Medan, hetanews.com - Kondisi juru parkir bernama Julius Simanungkalit alias Erwin, korban penembakan perampokan emas di Pasar Simpang Limun Medan sudah berangsur membaik. Namun demikian, Erwin belum kembali beraktivitas mencari nafkah bekerja sebagai jukir, karena masih dalam kondisi pemulihan.

Erwin bersama keluarganya untuk sementara waktu mengungsi di rumah tetangganya. Ia mengosongkan rumahnya karena bantuan renovasi "bedah rumah" dari seorang pengusaha di Medan hingga kini belum terealisasi.

Di rumah tetangganya Jalan M Nawi Harahap Medan, Erwin tampak terbaring di kasur di ruang tamu rumah.

"Kondisi saya kurang enak, ini badan gatal-gatal sudah seminggu, kalau luka (tembak) sudah baik, tapi masih sakit leher saya kalau nelan makanan," kata Erwin.

Erwin mengaku, setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, ia diperbolehkan pulang pada tanggal 1 September. Namun begitu pulang, korban tidak langsung ke rumahnya.

"Tapi katanya hari itu mau direhab, mau direnovasi," ucapnya.

Ia bersama keluarganya memilih untuk mengungsi di rumah tetangganya, sedangkan rumahnya dikosongkan karena akan ada renovasi dari pengusaha yang berempati dengannya.

"Kami dikasih numpang sama yang punya rumah sampai satu bulan, tanggal 1 Oktober ini habis," kata Erwin.

Setelah dua Minggu lebih sejak dijanjikan rumah berbahan semi permanen miliknya akan diperbaiki, hingga detik ini, rumahnya tidak ada tanda-tanda akan diperbaiki.

"Terakhir komunikasi seminggu yang lewat, dijawabnya nantilah datang, lagi mengusahakan barang barang sama tukang," katanya.

Ia mengaku, ada sejumlah pria yang mengaku datang untuk melihatnya. "Setelah itu tak ada datang datang lagi

Kendati demikian, Erwin tetap yakin janji pengusaha untuk membedah rumahnya akan terwujud.

"Kalau sampai tanggal 1 (Oktober) ini gak juga, ya sayalah yang memperbaiki sendiri," imbuhnya.

"Biaya sehari hari dari uang parkir (sebelumnya), ya semoga saya cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi," katanya.

  • Hari Penembakan Perampok Emas

Pada Kamis, 26 Agustus 2021 sekitar pukul 14.30 WIB, menjadi hari yang tak terlupakan baginya. Erwin menceritakan, suasana saat itu di Pasar Tradisional Simpang Limun, terbilang sepi.

"Cuaca cerah, tapi agak sepi," katanya.

Sayup-sayup dia dengar suara teriakan "rampok-rampok" dari dalam pasar. Awalnya, jukir ini tidak terlalu menghiraukannya. Jarak dari lokasi parkir ke dalam pasar sekitar 50 meter

"Gak openlah, gak mungkin kita tinggali parkir," kata Erwin.

Selang lima menit kemudian, suara letusan senjata api terdengar. Erwin lalu melihat empat pelaku berjalan keluar menghampirinya. "Mereka jalan santai, tiga membawa senjata, satu tidak," ucapnya.

Suasana pasar yang sepi semenjak pandemi Covid-19, membuat keempat perampok ini leluasa melenggang meninggalkan lokasi. "Karena sepinya becak pun gak ada lewat, kalau lewat kan agak terhalang," kata Erwin.

Setelah 10 meter melaluinya, Erwin mendengar suara teriakan "rampok-rampok", lima pria melakukan pengejaran. Erwin pun ikut mengejar.

"Itulah reflek kami kejarlah, ada lima orang. Kami ambil apa yang ada di sekitar, dapatlah kotak tahu, kulemparlah pakai kotak tahu, dia udah didekat keretanya ditembaknya, jaraknya sekitar 10 meter," katanya.

Ia jatuh terkapar akibat terkena tembakan lalu dilarikan oleh teman temannya ke rumah sakit.

Diberitakan, perampokan dua toko emas nekat beraksi di 'siang bolong'. Para pelaku sebelumnya sudah mengintimmidasi dua orang sekuriti dengan senjata api laras panjang dan pendek. Selanjutnya, dalam waktu tak sampai 5 menit pelaku mendatangi dua toko emas dan mengancam karyawan toko.

Sesaat kemudian pelaku memecahkan kaca di toko tersebut lalu melarikan emas yang ada. Setelah melakukan penyelidikan, polisi akhirnya menangkap lima orang diduga pelaku perampokan toko emas di Pasar Simpang Limun, Medan.

Satu pelaku ditembak mati karena melakukan perlawanan. Kelima pelaku adalah Hendrik Tampubolon, Paul Sitorus, Farel, Prayogi alias Bejo, dan Dian.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak mengatakan, aksi perampokan diduga direncanakan dengan matang oleh Hendrik Tampubolon yang ditembak mati.

"Hendrik Tampubolon (HT) merupakan otak pelaku. Saat dilakukan rekonstruksi di salah satu lokasi di Batangkuis melakukan perlawanan, sehingga ditembak dan tewas," kata Panca, Rabu (15/9/2021).

Tiga pelaku adalah orang yang dipertemukan melalui perantara pelaku Dian. Hendrik disebut menyediakan senjata api. Dari situ, Hendrik merekrut Paul, Farel dan Prayogi, melalui Dian.

"Satu senjata laras panjang dibeli secara ilegal dan dua lainnya pistol rakitan. Ide berasal dari HT," ujarnya.

Panca menjelaskan, pelaku lalu membawa emas hasil rampokan menuju Jalan Balai Desa, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang. Keempat pelaku kemudian menyerahkan emas ke Hendrik.

"Ternyata lokasi itu adalah tempat biasa HT ini memancing. Di situ mereka membuka pakaian dan membuka handsaplash yang sengaja dipakai untuk menutup sidik jari," katanya.

Sebelum berpisah, Farrel, Paul, Prayogi alias Bejo diberi Rp 4 juta oleh Hendrik. Di lokasi itu juga mereka membubarkan diri dan berpisah.

"Hendrik yang membawa emas tersebut, mereka pisah. Tiga orang keluar dari tempat itu," pungkasnya.

sumber: suara.com