SIANTAR, HETANEWS.com - Pandemi Covid 19 ini menjadi dampak yang sangat besar bagi semua orang. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan terpaksa mencari pekerjaan lain.

Sama seperti seorang bapak mantan pekerja serabutan pengangkat alat musik Batak yang juga terkena dampak pandemi ini. Dengan wajah lesu, matanya yang sayu dan merah, ia mengenakan kaos maron, celana pendek, memakai masker dan sendal jepit yang duduk di taman jalan ia sedang menjajakan tissue-tissue dan air mineralnya yang ia beli di grosir dengan menebarkannya di bahu jalan dan menunggu pembeli.

Ia adalah P. Siallagan yang tinggal di Jalan Tomuan Kota Siantar, demi menghidupi dirinya sendiri ia setiap hari harus bangun pagi, membawa tissue dan air mineral dalam kantong plastik besar serta membawa tas ransel yang sudah koyak dan tidak layak pakai, ia naik angkot ke Jalan Kapten M.H. Sitorus, yang merupakan tempat ia membuka lapak untuk menjajakan tissue-tissue dan air mineralnya.

Sebelum diberlakukannya PPKM di Kota Siantar ia berjualan di Taman Bunga Kota Siantar, akibat akses jalan menuju taman bunga ditutup sehingga pembeli di Taman Bunga sepi akhirnya ia pindah ke Jalan M.H. Sitorus. Ia berjualan dari pukul 09:00 sampai pukul 15:30.

Ditengah masa pandemi saat ini disaat orang lain memilih untuk menganggur dan berleha-leha dirumah, di usianya yang sudah tidak muda lagi ia malah memilih untuk tetap bekerja selagi pekerjaannya itu halal dan tidak meminta-minta. Dengan pantang menyerah dan kerja keras ia tetap menjual tissue dan air mineral. 

Banyak hambatan dan resiko yang harus dihadapi dalam pekerjaannya tersebut. Apalagi melihat posisi tempat ia berjualan bukanlah tempat yang strategis yaitu di bahu jalan, ia harus terkena polusi dari kendaraan, nyawanya terancam akan kecelakaan, dan dengan situasi pandemi saat ini ia terancam terkena Covid.

Tak hanya itu ia juga harus berhadapan dengan cuaca yang kadang tidak mendukung untuk ia berjualan, tidak ada payung ataupun tenda yang melindunginya dari terik matahari ataupun guyuran air hujan. Jika hujan sudah mengguyur bumi ia akan lari ke pos sekolah dekat ia berjualan. Namun terkadang jika tiba-tiba hujan datang dan tak sempat merapikan jualannya, ia akan membiarkan jualannya diguyur hujan.

Meski ia telah berpindah lokasi untuk berjualan, tetap saja penghasilan yang ia dapat dari berdagang kadang tidak menentu, kadang Rp. 70.000, Rp.30.000 dan bahkan tidak mendapat sepeserpun. Karena ia belum mendapat penghasilan sampai siang ini, ia hanya mengenyangkan perutnya dengan sebungkus wafer coklat. 

“ Ya kadang dapat Rp.70.000, kadang Rp.30.000, bahkan kadang  gak dapat sepeserpun, tapi aku gak ngeluh, enjoy aja aku, gak ada hari ini ya besok jualan lagi” ujar P. Siallagan saat diwawancarai pada Kamis (16/9/2021) di Jalan M.H. Sitorus pukul 15:00 

Terkait bantuan pemerintah kepadanya, ia hanya satu kali mendapatkan sembako dari Pemerintah dan selebihnya tidak pernah lagi. Namun demikian ia tidak pernah mengeluh atas apapun yang ia kerjakan dan tetap bersyukur atas apa yang ia dapat. Ia juga tidak mengharap apapun dari Pemerintah Kota yang kadang mengecewakan tersebut. Ia hanya berserah kepada Tuhan dan berharap kepada Tuhan saja. 

“Macam mana lah ku bilang tetapnya kayak gini, dulu pernah dapat beras satu kali (bantuan Pemerintah) sekarang gak lagi, gak kuharapkan itu, ya aku hanya berserah kepada Tuhan ajalah, yang penting korona ini cepat lah berlalu”. kata P. Siallagan

Penulis: Gresya Sihombing