MEDAN, HETANEWS.com - Aksi premanisme di Kota Medan dan sekitarnya semakin meresahkan. Selain melakukan pungutan liar kepada pedagang, para preman juga memeras warga yang sedang merenovasi rumah.

Bahkan, para preman ini tak segan menyampaikan bahwa mereka tidak takut dengan polisi. Berikut ini sejumlah aksi premanisme yang viral dan diberitakan Kompas.com:

1. Preman tak takut polisi

Dua pemuda ini memaksa pedagang tersebut untuk memberikan sejumlah uang.

"Mau bayar enggak, kalau enggak enggak usah jualan di sini. Mau kau laporin polisi pakai video itu enggak takut kami. Kami resmi. Mau video, enggak takut kami," ujar pelaku.

"Kau mau ngadu gitu, ngadu ke polisi. Kami tak sebodoh kau, tahu kau. Saya dari Pemuda Pancasila. Pungli enggak kalau kami surat ada. Surat aku ada," ucap seorang pelaku.

Adapun pedagang yang diperas tersebut kemudian mencoba meminta bantuan saat merekam video itu.

"Ini dari Pemuda Pancasila masak tukang ngutip-ngutip. Kami rakyat yang mencari rezeki. Kek ini. Cuma nyari Rp 1.000, Rp 2.000, dia tinggal minta, Pak. Tengok ni, ini orangnya ya, Pak. Tolong dibereskan ini, Pak," ujar perekam.

2. Pedagang durian diperas

Aksi premanisme juga terjadi di tempat usaha/kedai durian di Jalan Sei Batanghari, Kecamatan Medan Sunggal. Dua pria yang mengendarai sepeda motor itu mengaku dari sebuah organisasi kepemudaan. Mereka meminta jatah duriah untuk dimakan sambil minum tuak.

"Mereka seringnya minta jatah buah. Dalam sehari bisa dua sampai tiga kali. Lain-lain orangnya, alasan mereka mau campur tuak. Mau minum di Komplek Tomang sana," ujar pemilik durian dikutip dari Tribun Medan.

3. Peras warga yang merenovasi rumah

Aksi premanisme kembali terjadi di Medan, kali ini menimpa warga di Jalan Selam Simpang Gabus, Kecamatan Medan Area, Medan. Tiga orang pria meminta uang dengan memaksa pemilik rumah yang sedang merenovasi rumahnya. 

Personel Polsek Medan Area bergerak cepat menangkap tiga pelaku.  Polisi kemudian memanggil pemilik rumah untuk datang ke kantor polisi. Saat di kantor polisi, para pelaku meminta maaf kepada korban dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Polisi minta korban membuat laporan

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi mengatakan, dalam hal memberantas premanisme, kepolisian di Sumut dari berbagai tingkatan sudah melakukan banyak upaya.

Banyak pelaku premanisme yang kemudian ditahan setelah dilakukan pemberantasan oleh Reskrimum bersama polres, polsek, dan jajaran.

"Kalau terkait fenomena yang sekarang, saya menyarankan korbannya buat laporan. Jadi jangan diam dengan aksi itu," kata Hadi, saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (19/9/2021),.

Hadi menambahkan, selain upaya yang selama ini dilakukan polisi, masyarakat dapat berperan aktif dengan membuat laporan jika merasa dirugikan, terancam, apalagi jika ada unsur penganiayaan.

"Memang ada restorative justice system, mengedepankan keadilan. Tapi bila korbannya merasa dirugikan kemudian terancam dan lain sebagainya, proses hukum tetap berlanjut apalagi kalau ada unsur penganiaya," ujarnya.

Hadi mengatakan, selama ini untuk patroli keamanan sudah di bagi per wilayah. Polda Sumut dengan lingkup area se-Sumut.

Karena posisinya berada di ibu kota provinsi, maka patroli di Kota Medan ter-cover semuanya baik yang dilakukan oleh Sat Sabhara maupun Sat Brimob, ditambah lagi dengan adanya patroli yustisi.

"Tapi yang namanya kejahatan kan menunggu waktu yang tepat, situasi sudah sepi dan lain sebagainya. Yang jelas patroli tetap dilakukan," katanya. 

Masyarakat juga bisa menggunakan panggilan 110. Layanan ini sudah banyak digunakan oleh siapa pun yang merasa ada atau mengalami tindak pidana. Baik polda, polres dan polsek akan merespons dengan cepat pengaduan dari layanan tersebut.

"Kasus pencurian toko emas di Simpang Limun kemarin itu ada warga yang kontak ke 110 sehingga respons cepat diketahui pimpinan, olah TKP krimum cepat dilakukan di situ. Dan yang kemarin diingatkan lagi penggunaan CCTV, penting sekali itu," kata dia. 

Sumber: kompas.com