rumahnya. Setelah mendengar suara ribut ribut "bakar bakar" dan suara lemparan ke arah rumahnya, korban keluar dan berdiri di teras lantai 2 rumahnya sambil bertanya kenapa rumahnya dilempari.           

Ketika itu lemparan batu mengenai kepala korban dan jari kanan serta lengan kanan korban hingga luka dan mengeluarkan darah. Korban berusaha menelpon Kapolsek tapi tidak diangkat. Ironis, saat korban menelpon pangulu Nagori Silou Panribuan Julham Effendi Saragih dan memberitahukan rumahnya diserang warga, juga dimatikan Pangulu. 

Tak putus asa, korban menelepon abangnya Sarman Saragih dan Bahrudin Saragih datang berusaha menenangkan warga.

"Jangan main lempar, karena warga hanya berani pada wanita. Warga sekitar 20 an orang diprovokasi oleh para terdakwa yang rumahnya berada di belakang rumah korban," kata saksi Sarman Saragih.             

Tindakan anarkis itu dilakukan para terdakwa bermula dari tindakan korban yang telah menutup jalan di samping rumahnya. Sehingga para terdakwa yang rumahnya berada di belakang rumah korban merasa terganggu untuk keluar masuk dari jalan tersebut.            

Padahal jalan disamping rumah korban masih milik korban dan bukanlah satu satunya jalan menuju rumah para terdakwa. Tidak terima akan hal itu, para terdakwa sepakat melempari rumah korban dan bertindak anarkis.           

Akibat perbuatan para terdakwa, korban mengalami luka robek pada bagian kepala akibat lembaran batu, sesuai Visum No. 877/VER/Pusk-ND/XII/2020 yang dibuat dan ditantangani oleh dr Bima Barus Kapuskesmas Negeri Dolok tanggal 30 Desember 2020.

Baca juga: Putusan Hakim: Ferry Sinamo Bayar Rp 1,6 Miliar, Berlaku Sita Jaminan